Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Mengintip Sisi Mencekam dari Anggur, Topeng, Jantung, dan Kucing Hitam

Posting Komentar

"Mustahil mengatakan dari mana aku pertama kali mendapat gagasan ini. Tapi begitu aku memikirkannya, gagasan itu terus mengejarku siang dan malam." (Kutipan dalam cerpen "Sebuah Kisah", Allan Poe)


Cover buku 'Kucing Hitam' karya Edgar Allan Poe (Sumber: Goodreads)

Judul Buku : Kucing Hitam
Pengarang : Edgar Allan Poe
Penerjemah : Anton Kurnia
Editor : Mathori A Elwa
Penerbit : Nuansa
Tahun : 2004
Jumlah halaman : 92 halaman

Bagi seorang cerpenis membaca cerpen karya Allan Poe adalah keharusan. Dialah arsitek cerpen asal Amerika, yang pertama kali menggagas bahwa cerpen membangun satu konsep tunggal dan mesti 'habis di baca sekali duduk'. Poe juga mungkin orang yang pertama kali menjadikan penulis sebagai pekerjaan, meskipun menjalani kehidupannya yang sangat miris.

Dari kehidupannya yang penuh penderitaan, pria kelahiran 1809 ini telah berhasil menelurkan cerpen-cerpen yang luar biasa hebat, karya yang kelak menjadi batu pijakan bagi penulis cerita horor, detektif, dan serial kriminal. Di antara karya Allan Poe yang terkenal yaitu: The Raven (1845), The Tell Tale Heart (1843), The Black Cat (1843), The Masque Of Red Death (1843), The Cask of Amontillado (1846). Empat dari cerpen yang pernah ditulis Allan Poe, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan disatukan dalam buku kumpulan cerpen berjudul 'Kucing Hitam'.

Seperti judulnya, "Kucing Hitam" terdiri dari empat cerpen horor paling fenomenal, yang diambil dari 4 buku berbeda. Cerpen pertama dibuka dengan Tong Anggur (The Cask of Amontillado) berkisah tentang dua orang kaya yang suka minum anggur. Si lelaki pintar berniat membalas dendam kepada sahabatnya seorang lelaki sombong lewat anggur Ammontillado. Cerpen kedua berjudul Topeng Maut Merah (The Masque Of Red Death) menceritakan tentang seorang pangeran yang mengadakan pesta meriah di puri mewah dan megah, demi mencegah nasib buruk dari wabah maut merah yang membuat banyak penduduk mati.

Cerpen ketiga diterjemahkan dengan judul Sebuah Kisah, dari judul aslinya The Tell Tale Heart. Mengisahkan rencana gila tokoh 'aku' untuk membunuh pria tua tanpa alasan yang bisa diterima akal, tetapi detail rencana pembunuhannya begitu jernih dan rapi.

Buku ini ditutup sesuai judul cerpennya "Kucing Hitam" (The Black Cat), yang menceritakan pengakuan tokoh aku, si penyayang binatang yang memelihara kucing hitam di rumahnya. Namun, semenjak ia kecanduan alkohol, lelaki itu mulai menyiksa dan membunuh kucing hitamnya dengan sadis. Suatu hari ia bertemu kucing serupa, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Kumpulan cerpen karya Poe ini memiliki daya tarik tersendiri. Mulai dari membaca kisah pertama sampai terakhir, kita tidak akan mudah menebak rencana gila dari beberapa tokoh. Kisahnya membuat saya terkagum-kagum pada tulisan Poe, bagaimana bisa di abad yang jauh terlampaui, saya seolah merasa tokoh-tokohnya masih hidup dan ada?

Poe tidak terburu-buru dalam mengatur jalannya cerita, benar-benar mendetail, tetapi tidak terlalu gamblang. Ia menyelipkan diam-diam ketakutan di dalam cerita. Seperti pada cerpen 'Tong Anggur", Pria Sombong yang mabuk suatu kali bertanya soal tulisan di bawah lambang keluarga sahabatnya. Jawaban tokoh 'aku', bagi saya, betul-betul menjabarkan hasrat dendam yang ia simpan dengan kalimat sok merendahnya.

Ketegangan begitu apik dibangun oleh Poe. Betapa tidak, kita dibawa ke imajinasi liar tokoh-tokoh sinting cerpen ini. Beberapa membuat saya diliputi keraguan, apakah ini ilusi personal atau kenyataan dialami para karakter? Terlebih lagi, para tokohnya 'pintar' menyembunyikan emosi manusia normal, dan cenderung menguatkan alasan kejinya dengan cari-cari pembenaran.

Dan menurut saya cerpen Poe 'Topeng Maut Merah' lah masterpiece dari sekian karyanya yang pernah saya baca. Simbol-simbolnya amat kuat, tidak sekadar tulisan apa adanya berisi dongeng pangeran dikejar kematian.

Di Topeng Maut Merah, kita akan bertemu jam raksasa dari kayu eboni yang bisa membuat seisi ruangan istana gusar, karena berdentang tiap jamnya. Kita juga akan bertanya-tanya keberadaan tujuh ruangan di puri istana milik Pangeran Prospero dengan warna-warna berbeda, kenapa dari sekian warna hanya ruangan hitam yang dijauhi orang-orang? Bagian paling mengerikannya adalah ketika kita mengetahui sosok dibalik topeng menakutkan itu.

Mencari kekurangan buku terjemahan biasanya cukup mudah, yaitu bahasa terjemahan yang rata-rata agak kaku karena terikat serba baku. Namun, saya tidak bisa berkata demikian pada karya Anton Kurnia, sastrawan sekaligus penerjemah banyak buku-buku klasik asing ke Bahasa Indonesia. Saya pernah menemukan kumpulan cerpen Poe serupa, tetapi tidak ada yang seluwes dan sesederhana terjemahan penulis buku Ensiklopedia Sastra Dunia (2019) dan Mencari Setangkai Daun Surga (2016) ini.

Kemampuan Anton Kurnia sudah tidak diragukan lagi, sebab saya lebih dahulu membaca terjemahan Hamlet (2016) yang ia tulis bersama Atta Verin dalam rangkaian seri klasik. Menggabungkan kejeniusan Poe dan kemampuan sastra Anton adalah resep terbaik membuat sastra klasik bisa tetap dinikmati oleh siapa pun.

Akhirnya, saya rasa buku klasik tidak benar-benar ikut menua untuk dibaca. Pembacalah yang berganti-ganti setiap abadnya. Oleh karena itu, tidak salahnya kita belajar meramu kisah dari sesepuh di benua yang jauh. Dan lagipula membaca cerpen Poe akan membuat kita melihat sisi dunia yang lain, seperti mencicip buah khuldi, enak tapi beracun.

Rating dari saya: 4,9/5,0

Istilah:
Masterpiece: Mahakarya

Naskah resensi ini pernah masuk 6 besar dari 200-an peserta dalam event 30 Hari Menulis di komunitas literasi Nulis Aja Dulu

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar