Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Kegelisahan dalam Tulisan

Posting Komentar

 "Karya saya dipengaruhi oleh kegelisahan saya," kata Ayu Utami. Demikian intisari yang saya tangkap dari BukaTalks yang disampaikan oleh Ayu Utami melalui platform Youtube Bukalapak. Dalam video tersebut, Ayu menyampaikan bahwa  'kegelisahan' yang dahulu belum sempat terjawab kelak dituangkannya menjadi karya sastra. Saya sepakat dengan pendapatnya. Belakangan, setelah saya membaca ulang satu demi satu tulisan saya, ternyata saya menemukan banyak kesamaan yang tidak saya sadari. Tidak pernah saya berniat menulis harus memasukkan unsur ini dan itu, melainkan saya mengembangkan tema dan premis belaka. Bagian penting mulai dari sudut pandang sampai latar barangkali memang direncanakan, tetapi kepribadian dan konflik tokoh-tokoh saya, sebagian lahir dari alam bawah sadar. Sama seperti Ayu Utami yang mengorek kegelisahannya, lalu menuangkannya dalam bentuk novel, saya pun melakukan hal yang serupa.



Ada beberapa hal yang pernah menggelisahkan saya di masa kecil. Saya mulai mengintip lubang ingatan yang dahulu pernah meresahkan saya. Namun, saya akan bahas sebagian saja di sini, sebagai latar belakang cerpen yang saya tulis.


Pertama, sewaktu masih SD. Saya ingat, dahulu saya sangat takut ke WC di belakang rumah saya bila hari sudah sore. Dahulu di sebelah rumah saya belum terlalu ramai, cuma ada tanah kosong yang ditanami bambu dan pohon cempedak di sana. Tempat itu tiap-tiap menjelang maghrib atau pagi buta seringkali didatangi oleh perempuan yang rambutnya panjang terurai dan berpakaian serbaputih, kadang-kadang warna biru terang. Perempuan itu diam dan tak melakukan apa pun di sana. Karena takut, saya selalu minta ditemani emak saya kalau ingin buang air. Walaupun keluarga saya sudah menjelaskan yang saya lihat itu bukan hantu, tetap saja saya takut. Insting saya mengatakan: dia berbahaya, aneh. Tapi kenapa orang lain bisa terbiasa melihat hal-hal ganjil seperti ini?


Suatu hari saya mengamati dia dari jauh, rupanya wanita itu tidak betul-betul diam, dia sedang berbicara dengan rumpun bambu di sana, seperti berbincang-bincang dengan manusia. Lama kelamaan saya akhirnya mengerti, perempuan itu tidak mengganggu saya atau siapa pun, dia sebenarnya melakukan sesuatu yang belum saya pahami saja. 


Beberapa tahun selanjutnya, saya mulai menemukan kasus-kasus serupa: perempuan mengalami gangguan jiwa berkeliaran di jalan, di pasar, di hutan, dsb. Satu hal yang saya ingat, setiap saya bertanya kepada orang-orang dewasa, mereka berkata, wanita itu sakit jiwa karena pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga, atau singkatnya, semua disebabkan oleh suami mereka. Kenapa para laki-laki bisa menyebabkan perempuan mengalami gangguan jiwa? Saya terus bertanya-tanya. 


Kedua, kisah PKI dan orde baru. Sejak kecil, bapak saya sudah sering mendongengkan tentang kekejian PKI dalam peristiwa Gestapu (G30S). Bapak saya lahir di tahun 1959, artinya umurnya kurang lebih baru enam tahun saat itu. Namun, beliau masih ingat ketegangan-ketegangan yang terjadi baik di tahun krusial maupun pasca kejatuhan orde lama. Yang Bapak saya ingat, selama tahun-tahun itu, orang-orang saling mencurigai dan menjaga diri dari serangan yang tidak kasat mata. Adapun bagi siapa saja yang berbukti berafiliasi dengan komunis, maka namanya akan dicatat oleh aparat dalam database "bin atau binti anggota PKI", supaya kemudian hari, saat anak-anak mereka dewasa, mereka tidak bisa mendaftar tentara atau polisi lagi. 


Cerita lain yang pernah saya dapat dari bapak waktu itu adalah tentang penembak senyap alias Petrus. Di Palembang, saat bapak masih nakal dan sering pergi ke mana-mana, ia pernah menyaksikan seorang preman--setidaknya karena pria itu bertato dan punya kekuasaan--tiba-tiba mati ditembak tanpa diketahui sebab yang jelas. Mungkin dari sinilah guyonan twitter 'abang tukang bakso bawa walkie talkie' muncul dan sering digunakan sampai sekarang. Pertanyaan yang muncul di benak saya kala mendengar semua kisah itu: dari mana orang-orang bisa yakin seseorang PKI atau bukan? Apakah membunuh orang yang belum terbukti bersalah dibenarkan? Apakah para simpatisan PKI di kampung-kampung tahu bahwa mereka suatu hari akan dikendalikan untuk melakukan pemberontakan? Apakah menghukum orang lain secara diam-diam dibenarkan? Apakah membunuh bagian dari keadilan?


Dua kegelisahan itu terkubur rapat-rapat. Selama bertahun-tahun saya tidak bertanya-tanya lagi. Saya hampir membiasakan diri untuk berpikiran sempit seperti orang-orang pada umumnya. Menumbuhkan semangat anti-PKI dan meyakini semua PKI jahat, menerima bahwa perempuan memang sudah ditakdirkan untuk menjadi korban penindasan. 


Baru setelah saya masuk SMA, pandangan saya kian meluas. Saya melihat begitu banyak perempuan-perempuan dengan banyak problematik pelik mereka di masyarakat. Kata 'perawan tua', 'penggoda', 'mandul', 'penyebab tak bisa mempunyai anak laki-laki', 'neraka bagi orang tuanya', 'tak cocok kerja di lapangan', dan sekian banyak stereotip jahat tidak masuk akal dan tak seharusnya lagi dipertahankan mulai menguji ingatan saya. Orang-orang yang saya temui (baik laki-laki atau perempuan), perlahan-lahan saya sadari, mereka begitu enteng menyalahkan perempuan untuk tiap-tiap kasus yang semisal terjadi di antara dua gender. Para perempuan sendiri terpaksa menerima bahwa mereka penyebab sejuta masalah yang dihadapi laki-laki. Sebagian dari mereka mengamini semua kepercayaan turun-temurun, bahkan ketika ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang pesat, pemikiran mundur dan klise ini tetap dipertahankan. Padahal, kita bisa memandang adil atau setidaknya memakai kacamata di luar tubuh kita dalam menilai segala sesuatu, tanpa harus menyudutkan satu gender, demi mencari pembenaran dan merasa paling berkuasa.


Wanita bukan objek, setidaknya itu prinsip yang saya pegang sampai hari ini. Mereka memang individu yang memiliki fisik berbeda dengan saya, dengan semua pria di dunia, tapi mereka memiliki keinginan, akal, dan sifat sebagaimana manusia yang seutuhnya. Mereka bisa menjadi apa pun,  dan perilakunya ditentukan oleh banyak faktor, bukan cuma karena gender. 


"Mati untuk Gayatri" adalah cerpen saya yang lolos dalam ajang 30 Hari Menulis yang diadakan oleh NAD (Nulis Aja Dulu) beberapa bulan yang lalu. Cerpen ini berkisah tentang Joko, seorang narapidana yang menunggu gilirannya dieksekusi hukuman mati. Ia mengenang masa kecilnya yang sempat tergila-gila kepada seorang gadis bernama Gayatri, sehingga menginspirasi  kejahatannya. Apa yang sebenarnya menimpa Gayatri? 


Selain cerpen saya itu, ada pula cerpen-cerpen menarik dari penulis hebat seperti, Mbak Avni, Mbak Windy, Mbak Dia Nana, Mbak Lisna Anwar, Mbak Tengku, Kevin Evan, dan masih banyak nama-nama penulis yang tak bisa saya tuliskan semuanya di sini. Selain cerpen, ada juga tulisan nonfiksi pilihan, seperti artikel, ulasan film, dan ulasan buku. Salah satunya ulasan saya terhadap film horor 'The Babadook'. 



Antalogi "Ways To Remember" ini diibaratkan sebuah peti yang menyimpan berbagai jenis perhiasan. Semua naskah yang terpilih telah melewati seleksi panjang dan ketat. Sampai akhirnya dinilai oleh juri-juri yang merupakan para sastrawan yang sudah lama meramaikan khazanah sastra tanah air. Tulisan yang terbaik dari sekian banyak yang terbaik ini sangat layak dibaca oleh khalayak. Jadi, Anda tidak perlu ragu-ragu lagi kalau ingin menambah koleksi bacaan Anda. Silakan pesan melalui saya atau boleh lewat kontak yang tertera pada gambar yang ada di bawah ini. Terima kasih.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar