Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Makhluk Asing

Posting Komentar

Cairan infus menetes pelan, mengalir ke dalam selang kecil tembus pandang, masuk ke pembuluh darah di tangan kiriku. Aku menahan sensasi nyeri di bawah perutku, sakit, sisa irisan pisau bedah yang tidak dijahit itu membuatku tak tahan tidur lebih dari dua jam. Bau obat di sekeliling ruangan membuatku agak mual. 

Ilustrasi oleh pexels.com


Ibu lelap di bawah ranjangku, tanpa selimut, apalagi bantal, kepalanya mencium lantai keramik yang dialasi kain sarung. Bangsal ini dibagi sekat-sekat yang dibatasi tirai-tirai. Aku ingat, saat baru saja tiba di sini, ada sekitar lima pasien lain yang juga dirawat. Dua diizinkan dokter untuk pulang lantaran sudah dinyatakan sembuh, sisanya di bawa pulang dalam kondisi sebagai jenazah.  Di sini kematian terasa amat dekat, bukan angan-angan atau ancaman yang biasa orang-orang katakan. 

Kini sal ini sunyi sepi. Tirai-tirai yang semula jadi pembatas sudah dilepaskan oleh petugas kebersihan yang mampir sewaktu petang. Kukatakan pada ibu supaya ia meminjam ranjang kosong untuk beristirahat, tapi wanita itu menolak. Katanya, ia berada sini bukan untuk bersenang-senang. Aku kasihan, tidak tega bila terus-terusan melihat ibuku harus menderita karena merawat anak yang tak bisa diandalkan. 

Kuperiksa jam ponselku, angka nol berderet empat. Tengah malam, waktu di mana kehidupan bertukar. Orang hidup menjadi mati, dan orang mati kembali hidup. Atau mungkin berada di antara keduanya, hidup tidak mati pun belum. 

Gemuruh guntur memecah kesunyian. Aku makin sulit terlelap. Berada di gedung lantai tiga membuatku agak cemas. Bisakah guruh meruntuhkan tembok atau bahkan merobohkan gedung? Namun, suara menakutkan itu tidak muncul lagi setelah ledakan dua kali terdengar. Tersisa deru angin dan hujan yang jatuh di atap-atap rumah sakit. 

Seorang pria berpakaian serba putih masuk ke ruangan, membawa beberapa peralatan medis. Sontak ibu bangkit dari tidurnya, ia memberi kesempatan lelaki itu memeriksa infusku. 

"Bagaimana Rif?" tanya perawat itu ramah sembari melepas botol infus, ia mengganti dengan botol lebih kecil berwarna gelap. Setidaknya dari jam empat sore sampai malam ini, ia sudah memasukkan cairan itu sebanyak tujuh kali ke tubuhku. Sayangnya, aku tak merasa ada perubahan sama sekali. 

"Bu, nanti panggil saya di depan kalau infusnya hampir habis." Lelaki itu memberi arahan pada Ibu. Lalu agak terburu-buru berjalan keluar, meminta kami berdua supaya menatap jam dari sebotol obat yang tidak kuketahui manfaatnya.

Hujan barangkali berhenti untuk waktu yang pendek. Sesaat kemudian bunyi riuh air berbenturan, kini berubah menjadi bunyi berisik, jeritan wanita, orang-orang berteriak,  seperti terjadi kegaduhan di luar sana. 

"Ibu dengar itu?" tanyaku penasaran. Bisa saja itu efek samping obat yang masuk ke tubuhku. 

"Iya, ibu dengar, tapi mana mungkin ibu meninggalkan infusmu yang sebentar lagi akan habis," jawab ibu setengah mengantuk. Ada garis hitam cekung di bawah matanya, dia kelihatan kian menua karena hidupnya harus menghidupi anak yang sakit-sakitan.

"Sebaiknya ibu periksa di luar sana, aku takut terjadi sesuatu" pintaku. Perasaanku tidak enak, khawatir telah terjadi sesuatu yang tidak kami ketahui. Jangan-jangan di lobi bawah ada api yang menyala-nyala hingga orang-orang berusaha menyelematkan diri dan berteriak-teriak? Atau mungkin bangunan rumah sakit ambruk akibat petir yang bergemuruh sebelumnya? 

"Ibu mau lapor ke perawat dulu, setelah itu  baru akan ibu periksa." 

***

Sudah lebih dari tiga puluh menit terlewati,  ibu belum juga kembali. Bahkan perawat yang ia panggil pun tidak kunjung datang buat mengganti infusku. Otak di kepalaku bertanya-tanya, pergi kemana ibu? Para perawat? Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?

Kegaduhan itu tidak pernah menghilang. Justru semakin ramai dan kencang. Lalu dari luar sal, aku mendengar ada suara langkah kaki cepat beradu dengan lantai. Seorang perempuan yang sangat kukenal masuk ke dalam kamar. Pakaiannya basah oleh noda berwarna merah, noda yang terendus olehku berbau anyir. 

"Dari mana ibu?" kataku kebingungan. Tapi raut wajah wanita itu lebih kebingungan lagi daripada aku. Sorot matanya menunjukkan kecemasan. Kulihat jari tangan perempuan itu gemetar. 

"Kita harus keluar dari sini, pakailah ini." Ia menyodorkan baju kaus yang ia ambil dari tas tergeletak di lantai. 

"Sebenarnya ada apa bu?" aku bertanya sekali lagi. 

"Kau akan tahu jawabannya. Yang pasti kita tidak bisa lagi berada di sini."

Jarum infus kucabut dengan kasar. Ia pun memapahku menaiki kursi roda. Perasaan panik membuatku terlupa kalau aku belum lama keluar dari ruang operasi. Meskipun aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi, tapi dari raut muka ibu yang ketakutan, jelas membuatku yakin. Ada masalah di rumah sakit ini. 

"Situasi di sini sedang gawat! ibu tidak mengerti apa yang barusan ibu lihat.  Orang-orang bak kerasukan anjing gila, mereka saling menggigit, membunuh, dan memakan tubuh orang yang mereka temui?" cerita ibuku terburu-buru, ia mendorong keretaku cepat-cepat melintasi lorong-lorong rumah sakit.

Kaki tanganku mendadak dingin setelah melihat langsung kondisi di sekeliling. Ada banyak mayat bergelimpangan. Mereka mati dalam keadaan mengenaskan. Beberapa tubuh tampak terpisah dengan kepala, tangan, dan kakinya. Benar-benar menjijikan, sadis, dan membuatku rasanya ingin muntah. 

"Tutup saja matamu, Nak," kata ibuku. Permintaan yang aneh dan cara bicara yang aneh pula. Seumur-umur ibuku tidak pernah memanggilku dengan sebutan Nak. 

"Siapa kau?" tanyaku spontan. Aku yakin dia bukan ibuku, sekali pun wajahnya sangat persis. 

Perempuan itu berjalan ke hadapanku. Ia melepas kulit yang menempel di wajahnya, tangannya, tubuhnya,  seperti orang yang melepaskan topeng dan kostum bergantian. Aku bergidik ngeri menyaksikan wujud di balik topeng itu. Sekujur tubuh mahluk itu dipenuhi lendir hijau yang meleleh serupa lilin terbakar. Bentuk tubuhnya mengingatkanku pada wujud belalang sembah. 

"Akhirnya kau sadar juga." Ia terkekeh.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya