Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Surel

Posting Komentar

 

Menurutmu hal seperti apa yang paling dibenci oleh seorang youtuber-tutorial-memasak sepertiku saat membuka email masuk? tebakanmu nyaris benar, aku memang agak terganggu dengan surel keluh kesah kaum perempuan manja yang ditinggalkan pasangannya, lantaran salah membedakan gula dengan garam. Atau email protes dari koki sok yang melarang varian kue rasa jamur trufel.

Ilustrasi oleh Startup Stock Photos dari Pexels

Tapi bukan itu semua yang sangat dibenci oleh koki amatiran sepertiku. Jujur saja, aku lebih jengkel saat berhadapan dengan email sampah dari penipu bernama Jhon—pengusaha Italia baik hati yang ingin berinvestasi modal, Hanna—wanita tua asal Brazil mengaku sebagai ibu kandung lantas ingin berbagi warisan denganku,  Barbara, Tom, Xie, Chang, Andrew dan bila seluruhnya aku tulis di sini, maka kamu akan segera menguap lalu terbang ke negeri antah berantah.

Walaupun aku terlanjur benci dengan semua sampah abstrak berserak dalam layar kotak itu, tapi ada dua surel anonim yang membuatku sangat penasaran. Dua email yang dikirim dalam waktu yang sama oleh dua orang asing yang berbeda pula. Berbeda, sebab kedua surel ini berisi kisah pribadi—amat bertolak belakang—penuh problema. Kurasa mereka ingin mengikuti kontes menulis pengalaman hidup dan entah kebetulan salah menekan email sasaran. Atau mereka sengaja curhat ke emailku karena semenjak aku pakai Link*din, aku sering menulis kisah bijak dan mereka tergerak mengirimkan kisahnya untuk dibagikan. Entahlah, mungkin saja.

Aku berulang kali mengurut keningku. Seandainya aku tidak membaca dua email yang masuk itu. Pastilah sekarang suara dentangan panci yang sengaja kupukul meramaikan dapur apartemen ini, barangkali juga Evelyn—si jurnalis musiman—pacarku itu tidak akan pulang cepat-cepat tadi.

"Ayo dong, Kev. Aku risih semobil dengan Josh."

"Tapi aku malas nyetir, ajak temenmu yang lain? Atau enggak usah ke sana sekalian? Aku menggulung tubuhku kembali dalam selimut.

"Enggak bisa! Peristiwa ini menarik buat diliput. Josh bilang pria pemabuk itu sengaja menabrakkan mobilnya ke perempuan yang berencana mau bunuh diri. Aneh, kan?"

"Ya, aneh. Dan anehnya lagi aku males ke sana, sorry."

Bisa ditebak, Evelyn pun merajuk. Ia pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi. Wanita itu tidak mengerti apa yang sedang kupikirkan. Semenjak membaca surel itu aku jadi kepikiran kalau-kalau peristiwa yang akan dia liput punya kaitan dengan surel itu, atau aku saja yang terbawa perasaan.

Email-1
Subjek : Rahasiaku
Pengirim : Iamwoman@***,com

Berlarilah sejauh mungkin selagi dirimu mampu, namun jika kau lelah maka berdirilah dan putuskan sendiri. Begitu kata ayahku, suatu pagi saat mengantarkanku ke depan pintu pagar rumah, sebelum aku berangkat menuju kampus terbaik di Leeds. Dia baru saja memindahkan karung pupuk urea dari mobil pengantar. Kukira Dia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, pria tua pendiam yang menghabiskan waktu bicaranya dengan tanaman brokoli dan seledri. Aku lega hari itu saat meninggalkannya tanpa menyisakan kecemasan lagi. Penyakitnya mulai membaik.

“Aku M, terima kasih atas tumpangannya.”

“Not at all, oh ya namaku D,”  balas lelaki ramah itu.

Percakapan singkat untuk kejadian singkat pula. Suatu malam di saat paling membahagiakan untuk remaja seusiaku, hari valentine. Aku memilih singgah ke Leeds Market membeli makanan murah, sekedar untuk cemilan di Roundhay Park. Anggap saja pengganti hiburan nonton bioskop bersama kekasih.

Brukk! Semua barangku terjatuh. Bahkan belum juga aku menikmatinya di taman, pria keriting berwajah sumringah tertawa bahagia setelah menabrakku dengan sepedanya. Dasar! Ia pasti orang sinting yang tersesat di kota ini. Aku pun berjalan mencari taxi untuk segera pulang, kubatalkan niat awal setelah mendengar gemuruh gumpalan pekat di langit. Dan tanpa diduga seorang lelaki membuka kaca depan mobilnya, tatapan mata biru, suara yang berkharisma, wajahnya begitu teduh menghidupkan hasrat yang telah lama dimatikan. Tak ada satupun kalimat yang mampu kususun untuk menolak tawaran lelaki budiman itu, dan nantinya setelah kejadian singkat inilah aku harus menyesal berada disana saat itu. 

Bak dongeng Cinderela. Maka kebetulan pula lelaki bernama D itu adalah seorang dosen muda di kampusku. Tidak butuh waktu lama, kami pun semakin dekat. Sedekat antara otot dengan kulit, urat dengan daging, sedekat tanpa jarak. Tidak terhitung ini kali percintaan yang ke berapa, kami tak menyerupai pasangan mana pun, yang berbasa-basi dengan makan di kafe, memberi setangkai mawar, dan sebuah cincin emas permata disematkan indah dijari manis wanitanya. Aku terlambat untuk menyesalkan semua itu.

Suatu malam begitu dingin dan beku, dari balik jendela kaca apartemen, rembulan mengintip malu kepada dua insan yang berahinya memuncak dalam ritual kawin-mawin. Di tengah ritual aku menyentuh sesuatu melingkar di jari manisnya, kesadaranku terguncang. Kulepaskan dekapan hangat tubuh lelaki yang tega berkhianat itu. Betapa bodohnya aku membiarkan kulitku tersingkap di hadapannya.

"Ayolah kamu pikir hubungan kita seperti apa hah? Kau butuh nilai kalkulus A atau uang? emas? katakan?” tanya lelaki itu angkuh. Ia berusaha ingin merengkuh.

“Aku tidak butuh semuanya. Kamu melampiaskan hasrat lalu berniat membuangku dan-” Aku menitikan air mata. Sesak sekali bagai dihimpit ribuan kubik kerikil, bibirku hanya mampu bergetar sesaat, kelu tak mampu lagi berkata apa pun. Ayah, andai ia disini. ia pasti memukul wajah lelaki jalang itu.

“Lupakan semua. Anggap aku sebagai dosenmu, begitu saja,” ucapnya terakhir,  sebelum tubuhnya menghilang dari pintu kamar.

Hanya butuh waktu satu bulan, ia menyulapku dari intan seorang petani menjadi seonggok bangkai busuk. Aku tidak mampu menahan beban perundungan dari kalangan sesama rekan mahasiswa maupun dosen di kampusku. Kenapa aku kelewatan dungu hingga membiarkan ia tega menyingkirkan aku dengan sangat enteng? Tak satu pun sahabatku mau mendengarkanku atau percaya saja dengan kata-kataku, sedangkan ayah? Ia sudah meninggal, ayahku tewas dibunuh oleh seseorang yang hingga hari ini tak pernah ditangkap. 
Kini aku tak punya siapa-siapa. Aku akan mengikuti nasehat ayahku: berlari sejauh-jauhnya meninggalkan kota kecil ini dengan harapan yang baru. Aku akan hijrah ke Manchester.

II
Subjek     : Pergi
Pengirim : Findmeifyoucan@***.co.uk

Siapa yang mau menikmati Stout Beer dengan cara menuang yang salah? Kalau aku jelas tidak mau. Melakukan hal itu sama saja merusak mood-ku untuk berbahagia sehari penuh. Aku tidak terlalu peduli hal lain, kecuali minumanku. Mulai dari menuang sampai menyesapnya dalam kerongkongan harus tepat dan benar. Bagiku menikmati stout membangkitkan keberanian, seperti maknanya sendiri yang berarti berani. Maka jika prosesi menuju beraniku salah, artinya kekuatanku hilang selama sehari penuh.

Tidak sembarang bartender kuizinkan menuangkan cairan hitam kesayanganku ini, selain Pak G, lelaki tua yang telah banyak menuangkan ribuan minuman pembangkit semangat orang-orang Leeds sekaligus dia adalah mentorku dalam ritual minum-minum.

“Jangan menenggaknya seperti pemabuk bodoh di jalanan, C. Kau harus melihat bagaimana aku mengajarkannya padamu. “

"Minuman pahit ini tidak butuh aturan, ia bisa dinikmati sepuasnya,” balasku santai lalu kembali memasukkan mulut botol ke sela bibirku, menengadah, membiarkan cairan dalam botol melewati kerongkongan.

“Tapi kau pasti selalu tidak puas menikmatinya, bukan?” ia mengangkat alis, menunggu jawabanku.

“Baiklah, aku ingin tahu bagaimana 
menikmatinya dengan benar Pak G?”

“Angkat gelasmu perlahan, lihatlah gelembung dan busanya. “Aku mengikuti ucapannya, kuperhatikan busa-busa itu bertahan mengembang.

“Rasakan aromanya, biarkan indra penciumanmu merasakan ledakan aroma malt, ragi, bunga hops bercampur. Lalu kau sesap sedikit demi sedikit dan tetap hirup, jangan biarkan ia hanya melewati kerongkonganmu tanpa menyentuh langit-langit lidahmu,”

“Ini pahit tapi memuaskan, rasanya aku seolah baru saja lahir.”

Pak G tersenyum melihat gelagatku yang mirip orang bodoh. Ia lalu kembali mengelap gelas kaca terakhir, sebelum ia beranjak pulang meninggalkan pekerjaannya. Lima tahun semenjak aku datang ke sini, ia tidak pernah menolak untuk menuangkanku minum di jam seharusnya ia sudah pulang.

“C? Bisa kau biarkan aku menutup tempat ini sementara waktu?” suaranya membuyarkan lamunanku.

“Aku ingin bercerita padamu, boleh?”

“Asal kau tidak mengambil jatah istirahatku terlalu lama.”

“Tentu saja tidak.”
***
Sebelum aku pindah ke Manchester, pekerjaanku sebenarnya hanya penjual obat rekreasi MDMA ke penjuru dunia. Sebelumnya aku memulai karier dari penipu, pembunuh bayaran, kemudian terakhir kuputuskan untuk menjadi pedagang ilegal obat terlarang ke negara-negara berkembang yang mudah disogok dengan lembaran uang, sayang hanya butuh waktu setahun aku mengalami rugi besar, pesananku jatuh di lokasi yang salah.

“Apa?? Pria tua? Bagaimana bisa?!!” Darahku mendidih mendengar kabar dari pekerja bodoh yang kugaji dengan harga tinggi.

“Hilangkan jejaknya dahulu, lalu ambil kembali karung pupuk itu.” Perintahku, lalu kututup panggilan cepat-cepat.

Malam bersalju di Leeds aku terus mengayuh sepeda, meluapkan kekesalanku pada peristiwa yang baru saja terjadi. Kuinjak pedal sepedaku semakin cepat, hingga tanpa sadar saat aku melintas di sebuah toko, seorang wanita berdiri melamun menghalangi jalan, menyedihkan sekali. Bak kerasukan, kuluapkan kekesalanku dengan menubruknya. Wanita itu marah, kutoleh ia dengan tertawa puas mengejek.

Esoknya,  aku mendapat kabar kalau pekerjaku ditangkap oleh polisi lokal karena ketahuan membawa pulang daganganku. Kini para interpol pun ikut  menambahkanku dalam daftar buronan.

“Jaga dirimu baik-baik, jangan datang ke sini lagi,” ucap saudara perempuanku saat aku datang padanya untuk pamit.

Seminggu lagi ia akan bertunangan dengan rekan kerjanya di kampus. Aku sebenarnya ingin menyaksikan peristiwa penting itu. Tetapi aku sudah memutuskan untuk pindah ke Manchester.

"Bolehkah aku menginap di sini untuk terakhir kali?"

“Pergi C! aku tidak mau polisi datang ke sini dan kau merusak pertunanganku nanti,” ujarnya mengusirku. Padahal ini kali pertama aku datang menemuinya, adik nakal, semenjak sudah sudah dewasa ia melupakanku.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.
Lebih baru Terlama

Related Posts

Posting Komentar