Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Menunggu

Posting Komentar

Tik. Arloji di tanganku bersuara. Jarum pendeknya bergerak pelan tapi pasti, berbarengan putaran jarum panjang merah yang lincah menjejaki angka. Bukan tak ada pengaruh kepadaku, kepadamu, kepada kita. 

Ilustrasi oleh pexels

Awan di langit bergerak-gerak cepat meninggalkanku, ditiup angin, yang kadang kupikir mereka berpindah-pindah seenaknya saja. Sementara dari tadi siang, aku memandangi mereka, berkhayal bentuk-bentuknya menyerupai sesuatu yang tersimpan di kepala, kukira itu mirip angsa yang sendirian, ikan yang sendirian, atau anjing yang sendirian, intinya mereka mirip sepertiku: sama-sama kesepian. Aku merasakan jemu, merasakan muak dan merasakan bosan, tapi mereka tak memiliki ketidaksabaran yang menyiksa. Perasaan serba ingin cepat dan tidak terlambat ini bisa mengacaukan segalanya. 

Ke mana perempuan yang kutunggu-kutunggu itu, batinku bertanya-tanya, namun tiada yang bisa menjawab pertanyaan kecil itu, kecuali aku harus tetap berada di sini buat memastikannya sendiri, menantikan dia datang, atau mungkin tak akan pernah datang. Siapa yang tahu? Aku akan menunggunya sampai larut bersama butir-butir debu jalanan. Sekumpulan debu itu terus saja beterbangan, membawa sisa-sisa perjalanan kaki-kaki manusia yang dilewatinya, setelahnya ia akan menghalangi pandanganku dan singgah ke lubang hidungku, menyebabkanku terbatuk-batuk. Lalu sama halnya dengan kebiasaan manusia lain, aku akan merutuki kemalangan hari ini, tapi tidak jera. Sudah kukatakan, ketidaksabaran bisa menghancurkan rencanaku.

"Kenapa aku harus menunggu?" Terus terang pertanyaan itu mengusikku. Dia benar, untuk apa sebenarnya diriku menunggu orang itu hadir? Kami tidak membuat janji sebelumnya, sudah jelas dia tak mungkin tahu kalau aku berada di sini, di tanah lapang tempat anak-anak bau gosong. Kulit mereka terbiasa dibakar oleh pijar matahari, hingga kebal dan tak kenal masa mudanya dahulu. Suara mereka parau akibat sering kali berteriak-teriak memanggil dan bersorak; mengejek layangan rekannya terbang pendek; dan ada anak kecil berbadan kurus di antaranya menangis tersedu-sedu gara-gara benang di tangannya putus. Maka aku tak ambil pusing perkara itu, lagi pula semua orang tahu bahwa anak-anak cepat mereda. Tangis dan tawa terbagi adil di hati anak-anak. Mereka dapat menangis dan berbahagia di waktu berdekatan. Begitulah, aku iri dengan kemurahan hati anak-anak yang harga bahagianya rendah sekali. Sementara orang tua sepertiku buta makna bahagia, di mana kebahagiaan sesungguhnya? 

Lebih dari dua jam sekarang. Dan bukan salah siapa-siapa seandainya ia tak datang. Tapi di sanubariku yang terdalam, ada sepercik harapan agar ia hadir, meskipun hanya sekian detik saja. Itu cukup memunculkan hasrat semangat hidupku yang nyaris pupus. Usia terasa kian cepat menggerogotiku. Bukan kamu saja, aku juga; sama-sama merasakan hari ini semakin cepat berlalu, hari kemarin juga sama, dan esok akan sama lagi. Kita sering tidak punya waktu memikirkan kebahagiaan atau menyangsikan segala kesenangan, tidak seperti anak-anak yang merasa riang cukup dengan menyaksikan angin menerbangkan layang-layangnya ke angkasa. Kita tidak belajar dari mereka menjadi insan merdeka: menangis dalam waktu sebentar, kemudian dengan cepat memaafkan keadaan. 

"Dia tidak mungkin datang," aku berbisik. Suaraku ditelan udara panas, melenyap secepat halimun pagi tadi yang berganti jadi terik surya nan hebat. Jika aku menjadi penyair, aku ingin menulis sajak-sajak saat menantikan perempuan itu tiba di sini. Walaupun sama-sama kita ketahui, dia mungkin tidak akan hadir ke tempat yang jaraknya tiga ratus kilometer dari rumahnya ini.

Sayangnya, aku bukan penyair, melainkan pemimpi. Sebab itulah alasanku mau duduk berjam-jam tanpa kepastian; sebab itulah diriku bersedia merayakan siang bolong bersama pikiran-pikiran berusaha tak ingin kosong. Sulit! Selagi duduk bercengkerama dengan hidup dan kehidupan, maka biasanya pikiranku menyerap segala sesuatu. Dan mari kita berandai-andai.


Rasanya sungguh mustahil membayangkan ia dengan langkah bersemangat menapaki jalan-jalan tanah dengan peluh di sekujur tubuhnya. Peluh itu mengalir; menimbulkan bau menyenangkan, yang menyebabkan rindu selama tiga puluh tahun lamanya tidak berkurang sedikit saja. Dan apabila ia tiba-tiba muncul di hadapanku sekarang, maka bolehlah kita katakan bersama-sama bahwa itu cuma kebetulan. Kebetulan yang meyenangkan. 

Memang demikian, segala yang tidak kita pahami tapi menyenangkan adalah kebetulan. Kemudian apa-apa yang menyusahkan hati adalah takdir. Padahal tak ada beda antara keduanya, entah disebut sebab intuisi, sebab-akibat, sebab kehendak Tuhan, atau sebab kehendak bebas manusia belaka. Kita sebenarnya tidak peduli atau tak ingin mencari tahu yang mana menjadi asal usulnya. Karena bagian terpenting dari hidup ini (dan ceritaku yang sedang kalian baca) ialah aku bertemu dengannya. Adakah yang peduli kenapa aku harus menunggu dia datang? Adakah yang peduli siapa perempuan itu bagiku? 

Perempuan itu bernama Ara. Dia tidak istimewa, maksudku sama saja seperti wanita pada umumnya, sama dengan orang-orang yang mungkin kalian sudah kenal. Dia tidak mengikuti standar kecantikan gadis-gadis yang sering kusebut berpenampilan menyebalkan--mereka yang menonjolkan dada, lekuk tubuh, dan pernak-pernik di tubuh berlebihan. Tetapi, biar begitu,  aku menyukai Ara. Dia mungkin tahu. Namun, kami tak berkomitmen dengan status yang jelas. Itu sengaja. Sebab cinta bagiku tak boleh sampai mengikat orang yang dicintai; cinta tidak boleh membebaninya hingga ia tak bisa membedakan apakah melakukan sesuatu atas dasar cinta atau karena mencukupkan hubungan saja.

"Apa kata orang kalau kita terus bersama-sama tapi tak juga menikah?" katanya mendesakku.

Tidak, cintaku tidak lahir untuk mematuhi aturan orang-orang, kataku. Kita boleh melakukan apa pun atas dasar ingin, bukan sekadar perlu. Entah bercinta hari ini atau membenci esok hari, berbincang atau diam, mengenang atau merenung. 

Sayangnya dia mudah sekali terdorong oleh desakan mereka yang tidak tahu apa-apa. Berhari-hari kemudian, ia memenuhi diriku dengan keinginan hatinya yang semu. Dia selalu berkata sesungguhnya ia membutuhkan kepastian, sebuah acara pernikahan disaksikan sekian puluh pasang mata. Lalu aku menolak, kenapa aku mesti melakukan itu jika dia didorong tekanan orang-orang? Buat apa memuaskan dahaga mereka yang bertindak seakan peduli, padahal sebenarnya tidak acuh. 

Kita bisa membangun hubungan yang serius jika benar-benar membutuhkan itu, kataku memperjelas isi pikiranku padanya.

"Kau tidak mencintaiku!" ucapnya keras. 

Perkataan itu sesungguhnya kalimat menyakitkan yang aku dengar langsung darinya. Aku mengerti saat itu, bahwa dia menyimpan kecurigaan yang besar selama ini, padahal aku menempatkan hidupku sepenuhnya untuk dia. Sejak kami berteman saat masih sekolah sampai usia kami menginjak dua puluh lima, aku tidak pernah meragukan perasaanku padanya, begitu pun aku tidak meragukan perasaannya padaku. Kukira dia tidak serius mengatakan itu tapi ia menjadi terobsesi dengan kecurigaannya kepadaku. 

Kami pun berpisah. Dia tak tahan. Aku menerima keputusannya. Dan aku mulai menyesali tiga puluh tahun kemudian, bahwa wajah Ara masih membekas di kepala. 

Sekarang Ara tiba kembali di hadapanku dengan peluh membasuh tubuh. "Kita bisa mulai kembali dari awal?" Dia bertanya seolah-olah tahu yang sedang kupikirkan. Tiga puluh tahun semenjak kami berpisah, dia tidak berubah. Matanya yang tegas, dan suaranya yang bening masih tetap sama. Tubuhnya mengecil, dia menjadi Ara yang kulihat pertama kali di sekolah. Dia kembali menjadi Ara yang selalu memanggilku ke lapangan untuk bermain sampai sore.

"Duduklah," kataku sembari membersihkan bangku kayu yang kosong di sebelahku. "Sore ini kita tidak harus pulang lebih awal."

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya