Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Lelaki yang Membenci Wewangian

Posting Komentar

"Oh my god! Bau bau bau bau banget." Aku mengembang, lalu mengempis. Demi Tuhan, memang begitulah diriku. Biar semenit pun pokoknya aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melapor. Secepat kilat kukirim pesan ke otak yang sering makan gaji buta itu: woi ini busuk.

Sedetik pesan langsung terkirim. Hermawan hanya merespon dengan melongok ke kanan, kiri, memantulkan hawa mulutnya, mengendus ketiaknya, memeriksa telapak kakinya, terakhir ia menemukan noda berwarna hitam melekat di ujung tumit. Tapi Hermawan yang terlahir dungu malah mencoleknya, menghirup dalam-dalam aromanya, gas-gas penyiksaan itu terserap ke segala syaraf tubuhku.

Ilustrasi oleh Pexels.com

"Gilaa! Kurang ajar kau Hermawan."

Aku mengamuk, kukirim lagi pesan ke otak Hermawan yang tanpa daya upaya berpikir mencuci telapak kaki hina dinanya: Wan, ini bau tahi yang baru saja keluar dari pantat ayam. Ayo cuci kaki.

Dia tidak bergeming. 

"Astaga, Hermawan! Kau mesti mencucinya! Apa aku harus menjadi kaki juga supaya kebodohanmu itu musnah?" Aku geram melihat reaksi lambat si pemilik badan.

Hermawan mengambil koran tergeletak di sampingnya, kemudian menyobek bagian ujungnya, tanpa merasa jijik atau khawatir, ia malah mengelap kotoran amat hati-hati. Kertas itu kemudian ia lemparkan ke kotak sampah di bawah bangku taman. Dia tersenyum. 

Sejak terpasang di wajah Hermawan yang tolol.  Aku merasa tidak berguna. Dia sehari-hari memaksaku menghirup apa pun yang dia inginkan, tapi pesan-pesan yang kukirimkan selalu diabaikan. Kadang-kadang aku ingin berhenti menuruti kehendaknya. Pernah kusumpal saluranku dengan ingus kering agar dia kehabisan napas, tapi dia cerdik, ia memanfaatkan mulutnya buat menyedot udara sebanyak-banyaknya, lalu membuang napas sekuat tenaga melalui saluranku. Setelah berhasil lolos dari maut. Ia pun membalas dendam kepadaku dengan cara sadis, jari-jarinya yang gemuk bergantian meligat ronggaku, mencungkil produk  tubuhku, diubah olehnya menjadi bola-bola yang ia tempelkan ke sembarang tempat. 

Aku berdoa agar aku mati, atau Hermawan yang koit. Siapapun yang binasa dahulu, tetap saja kami akan tewas bersama-sama. Semestinya dia tahu diri, ia bisa tak punya kuping, tak punya lidah, tak punya kaki, tak punya mata, tapi dia tak mungkin bisa hidup tanpaku. Lalu kenapa dia susah diajak berkompromi? Sedangkan para anggota tubuh yang lain,  ia turuti segala kemauannya. Pernah kulihat mata sedang sakit, eh buru-buru lelaki itu beli kacamata. Kuping mengeluh malas mendengar ocehan pacarnya, segera wanita cerewet itu ia putuskan. Atau lidah mengeluh terbakar cabai, eh dia pun makan cokelat. Sedangkan aku? Aku cuma minta dia berhenti mengendus yang tak lazim. Dari aroma busuk tahi ayam, tahi cicak, tahi kucing, nasi basi, amis ketiak, keringat  pantat, dan semua hal-hal yang tidak pantas kusebutkan. 

"Kemarin lavender, melati, udara segar di puncak. Apa lagi ya? Pokoknya banyak deh, Si Tika ini agak anti dengan yang berbau menyengat," ujar Pesek bercerita. Ia mengembang bagai balon, ceria. 

"Enak dong jadi kamu. Hermawan justru suka yang busuk-busuk. Baru kali ini ia menyukai cewek yang wangi."

"Kok ia mau dekat Tika?" timpal Pesek sekenanya. 

Minggu pagi ini, tidak kusangka Hermawan mengajakku berjalan-jalan ke Taman. Biasanya dia seharian hanya mengurungku di kamar, dapur, atau jamban. Tadinya, aku sempat marah, gara-gara dia membaui tahi ayam di kaki. Tapi semenjak kedatangan Tika bersama Pesek, aku jadi terharu pada Hermawan. Akhirnya,  ia mencoba memahami keluhanku. 

Tika berbeda dari cewek yang dekat dengan Hermawan. Aku kenal Arina, ketiaknya bau terasi. Siska, hawanya bau petai. Anis, bau kaos kaki. Dan mantan cerewetnya Jenni, dia yang paling lumayan, ia bau lembab. Lalu Tika? Aku menemukan kesempurnaan aroma di tubuhnya. Bahkan aku menyukai keringatnya, padahal aku selalu mengeluh dengan berbagai jenis bau manusia.

Kukirim pesan pada otak Hermawan: Wan, selain cantik, Tika cewek yang wangi. Jadikan dia pacarmu, kumohon. 

Aku berharap Hermawan menuruti kemauanku. Lagi pula untuk apa dia janjian sama wanita ini kalau bukan untuk menjalin hubungan?

Hermawan membuka mulutnya. Aku gembira, tidak sabar menantikan kalimat yang sebentar lagi dilontarkan pria itu.  Tiada hentinya, aku berterima kasih kepada Tuhan, yang akhirnya menakdirkan kami bekerja sama. Melalui Tika, lelaki ini nantinya akan mengubah pola hidup joroknya yang sering menyiksaku tanpa ampun. 

Alih-alih memuji dan menyatakan perasaannya kepada Tika. Hermawan yang otaknya setumpul parang tak diasah seratus tahun justru berkata bahwa Tika tidak pantas menjadi pacarnya. Ia menemui Tika cuma sekadar menghargai perasaan wanita itu. Yang aku tidak habis pikir, Hermawan dungu meminta perempuan wangi itu untuk tidak menemuinya lagi. 

"Maafkan aku," kataku pada Pesek. Ia mengempis, mengeluarkan sedikit lendir  dari salurannya. 

Semenjak peristiwa hari itu. Aku tidak pernah bertemu si Pesek lagi. Tentu dia merasa kecewa atas penolakan. Hermawan sekarang benar-benar di luar kendali. Dia selalu kontra terhadap permintaanku. Sungguh aku pun tidak habis pikir, kenapa dia tidak mencoba berdamai dengan masa lalunya.

Enam belas tahun yang lalu, Hermawan adalah remaja kelas enam SD yang bahagia. Ia tinggal bersama ibunya, sementara ayahnya telah wafat jauh sebelum ia dilahirkan. Pada saat itu kami berdua masih saling pengertian. Hermawan memahami semua pesan yang kukirimkan padanya. Jika ada benda-benda yang bau, dia pasti menjauh atau menutup hidung kecilnya. Begitu pun saat bertemu orang-orang yang beraroma tak sedap, dia pasti menjaga jarak dari mereka. Inilah tahun-tahun terbaik yang bisa aku kenang. 

Hermawan sangat mencintai ibunya. Dia selalu mengekor kemana wanita itu pergi. Kecuali ke satu tempat, yaitu tempat ibunya bekerja. Anak itu sering bertanya-tanya, kenapa ibunya bekerja dari petang sampai larut malam? Kenapa ibunya pulang selalu membawa aroma yang berbeda-beda?

Akulah yang mengirimkan pesan padanya, tentang keganjilan wangi-wangi yang aku dapati dari ibunya. Kadang jeruk, vanila, cendana, laut, rumput, dan hampir tak dapat dipastikan bebauan apa yang akan kutemukan dari telapak tangannya. 

Kecurigaanku ternyata membuat Hermawan gusar. Ia pun tiada hentinya mempertanyakan kenapa aroma ibunya selalu berbeda? Kenapa aroma itu mengingatkannya pada banyak lelaki yang ia kenal? Perempuan itu pun mengelak. Dia beralasan jika wewangian itu berasal dari parfum yang disemprotkannya ke tubuh. Tapi aku tahu betul. Tidak ada satu pun parfum di kamar ibunya yang baunya seperti itu. Dia hanya punya parfum melati. 

Suatu hari, sebuah mobil sedan berhenti di depan rumahnya. Hermawan mengintip dari balik jendela. Seorang pria berpakain necis turun dari mobil dan langsung memeluk ibunya. Ia kenal lelaki itu. Dia tahu betul siapa yang baru saja ia lihat. Maka semenjak kejadian itu dia membenci ibunya, serta segala jenis wewangian.


Istilah:

Oh my god: Ya Tuhan

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar