Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Bilal (2019): Ambiguitas Cerita yang Membingungkan

Posting Komentar
Cuplikan film Bilal di Viddsee


Judul: Bilal
Tahun Rilis: 2019
Sutradara: Fachri Al-Jufri
Produser: Zul Guci
Negara: Indonesia
Pemain: Wisnoe Prayoga, Ratu Intan Melia

Bagaimana krisis identitas gender dapat mempengaruhi seseorang? Di tengah isu gender yang masih tergolong tabu dan diwarnai stereotif negatif, terutama di Indonesia yang masih teguh kepada nilai-nilai agama dan adat istiadat yang konservatif. Film pendek keluaran tahun 2019 berjudul 'Bilal'' ini mampu mengangkat ke permukaan konflik batin seorang tokoh difabel yang memiliki masa lalu dengan tokoh yang menjadi judul dari film ini sendiri.

Cerita diawali seorang narator pria atau tokoh 'saya' yang mengisahkan kepada seseorang--yang mungkin teman sekolahnya juga--tentang teman SMA mereka yang bernama Bilal. Tokoh saya awalnya cemburu kepada Bilal yang dekat dengan Nissa, lalu suatu malam di depan api unggun, sewaktu ia merokok sendirian, datanglah Bilal sehingga terjadi peristiwa antara mereka berdua, yang menjadi titik balik cerita. Apa yang terjadi dengan tokoh utama? Apa masalah yang tokoh utama dan Bilal hadapi?

Film besutan dari tangan dingin sutradara Fachri Al-Jufri dan produser Zul Guci ini patut diapresiasi. Dengan durasi hanya sembilan menit dan konsep hitam-putih saja sudah mampu menarik perhatian saya sebagai penonton. Tidak heran apabila film ini masuk semi final dalam Les Mains Gauches Queer Feminist Short Movies 2020 dan ikut seleksi Lift-Off Global Network First Time Filmmaker Session 2019. Sebenarnya kualitasnya sudah jelas teruji dengan tayang di Vidsee. Sebagai penggemar lama film pendek Vidsee Indonesia, saya tak ragu-ragu menonton film yang masuk kategori penjurian. Namun, dalam hal ini saya tetap harus menentukan satu film saja berdasarkan 'thumbnail' dan judul untuk memfokuskan ulasan. Saya langsung memilih film Bilal.

Bilal punya dua daya tarik awal. Pertama, dari  segi thumbnail sudah menampilkan seorang pria yang dalam posisi tidur tengkurap, kepalanya di atas bantal, lalu bayangan kisi-kisi jendela yang jatuh di wajahnya. Kemuraman tokoh utama tergambar jelas dari thumbnail sederhana ini, ditambah judulnya yang cuma satu kata dan diambil dari nama orang. Trik semacam ini bukan cuma memikat karena memiliki misteri atau tanda tanya di balik judul, melainkan bayangan yang muncul dibenak penonton setelah membacanya. Nama 'Bilal' tergolong mudah diingat, selain itu punya citra sendiri--meskipun tidak mutlak--tapi tak bisa kita mengesampingkan kalau nama ini familiar dalam suatu kepercayaan di Indonesia. Suatu usaha yang berani. Karena menantang penonton menambah sosok Bilal baru yang belum mereka kenal. Tanpa mencampuraduk atau merusak identitas Bilal yang lain.

Kedua, konsep film yang digunakan hitam-putih. Tanpa berniat mendiskreditkan film berwarna lainnya, tetapi ada kekuatan tersendiri dari konsep tak berwarna ini. Film hitam-putih biasanya menjanjikan penonton agar fokus kepada cerita ketimbang memedulikan pernak-pernik visual yang ditayangkan. Dua daya tarik awal ini tentu bukanlah jaminan bahwa Bilal punya premis dan konflik yang menarik, tetapi setidaknya bagi penonton awam, kulit luarnya pun sudah mampu menarik minat.

Karena membawa isu tabu, tentu ekspektasi kita lumayan besar kepada isi film pendek ini. Sekuat apakah isi cerita yang ditawarkan? Bagaimanakah usaha sutradara menjaga isi cerita tanpa mengabaikan aspek kepekaan terhadap agama dan norma-norma yang dianut di Indonesia? Perihal ini mungkin bukanlah 'tanggung jawab' seorang sutradara dan produser film. Namun, di tengah gelombang sensitivitas kepercayaan, termasuk di dunia perfilman, maka satu celah kecil saja dapat mengundang gelombang protes berkepanjangan, apalagi jika Bilal menyasar penonton dalam negeri sebagai sarana edukasi. Tentu perlu kehati-hatian saat membuat film pendek ini. Kabar baiknya, Bilal berhasil bermain aman sekaligus ciamik lewat flashback narator tanpa disertai visual. Fokus kita hanya diarahkan kepada tokoh utama pasca melewati masa lalunya.

Audio dan visual tidak dapat dipisahkan. Unsur suara yang mencolok dari film ini yaitu monolog interior, di mana karakter utama membacakan surat yang ia kirim kepada seseorang mengenai Bilal. Nihilnya musik latar menambah penghayatan penonton dalam merasakan konflik batin yang dialami tokoh utama. Ditambah lagi,
Wisnoe Prayoga yang berperan sebagai tokoh utama di sini terlihat punya masalah psikis, meskipun tidak tersirat melalui kata-kata, karena narator berupaya membangun fokus ke Bilal daripada dirinya sendiri. Tokoh utama memang tidak berdialog atau melakukan aksi tertentu, tapi kepiawaiannya dalam membawakan tokoh "saya" yang punya beban karakter patut diacungi jempol.  Beban karakter ini akan saya ulas di bagian kekurangan, tanpa mengecilkan 'acting' dari pemain itu sendiri.


Lokasi dalam film ini terbatas, hanya berada di apartemen yang  sudut pandang kameranya berpindah-pindah dari satu ruang ke ruang lainnya, menampilkan karakter utama dengan aktivitas di suatu waktu, yang banyak menyertakan kode-kode untuk dipahami penonton. Misalnya, piring dan gelas kotor yang belum dicuci, jam digital menampilkan pukul 11:02, timbunan abu rokok di asbak (juga gelas kotor), dan satu papan pil di sebelah tempat sikat gigi di sudah pasti punya tujuan. Setidaknya ada dua kali adegan kamar mandi yang ditunjukkan. Namun, adegan "showeran-lah" memperjelas kode-kode ini. Di sini begitu jelas bahwa tokoh utama mengalami gangguan kesehatan mental, entah depresi (saya tidak berani memastikan). Sutradara cenderung bermain "show" (menunjukkan) ketimbang "tell" (menceritakan) yang sebenarnya terjadi.

Alur cerita rapi dan konflik yang diangkat 'segar' karena mengenalkan dua isu hangat sekaligus yang masih kerap diperdebatkan. Isu pertama tentang krisis identitas gender dan queer (no straight) dan isu kedua tentang gangguan kesehatan mental. Diskriminasi terhadap minoritas yang disimbolkan pelangi ini lumrah terjadi di tanah air karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan nilai-nilai adat yang dianut oleh masyarakat. Penolakan bukan saja berlaku di kehidupan masyarakat, agama, dan pekerjaan, tetapi di bidang hukum sering pula terjadi. Walaupun, tidak ada peraturan hukum yang mengelompokan mereka sebagai penjahat seksual, kecuali sudah menyangkut anak-anak, pemerkosaan, pornografi, dan protitusi. Tekanan itulah yang kemudian dialami Bilal sehingga berkamuflase bahkan memanipulasi keadaan, dan tega menyebabkan tokoh utama menjadi seorang difabel. Tokoh utama tak jauh berbeda, sikap dilematisnya ini dan kecenderungannya menunjukkan adanya krisis identitas sehingga ia mengalami gangguan mental. Puncak gangguan mental sepertinya banyak terdampak kepada Bilal dibandingkan karakter utama, satu hal yang sangat disayangkan sebetulnya.

Antara kelebihan selalu disertai pula kekurangan.
Ada beberapa kekurangan film pendek Bilal menurut pandangan saya. Yang pertama, pesan yang disampaikan oleh pembuat film sangat multitafsir. Saya anggap kekurangan, karena terdapat dua arus yang berseberangan di dalamnya. Saya tahu, film Bilal berusaha mengedukasi penonton, bahwa diskriminasi gender sepatutnya ditinggalkan, terutama kekerasan fisik sangat tidak dibenarkan. Namun, upaya menghadirkan Bilal yang berperilaku manipulatif sampai-sampai menyebabkan si tokoh utama celaka adalah 'noda' yang tidak luput dari film ini. Alasannya sederhana saja, orang awam akan bias memaknai pesan tidak tersirat yang disampaikan, sehingga muncul pandangan sebaliknya, bahwa Bilal adalah seorang queer--diceritakan ia dekat dengan Nissa oleh tokoh utama---sekaligus ia penjahat. Usahanya menutup-nutupi seksualitasnya dengan mengorbankan orang lain, sekalipun dia tak ikut turun tangan dan dibela mati-matian oleh karakter utama, tetap saja stigma negatif melekat kepada Bilal. Hal ini bolehlah saya anggap kekurangan karena butuh pemikiran sangat terbuka sebelum penonton mampu memaklumi kehidupan Bilal sendiri. Alih-alih mengambil pesan moral dan berempati, penonton malah dongkol kepada Bilal yang memancing kekerasan.

Kedua, yang menjadi kekurangan film ini yaitu ambivalensi karakter tokoh utama. Saya tidak berani mengatakan seratus persen bahwa tokoh utama di sini seorang queer, tetapi tidak bisa juga mengatakan ia straight (normal). Penyebabnya ada beberapa hal yang menggantung. Tokoh utama mengenang pengalaman sensualitasnya dengan Bilal yang dikatakan "mengubah pandangannya". Lalu tokoh utama berupaya bersikap biasa saja dengan menganggap pengalamannya itu hanya "candaan".  Perubahan apa yang sebenarnya ditekankan oleh sutradara kepada tokoh utama? Ungkapan tersiratnya kepada Bilal yang tampak peduli, pemaaf, dan menerima Bilal apa adanya, bertentangan dengan tingkah lakunya sendiri yang tertekan, merokok berat, kurang tidur (dilihat dari jam ia bangun), dan depresi.


Secara subjektif, saya melihat tokoh utama berdialog dengan dirinya sendiri. Bilal tak lebih kacamata yang ia pakai untuk menggambarkan kondisinya. Memang secara lisan narator, sikap karakter yang pemaaf dan peduli kepada sesama adalah hal yang sah-sah saja. Di kehidupan nyata, banyak orang yang mengutamakan kemanusiaan, tidak selalu memedulikan golongan minoritas, contohnya kasus sembako sampah terhadap transpuan kemarin. Namun, secara tersirat, si tokoh utama punya dualitas karakter yang membingungkan. Barangkali ini sengaja dilakukan sutradara sebagai kelebihan, tetapi menurut hemat saya, ini adalah kelemahan dalam hal penokohan. Lagi-lagi penonton hanya bersimpati kepada tokoh utama yang terkesan dirusak identitas gendernya oleh Bilal.

Tokoh utama bahkan dipertontonkan usahanya meningkatkan sisi kerohanian dengan wudhu dan salat, serta terdapat peran istri sebagai pelengkap sah secara moral dan agama untuk mempertegas jalan yang ia pilih. Bagian ini sangatlah terselubung dan pastilah penuh pertimbangan oleh sutradara. Kita kelak dibingungkan karena harus memilih lebih percaya kepada visual atau narasi monolog di film. Kekurangan terakhir ialah peran Ratu Intan Melia sebagai istri. Sangat disayangkan karakter istri hanya sebagai pengantar pesan dan pemberi pelukan belaka, padahal jika ia ditempatkan sebagai sisi netral yang memiliki sikap dan tingkah laku khusus  tentu menghilangkan dua kekurangan yang sebelumnya saya sebutkan. Kekurangan dalam film ini saya simpulkan adanya multitafsir baik dari segi pesan moral ataupun karakter. Penonton awam seakan-akan dibiarkan menilai tokoh-tokohnya sesuai keinginannya sendiri dan diberi beban agar bersikap netral.

Kekurangan yang sebutkan tadi tidak betul-betul mengurangi sisi menarik dari film pendek Bilal. Untuk penonton yang sudah paham dua isu ini, pasti cepat memberi tanggapan positif terhadap upaya sutradara mengangkat perihal tabu dengan prinsip kehati-hatiannya yang tidak langsung bermain melawan arus. Film Bilal mengajak kita lebih peduli kepada sesama melalui kacamata kemanusiaan. Sejatinya, kita tidak punya hak untuk mencampuri ranah privasi orang lain atau mendiskriminasikan suatu kelompok, serta tidak seharusnya kita mencari pembenaran untuk melakukan kekerasan fisik kepada orang lain.

Skor dari saya 3,8 dari 5.0.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya