Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Catcalling dan Stigma Korban Pelecehan

Posting Komentar

 

"Kok bisa? Kamu enggak gunain baju aneh-aneh (seksi), kan?"

Pernahkah Anda mendengar pertanyaan ini di kolom komentar berita? atau justru mengalaminya sendiri?

Ilustrasi oleh Pixabay

Ketika seorang perempuan mengalami pelecehan baik fisik maupun verbal (catcalling), maka orang-orang pertama kali menghubungkannya dengan pakaian. Padahal, menurut hasil survei Koalisi Ruang Publik Aman (2019) menyebutkan 17% perempuan korban pelecehan seksual di Indonesia memakai hijab. Dua ilmuwan Benard dan Schlaffer (1981), juga mengklaim pelecehan yang di alami wanita di jalan Wina tidak bergantung umur, berat badan, dan pakaian yang dikenakan, maupun ras.

Dari survei pribadi yang penulis lakukan terhadap sebanyak dua belas perempuan berjilbab. Hasilnya, mereka setidaknya pernah mengalami satu kali pelecehan verbal di ruang publik.

Godaan-godaan di jalanan seperti, "Neng sini dong", "Hai cewek mau ditemani?" atau "Cantik, mau kemana?" adalah contoh ungkapan-ungkapan familiar di telinga mereka. Kadang-kadang diikuti suit-suitan nakal dan tatapan tidak wajar, sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman atau trauma tersendiri bagi para korban.

Pelecehan verbal melalui guyonan adalah cikal bakal terjadinya kekerasan seksual. Gardner (1995) menyebutkan jika pelecehan lewat komentar seksis oleh laki-laki asing di jalan, membuat perempuan merasa lebih rentan. Perasaan rentan inilah yang membuat wanita merasa sebagai objek lemah, tidak dihargai, dan tak memiliki harga diri di hadapan laki-laki.

Tidak mengherankan jika data Komnas Perempuan (2019) mencatat ada 17.088 kasus kekerasan seksual yang terjadi selama kurun waktu 2016-2018. Atau setidaknya ada delapan perempuan mengalami perkosaan per hari.

Sayangnya, di masyarakat kita kebiasaan catcalling sering kali dianggap wajar. Bahkan beberapa orang menganggap hanya candaan ringan. Padahal, wanita yang digoda sama sekali tidak merasa lucu dan terhibur atas perbuatan tak senonoh itu. Salah seorang korban catcalling misalnya, Elisabeth Glory Victory berusaha melawan pelecehan dengan cara memotret wajah pelaku catcalling di jalanan.

Televisi juga turut membudayakan catcalling melalui adegan-adegan sinetron dan FTV. Jika kita jeli, hampir setiap hari ada adegan di mana wanita disiul-siuli oleh orang-orang tak dikenal. Irama siulannya pun barangkali kita juga hafal.

Yang paling menyedihkan ialah bagaimana reaksi sesama perempuan ketika menanggapi kasus pelecehan. Alih-alih memberikan kata-kata simpati dan dukungan, malahan menghakimi korban lewat bahasan tentang pakaian yang dikenakan. Padahal, secara tidak langsung mempermasalahkan pakaian berarti sama saja menyalahkan korban.

Kita tidak sedang memperdebatkan soal lebih baik menggunakan pakaian terbuka dan tertutup, karena setiap orang memiliki batasan-batasan tersendiri dan hak atas pilihannya. Namun, yang jadi fokus pentingnya ialah mengenai kebiasaan menghakimi korban, dan budaya pembenaran terhadap aksi pelaku pelecehan yang marak terjadi sekarang ini.

Stigma bahwa perempuan berpakaian terbuka memancing pelecehan, didukung pula berkat keberadaan analogi sesat "kucing dan ikan asin". Secara tidak langsung analogi tersebut membenarkan adanya dominasi gender. Laki-laki sebagai kucing mempunyai kekuasan penuh untuk mengendalikan perempuan, sementara perempuan dipandang sebagai objek tak berdaya, lemah, dan sebagaimana ikan asin yang sewaktu-waktu bisa dimakan kucing.

Kenapa perumpamaan tersebut berat sebelah? Bukankah kita sama-sama tahu kalau kucing terdiri atas dua gender? Itu karena analogi tersebut sengaja dibuat untuk menyuburkan patriarki di tengah masyarakat. Peran laki-laki harus selalu ditonjolkan, sementara perempuan baik peran maupun suara mereka dibiarkan tersembunyi atau dianggap tidak ada.

Terlepas dari fisik yang berbeda dengan laki-laki, perempuan adalah manusia seutuhnya. Mereka punya hak atas tubuhnya. Tidak ada alasan yang bisa diterima bagi seorang laki-laki untuk menyetir tubuh perempuan. Apalagi sampai melecehkan mereka hanya karena memilih gaya pakaian tertentu.

Di samping itu, alasan karena laki-laki mempunyai nafsu juga tak patut dijadikan pembenaran. Selain nafsu, pria juga dianugerahi oleh Tuhan akal. Akal inilah yang membentuk moral, sehingga seseorang bisa membedakan hal baik dan buruk, pantas atau tidak pantas dilakukan. Artinya, sebagai manusia bermoral sudah semestinya bisa menahan diri untuk tidak dikendalikan nafsu.

Referensi:

  1. https://m.detik.com/news/pro-kontra/d-4636306/pelecehan-seksual-tak-ada-kaitan-dengan-pakaian-korban-sepakat
  2. https://tirto.id/mereka-yang-dilecehkan-dan-mencoba-melawan-b9Vi
  3. https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/melawan-stigma-dan-prasangka-terhadap-perempuan-indonesia-ckko
  4. https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191126131351-282-451567/komnas-perempuan-tiap-hari-8-wanita-diperkosa-di-indonesia
  5. https://www.alinea.id/gaya-hidup/catcalling-dan-mimpi-buruk-perempuan-di-jalan-b1UvT9I8
  6. https://www.vice.com/amp/id_id/article/akwwp4/selama-seminggu-aku-coba-mendokumentasikan-momen-saat-jadi-korban-catcall
Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar