Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Suami Tak Berkemaluan

Posting Komentar

"Bagaimana ini, Lastri?" tanya Bening Mata kebingungan. Dia tampak ingin menangis. Lastri menepuk-nepuk pundaknya, tidak kalah bingung. 

Lastri diam sebentar, lalu mulai berbicara, "Apa kau tidak sempat memeriksa dulu sebelum kawin?"

Ilustrasi cerpen by pixabay


"Mana bisa, Las. Apa kau sempat mengecek punya Cemen sebelum kawin? Tidak, kan?" bantah Bening Mata. 

"Tapi aku melihat Bang Cemen kencing berdiri. Jadi, aku yakin kalau dia punya kemaluan."

"Aku juga pernah melihat Bang Kai kencing berdiri, tapi kenyataannya lain, Las, ini penipuan. Bagaimana aku mengatakan semua ini kepada orang tuaku. Pokoknya aku mau pisah!" 

"Jangan terburu-buru. Tidak punya kemaluan bukan berarti kalian tak bisa bahagia," hibur Lastri.

Ucapan Lastri sama sekali tidak membantu.  Bagi Bening Mata, kemaluan adalah organ penting, bahkan bukan hanya dia yang berpikir begitu, satu dunia sepakat kemaluan itu penting, tetapi Bang Kai, suaminya malah tidak memiliki bagian penting itu. Bagaimana bisa dia berbahagia memiliki suami tak berkemaluan? Apa yang harus ia katakan seandainya suatu hari nanti orang-orang bertanya? Mereka lama-lama pasti curiga dan mengendus rahasianya. Atau akhirnya mereka memastikan sendiri: kok, kamu sudah lima tahun belum hamil? Sedangkan Bening Mata tidak biasa berbohong, tetapi jujur juga mustahil. Istri macam apa yang gila membicarakan aib suaminya, ya, semisal ia betul-betul terdesak, bagaimana bisa dia membocorkan sedikit aib lakinya itu? Paling tidak alasan yang ia sampaikan mesti kedengaran rasional. Alangkah memalukannya apabila dia mengatakan bahwa Bang Kai tak berkemaluan. Mereka pasti mengira ia mengada-ada, wanita pembual, atau kalau mereka percaya, mereka tak akan henti-hentinya bertanya lagi, bagaimana cara Bang Kai kencing? Apa Bang Kai ereksi melalui kaki? Apa Bang Kai kencing melalui keringat? Apa Bang Kai sebenarnya makhluk asing? Bagaimana kalau Bang Kai jadi subjek di laboratorium? Yang pasti Bening Mata tidak siap dan tidak mau dibombardir dengan pertanyaan semacam itu.

"Ini karena aku tidak teliti," isak Bening Mata. Ia akhirnya menangis di pelukan Lastri. 

Dia baru menyadari rahasia ini pada malam pertama pernikahan mereka. Ketika itu, ia menunggu detik-detik peristiwa yang paling menyakitkan sekaligus menggembirakan bagi sepasang pengantin baru. Proses beradunya putik dan benang sari. Dia membayangkan di atas seprai yang ditaburi bunga-bunga, Bang Kai yang selama ini ia kenal romantis, melaksanakan tugas pertama sebagai suami. Namun, sulit dipercaya, pada malam itu, sebelum ritual dilaksanakan, suaminya malah berkata bahwa ia ingin menceritakan kebohongan yang telah ia simpan selama berbulan-bulan ini. 

"Sebenarnya aku tak punya kemaluan," kata Bang Kai. Ia memasang mimik wajah serius.

Awalnya, Bening Mata mengira pengakuan aneh itu upaya suaminya memberi kejutan di malam terbaik mereka. Supaya ia makin dag-dig-dug menunggu puncak keintiman yang bakal terjadi selanjutnya. Namun, Bang Kai terus berusaha meyakinkannya bahwa yang ia katakan adalah kebenaran. Bening Mata tahu benar suaminya itu sangat humoris, sebab itulah ia menyukai Bang Kai meskipun secara penampilan sangat jauh dari kriteria suami idamannya: hidung mancung, bertubuh tinggi, dan berkulit sawo matang. Bang Kai justru sebaliknya, ia pesek, tidak tinggi tapi tidak pula terlalu pendek, dan kulitnya putih, lebih putih daripada Bening Mata sendiri, sehingga ia sering mengejek suaminya "Anak Sagu". 

Alih-alih terkejut, perempuan itu malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengakuan suaminya. Ia terbahak-bahak, sampai-sampai tawanya yang menggelegar telah mengundang isi rumah. Mereka berebutan menempelkan kuping ke pintu, penasaran dengan keperkasaan Bang Kai yang dapat menggelitik Bening Mata hingga tak mengerang kesakitan. Kegaduhan mereka itu tak lama ketahuan oleh Bening Mata. Ia memasang kembali pakaian dalamnya dan melilitkan kain, lalu membuka pintu. Beberapa orang terjungkal karena kaget. 

Bening Mata yang masih merasa lucu dengan suaminya, cengar-cengir sembari mengusir penghuni rumah dari depan kamarnya.

Setelah mereka pergi, ia masuk kembali ke dalam. Mematikan lampu dan menyisakan sebatang lilin saja menerangi kamarnya. Ia memeluk Bang Kai. 

"Kamu tidak marah?" tanya Bang Kai bingung.

"Marah? Kenapa aku harus marah?"

"Masalah ini," kata Bang Kai. Ia membuka ikat pinggangnya, melorotkan celananya, dan tampaklah lelaki itu menggunakan kolor biru muda. Bening Mata tersenyum-senyum melihat aksi suaminya. Ia mengatupkan jari-jari ke mukanya, tapi dua jari sengaja ia biarkan membentuk celah. Dia tak sabar menantikan suaminya yang akan mempertontonkan kejantanan di hadapannya. Bang Kai menyalakan lampu kamar sebelum melorotkan kolornya lagi.

Sekonyong-konyongnya Bening Mata terkejut. Ia jatuh terduduk ke lantai. Perempuan itu hampir pingsan. Dia tidak pernah menyangka malam terbaiknya justru menjadi mimpi paling buruk yang tidak mungkin dia pikirkan sebelumnya. Di tempat yang seharusnya tergantung benda terpenting bagi manusia, justru hanya ada daging rata. Betul-betul datar. Sedatar lantai keramik tempat ia duduk. Tak ada kemaluan di bawah pusar lakinya. Dia bahkan meragukan jika Bang Kai seorang laki-laki, tetapi dia jelas bukan pula perempuan. Makhluk apa Bang Kai ini? Ia kebingungan. Kepalanya tiba-tiba pusing. Bayangan yang ia lihat buram, kemudian berubah hitam.

Keesokan harinya, Bening Mata terbangun di atas ranjangnya. Dia berharap yang ia alami semalam mimpi buruk belaka. Tapi harapan itu lenyap selepas ia menemukan sepucuk surat tergeletak di atas meja riasnya. Surat yang ditulis dari Bang Kai. Di dalam surat itu tertulis, bahwa ia meminta maaf telah membohongi Bening Mata dan izin menyepi selama beberapa hari. 

"Aku yakin. Perlahan-lahan kaubisa menerima kekurangan suamimu. Apalagi aku tahu, kau sangat menyayangi Bang Kai."

"Akan aku coba, Las. Aku minta jangan kau ceritakan rahasiaku ini kepada siapa pun," pinta Bening Mata. 

Di akhir pertemuan mereka, seperti biasa, Lastri mengutang uang kepadanya. Sebenarnya Bening Mata enggan meminjamkan uang kepada Lastri, tetapi melihat orang itu satu-satunya sahabat yang bersedia mendengarkan keluh-kesahnya dan dapat ia percayai, akhirnya di tengah perasaan ragu-ragu, ia masih meminjamkan uangnya kepada Lastri. 

Beberapa bulan kemudian.

Bening Mata sudah mencintai suaminya lagi. Ia dan Bang Kai kembali mesra seperti sediakala. Kini, giliran Bening Mata kepusingan perihal lain. Lastri tak pernah menyicil utangnya yang sudah hampir tujuh puluh juta rupiah, padahal ia membutuhkan uang untuk mencukupi keperluan anak adopsinya. Segala upaya ia lakukan untuk menagih uangnya di Lastri. Namun, perempuan itu punya berbagai jurus menghindar dan mengelak dari utang-utangnya. Mulai dari nomor ponsel yang selalu sibuk, kabar pindah rumah, menghapus medsos, sampai-sampai dikabarkan oleh ayah Lastri bahwa anak dan menantunya, Cemen mungkin diculik dan dibunuh di suatu tempat. Karena sudah terlalu lama, Bening Mata pun kesal. Ia mengirimkan pesan ke nomor lama Lastri yang isinya berupa unek-unek untuk sahabatnya itu. Tidak lupa, dalam pesan itu, ia juga menegaskan bahwa ia tak segan membawa perkara itu ke ranah hukum. Walaupun demikian, usahanya tetap saja tak membuahkan hasil. 

Suatu hari, setelah Bening Mata mengunggah foto ia dan suaminya di media sosial, ia kaget mendapat banyak notifikasi. Tiba-tiba akunnya dibanjiri komentar dari alumni sekolah, alumni kampus, bekas teman kerjanya, bahkan mantan pacarnya. Membaca semua komentar itu, kaki-tangannya dingin. Ia cepat-cepat membuka menu non-aktifkan akun dan menghapus medsosnya. 

Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari seseorang: 

Awas! Hati-hati denganku.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar