Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Catatan Mei

Posting Komentar

"Tanggal berapa ini?" tanya pria muda dengan seragam mirip kosmonaut yang kini berdiri di teras rumahku. Dia muncul dari balik pohon beringin yang berantakan setelah diguncang angin deras, persis saat guntur hampir merobohkan gubuk kecilku.

"16 Juni 2020," kataku gugup. Aku ingin menawarkannya handuk buruk yang sudah kusulap jadi gorden di dapur, tapi ia segera melepas pakaian anehnya yang basah, dan dengan cepat kostum dikenakannya berubah menjadi seragam ketat, yang mengingatkanku pada karakter pahlawan super digigit laba-laba, Spiderman.

    Ilustrasi oleh Pixabay

"Demi Nusantara! Aku rasa ini tahun yang benar," ucapnya agak menggigil, tapi raut wajahnya bersemangat. Seolah-olah dia itu Archimedes yang baru saja menemukan cara mengukur volume benda lalu ber-eureka kegirangan.

Sementara hujan tinggal menyisakan gerimis yang meratakan debu di lapangan depan rumahku. Daun keladi di pot kehabisan kekuatan akibat diserang hujan belakangan sekehendaknya datang. Bercak merah dan putih di dedaunan itu mengembalikan lagi fokusku ke pria berseragam aneh, seseorang yang sibuk memperhatikan mukaku sedari tadi.

"Namaku Saga." Lelaki itu membungkuk seraya menempatkan tangan kanannya di depan dada. Aneh, itu kebiasaan yang tidak lazim saat mengenalkan diri di daerah kami, tapi kupikir mungkin ia datang dengan sopan-santun berbeda. Atau ini bagian dari prosedur yang ditetapkan oleh dinas kesehatan atau apalah, sehingga ia tak melakukan tata krama berjabat tangan.

"Saya Karlina. Maaf, rumah saya kemarin sudah disemprot disinfektan, menurut hasil tes cepat di puskes, status saya pun negatif," kataku. Seakan menolak dijemput. Pastilah orang ini dikirim dari rumah sakit. Dan barangkali dia kehujanan saat menuju ke sini. Ah, sudah kuduga. Pastilah karena perawat gila itu. Dia kemarin menganggapku berpotensi tertular wabah. Atau jangan-jangan orang itulah yang menularkan wabah. 

Kening lelaki itu berkerut mengamatiku. Ia tampak tidak setuju dengan alasanku. 

"Karlina Azhara. Melanggar Peraturan Pemerintah No. 7819 tahun 2148." Si aneh itu kemudian mengeluarkan benda yang bisa memunculkan cahaya berbentuk persegi di udara. Meskipun aku tidak tahu namanya, tapi teknologi itu kurasa amat berlebihan kalau cuma untuk paramedis yang mengurus penderita wabah.

"Maaf, Mas, siapa tadi namanya?" 

"Saga."

"Ya, itu, Mas Saga. Pokoknya Anda tidak bisa menghukum saya hanya karena menolak diperiksa. Saya bisa pastikan saya sedang sehat, lagi pula Anda ini aneh sekali, peraturan apa yang ditulis melebihi tahun sekarang? Ini 2020."

"Baiklah, aku mengerti. Terlalu lama tinggal di tempat ini membuatmu lupa asal-usul. Sebaiknya kauikut aku. Lorong waktu akan mengembalikan memorimu," ucapnya terdengar serius, atau mungkin ia sengaja bertingkah demikian dengan maksud menjahiliku melalui omong kosong yang tidak kupahami sama sekali. Lorong waktu? Dia tak menganggapku sinting, kan?

"Ke mana?" tanyaku pura-pura memercayainya.

Serta-merta ia melangkah lebih dahulu di depanku, memintaku agar yakin untuk terus mengikutinya. Dan layaknya kerbau yang menikmati dicucuk hidung, aku pun menuruti saja kemauan orang asing itu. Kami berjalan meninggalkan rumah. Bahkan belum sempat aku mengunci pintu terlebih dahulu. Kini, kupastikan kami sudah melangkah terlalu jauh. Entah berapa lama kami menelusuri semak dan perdu menembus kerimbunan hutan yang berada sangat jauh dari rumah. Tak lama kemudian, pria itu menghentikan kakinya. Dan tanpa sadar, tahu-tahu kami sudah berada tepat di hadapan lubang gelap, menganga, sebesar sumur yang terpasang di dinding tebing. 

Aku mencium bau lumpur, serta basahnya daun-daun dan kayu kering yang diguyur air hujan, sungguh aku merasai dingin di sekujur tubuhku dan lebih-lebih bergidik setiap kali memandangi lubang itu yang seolah tak memberikan kesan apa-apa, kecuali waktuku terasa tidak nyata dan panjang di hadapannya. Betulkah ini lorong waktu? Masihkah aku waras? Orang itu dengan lagak santainya kulihat sedang sibuk memindai sesuatu mengunakan piranti bercahaya yang sejak tadi ia pamerkan. Tidak! Ini konyol! 

"Pakai ini dan masuklah!" perintahnya tiba-tiba. Dia melemparkan kostum mirip robot aneh itu kepadaku, dan tentu saja aku menolak mengenakannya, maka kukatakan padanya isi pikiranku yang sebenarnya secara halus.

"Begini, Mas Saga. Anu, kupikir, a-ku, mau pulang saja."

Namun, ia tetap kukuh memaksaku tanpa berkata-kata sama sekali seakan aku tawanannya. Ia berusaha menarik lenganku dan aku memberontak

"Apa kau sudah gila?"

Dia menggeleng. Sebelum ia mendekat. Aku mulai meneriakinya. Kutekankan nada bicaraku bahwa permintaannya tidak normal, tidak wajar. Apa kau mau melecehkanku?

"Tidak! Aku ini waras. Kaulah yang sejak tadi tidak mengingat apa-apa? Apa aku ini mirip manusia di tahun ini?" sahutnya. 

Seketika pikiranku berputar-putar. Seperti baru saja tersadar. Benar, dia sepertinya bukan petugas kesehatan yang kumaksud, seseorang yang datang secara misterius, berpakaian aneh,  membawa seseorang ke lubang di hutan, kemudian memaksa seseorang memakai pakaian aneh pula, untuk alasan apa? isi kepalaku terus berlari-lari mencari jalan keluar. Tahu-tahu, entah sejak kapan ia sudah mengacungkan benda mirip senjata ke arahku. Astaga, dia menjebakku.

"Dengar, Mas Saga. Sebaiknya hentikan lawakan ini," kataku mencoba mengajaknya berkompromi. Meskipun sekonyol-konyolnya manusia, tidak seharusnya bertindak demikian. Penjahat bukanlah seorang teman baik.

Namun, lelaki itu tidak bergeming. Dalam kondisi terdesak terpaksa aku harus mengikuti perintahnya. Memakai helm, jas mirip jubah, dan bahkan sepatu tebal bak robot yang menggelikan itu.

Tanpa aba-aba, sontak ia mendorongku hingga jatuh. Dan aku diliputi sensasi terapung-apung dalam kegelapan yang tidak bisa kujelaskan seberapa pekatnya. Di dalam lubang itu kesunyian nyata benar terasa. Selanjutnya kupingku mendapati bunyi detik, diikuti lengkingan panjang, suara hentakan, sorakan, dan hiruk-pikuk. Tak lama kemudian muncul titik putih yang semula jauh, dan perlahan membesar, semakin terang, semakin terang, semakin dekat. Penglihatanku kacau. Titik itu menghilang. Menjadi hitam dan aku merasa lenyap.

***

1998

"Bangun, sssst!" Aku mendapati Saga berdiri di sebelahku. Dia sekarang mengenakan kaus putih bergambar  'pria berkopiah dan jas hitam yang wajahnya disilang'. "Ayo pergi! Kita mesti menyamar."

"Dasar! Kamu bahkan terlambat ke sini!" kataku memarahinya. Kepalaku terasa agak pusing keluar dari toilet entah di mana ini. Bau pesing ditambah perjalanan mendadak membuatku agak mual.

Pada Mei 2148, kami diam-diam masuk ke bangunan rahasia milik negara. Melakukan uji coba pertama proyek mesin waktu yang ditemukan oleh Profesor Gunta dan Profesor Marcus, dosen kami berdua.

Negara saat itu tengah dikuasai Kelompok Bayangan, usai seratus lima puluh tahun dinastinya diruntuhkan. Namun, kekuatan Kelompok Bayangan tetap mengakar di setiap periode pemerintahan. Tahun ini adalah puncaknya kekuatan mereka. Teknologi dibatasi, kebebasan dibungkam, kemiskinan dan kelaparan merajalela, sumber daya dikuras, dan hanya dinikmati segelintir orang-orang terpilih di Distrik 01.  Ibu kota yang kini maju.

Profesor Marcus adalah pemimpin misi gila ini. Ia secara rahasia mengirimkan aku dan Saga untuk mencari keberadaan Mei. Menurut beliau, Mei satu-satunya harapan untuk menghancurkan kekuatan Kelompok Bayangan yang beratus-ratus tahun menggerogoti negara kami. Melalui catatan Mei, kami akan mengalahkan Kelompok Bayangan.

"Seharusnya di sini. Sebentar lagi kita akan bertemu orang itu." Saga memeriksa alroji di tangannya. "Kita berpencar. Ingat! Cukup ambil saja catatannya."

Aku mengangguk. Kami pun berpisah. Saga ke arah timur, sementara aku ke barat. 

"Turunkan!!" teriak anak muda dengan ikat kepala sontak mengagetkanku.

Asap mengepul di udara. Bau ban gosong menusuk lubang hidung. Polisi berbaris membuat pertahanan. Orang-orang bersorak-sorak, sebagian bernyanyi lagu-lagu perjuangan. Kami menyatu dalam kerumunan, mencari-cari sosok yang dibutuhkan. Namun, nihil.

Instingku berkata lain, Mei pasti bukan berada di sini. Kususuri jalan-jalan kota sendirian, kumasuki gang-gang sempit demi mencari jejak perempuan itu.  Dan aku terhenti tepat di atas jembatan kecil. Tampak seorang gadis berseragam sekolah tengah sekarat. Wajahnya lebam, sementara rok abu-abunya berdarah-darah, ia tersengal-sengal.

Mei Fitriany, tertulis di name tag yang menempel di seragamnya. Dia orang yang kami cari. Mei adalah salah satu korban pemerkosaan sistematis yang dirancang pemimpin Kelompok Bayangan.

"Mei, kau harus bertahan." Kuguncang-guncangkan tubuh gadis itu.“Tolong! Tolong!" Aku berteriak-teriak berharap mendapatkan bantuan.

"Hei, kita tidak boleh ketahuan." Saga ternyata sudah datang menyusul.  Ia menarik tanganku paksa. "Jangan mencoba mengubah takdir. Ingat Mei akan tetap mati, yang kita lakukan ialah cukup mengambil catatan ini."

Saga meraih buku yang tersimpan di dalam tas yang tergeletak di sebelah perempuan itu. Saat itulah aku membenci Saga, aku benci laki-laki itu. Apa dia tidak waras? Perjalanan lintas waktu yang kulakukan dengan susah payah seolah tidak ada artinya. Apa salahnya menyelamatkan nyawa orang lain?

"Kau bukan Tuhan." 

"Lalu apa? Membiarkan dia mati sendirian di sini?"

"Tolong jangan keras kepala, Lin!"

"Kau pulanglah duluan, aku akan bertahan di sini," balasku ketus. Hatiku tidak tega meninggalkan perempuan itu mati tanpa mendapatkan pertolongan sama sekali. Terserah urusan takdir.

Sayangnya, dugaan Saga benar. Aku bukan Tuhan yang bisa mengubah kenyataan. Mei memang tidak meninggal hari itu karena aku menyelamatkannya nyawanya. Tapi ia mati dibunuh dua hari sebelun bersaksi di hadapan sidang Badan Perserikatan Dunia. Aku mengerti. Sejarah ini terbentuk olehku. Akulah yang ada di masa lalu. 

***

Saat membuka mata,  aku sudah berada di ruangan serba putih. Pria berkulit gelap dengan janggut beruban duduk di sebelahku. Ia memegangi tanganku. Kini,  ingatanku pelan-pelan pulih. Aku teringat, setelah mengetahui Mei meninggal, aku mencoba kembali. Namun, aku malah tersesat di tahun yang salah. Selama lima tahun terjebak berada di tahun itu, aku banyak melupakan identitasku.

"Profesor Marcus," ucapku lirih. 

"Sssst, tidak apa-aku. Kamu sekarang sudah pulang, Nak. Sayalah yang mengirimkan Saga untuk menjemputmu."

"Apa rencana kami saat itu berhasil?"

Lelaki itu mengangguk. Ada suka cita yang nampak di matanya.

"Setahun yang lalu kelompok Bayangan akhirnya berhasil diruntuhkan. Setelah catatan 150 tahun lalu itu dipublikasikan. Dunia pun mengecam, dan bukti temuan satu per satu kejahatan mereka berhasil diungkap. Regenerasi orde telah jatuh. Semuana terjadi berkat kalian."

Aku lega mendapati kabar baik itu.

"Syukurlah, lalu di mana Saga?"

"Dia belum bisa kembali sekarang. Aku memberinya misi baru mengantarkan formula demi menyelamatkan dunia dari wabah corona."

________

Tulisan ini dibuat dalam rangka kegiatan 30 Hari Menulis di grup NAD 2020 (Juni) di Facebook.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar