Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Percakapan Menuju Rumah

Posting Komentar

Aku menaiki travel. Kemudian duduk di kursi penumpang paling belakang. Kuamati satu per satu wajah penumpang yang naik. Aneh, tak ada yang pakai masker. Apa aku sudah tertinggal satu abad? Di sini aku kelihatan lebih nyentrik dengan masker yang membekap mulut dan hidung. Barangkali mereka sudah jenuh serba diatur-atur, atau mungkin sudah lelah hidup. Aku membuka ponsel. Ada notifikasi berita dari chrome tentang jumlah penderita Covid-19 naik drastis. Demikianlah, ini membuatku merasa gugup. 




"Covid-19 itu hoaks. Palingan akal-akalan biar orang kecil macam kita ini susah," kata si sopir sambil menaiki mobilnya. Ia mengatupkan pintu mobilnya dengan keras. Wajah keringatan itu menoleh, seperti sedang menghitung. Barangkali itulah wajah kemenangan karena mobilnya penuh. 

"Ah, benar nian, Mang. Aku jadi susah pulang ke rumah gara-gara korona. Asal Mamang tahu ya, sejak lebaran haji, aku baru bisa pulang hari ini. Susah nian! Apalagi dijaga ketat," sahut wanita berjilbab, usianya kira-kira 30 tahun. 

"Lah, aku pergi naik pesawat ke beberapa kota aman-aman saja," ujar penumpang laki-laki di sebelahku bersemangat. Pria itu berkemeja putih rapi, rambut klimis, umurnya kira-kira 25 tahun. Biar kutebak, dia mungkin sales. 

"Aku belum pernah naik pesawat," si wanita berjilbab menimpali.

"Wah, kamu naik pesawat apa tidak rapid?" tanya wanita yang duduk di tengah-tengah ikut bersuara. Sekilas dari penampilannya, ia mungkin masih gadis. Beberapa kali ia memeriksa isi tasnya. Mengeluarkan lipstik, kemudian becermin menggunakan ponsel.

"Sudah 3 kali aku swab dan hasilnya selalu negatif. Sudahlah, Mbak, capek dengan covid yang tidak pernah selesai ini. Pas awal-awal pandemi, kami diminta wfh, padahal cuma isi absensi. Tau, kan, sinyal jelek, kuota mahal, belum lagi tugas menumpuk." 

"Gara-gara korona kemarin-kemarin aku sering sepi penumpang," si sopir tak kalah membagikan keluh-kesahnya. 

"Kerjaanmu apa?" tanya wanita berlipstik,  mengabaikan curahan hati si sopir travel. 

"Aku kerja di bank ma*dir*," jawab si pria yang awalnya kusangka sales tadi.

"Itu bisnis yang dilakukan rumah sakit," tukas penumpang gemuk yang duduk di sebelah sopir. Ia mengembalikan fokus pembicaraan. Lelaki itu paling tua di antara semua penumpang. Usianya mungkin 43 tahun. 

"Sebab itulah rumah sakit membuat segala penyakit jadi corona," ia melanjutkan. 

"Pantas saja kita akan divaksin," sahut si sopir. 

Percakapan terus-menerus berlangsung. Aku tidak sadar telah melewatkan setengah perjalanan. Satu demi satu penumpang kini telah turun. Karena banyak ruang kosong, akhirnya aku dan pegawai bank itu pindah ke jok tengah. Di depan kami, penumpang bertubuh gemuk dan sopir asyik membicarakan fenomena covid yang menurut mereka palsu. Kadang-kadang ceritanya meloncat-loncat, membandingkan sewaktu belum ada internet, lalu mencari-cari pembenaran atas dugaannya. Sesekali si penumpang melibatkanku dalam pembicaraannya. Aku hanya menjawab 'iya' kala ia memasang ekspresi tak senang melihatkan mengenakan masker sendirian.  

Kami tiba di Kota X. Hampir mencapai lokasi untuk turun. Namun, tiba-tiba mobil kami dicegat seorang nenek. Dari jauh, aku bisa melihat bahwa mata nenek itu merah dan agak bengkak. Ia tak mengenakan masker. Awalnya, si sopir keberatan memberi tumpangan kepada nenek itu, tetapi karena si nenek membujuk dan kami (penumpang) juga tak tampak terganggu. Akhirnya, sopir itu membolehkan si nenek menaiki mobilnya.

"Sebenarnya nenek mau ke mana?" tanya sopir.

"Pulang."

"Dari mana?"

"Dari rumah sakit. Aku kabur. Katanya cuma asam urat," jawab si nenek santai. 

Mendengar kata rumah sakit, mendadak sopir dan semua penumpang lain memasang masker mereka cepat-cepat. Aku tertawa pelan, sangat pelan, sampai-sampai aku menghadap ke arah jendela luar agar suaraku tak tertangkap oleh telinga mereka. Begitukah manusia?

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar