Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Bisakah Kita Menulis Tanpa Aturan?

Saya tergelitik membaca artikel dari penulis favorit saya, salah dua penulis paling menginspirasi saya untuk menekuni bidang kepenulisan fiksi. Kurang lebih dia berkata, “Menulis itu tak ada aturan.” Saya sedikit mengernyitkan alis sewaktu membaca judul artikel itu, ya, meskipun saya sudah paham betul tabiat sang peraih Man Booker International Prize itu, tetap saja saya tergerak untuk membaca keseluruhan dari artikelnya tersebut. Kesimpulan yang saya dapatkan dari ucapannya ialah sebagai seorang penulis, kita berhak memutuskan mau seperti apa tulisan kita, dan tentu saja Eka Kurniawan tak langsung lepas kendali membebaskan kaidah-kaidah yang ada. Sebaliknya, ia tetap memberi beberapa wejangan yang kontra dengan buku-buku panduan kepenulisan pada umumnya. 

Penulis yang berpengaruh


Ada angin segar barangkali bagi penulis-penulis pemula seperti kita. Sekiranya, Eka Kurniawan tengah menghibur kita untuk tidak terbebani dengan sejumlah aturan menulis yang rumit dan penuh ‘do and don’t’. Menulis ya menulis, seperti kuda yang dilepaskan tali kekangnya, melaju entah ke mana arahnya. Hewan itu berlari terengah-engah melewati gurun tandus, hutan sadis, kota romantis, desa ajaib, planet asing, galaksi yang dihuni sejumlah alien, dan tempat-tempat yang tak pernah dijamah tangan-tangan penulis sebelumnya. Memang itulah hakikatnya menulis, membebaskan imajinasi terbang liar, menentang aturan-aturan di dunia yang nyaris selalu dibebat realitas, membawa segenap pesan, menghibur insan pembaca, menyelamatkan ide-ide sang pengarang, atau mengintip kawasan-kawasan yang mungkin diabaikan oleh segenap manusia. 

Pada dasarnya, kita, penulis generasi sekarang tak seharusnya berhenti di satu titik. Diam dan mengikuti standar cerita yang itu-itu saja. Sementara penulis-penulis sebelumnya, mereka tak pernah bermalas-malasan, mereka selalu memperbarui, memperluas, bahkan melahirkan gagasan-gagasan baru di setiap generasi mereka. William Shakespeare misalnya, telah mengarang kisah cinta tragis sepasang kekasih yang kelak mengilhami berbagai karya sastra sampai detik ini. Lalu ada Edgar Allan Poe yang membangun kengerian dengan cerpen-cerpen nyelenehnya, Mary Shelley yang menghidupkan kisah Prometheus dengan melibatkan sains, Lovecraft menciptakan monster-monster yang membuat orang-orang mempertanyakan realitas, Kafka menampilkan keabsurdan nasib tokohnya yang miris, Arthur Conan Doyle, Hemingway, Miguel de Cervantes, Gabriel Garcia Marquez, Camus, dan masih banyak contoh penulis-penulis yang bisa kita jadikan panutan bahwa menjadi penulis tak sekadar mengekor pendahulunya, tapi juga melahirkan kebaruan. 

Pada hakikatnya, saya melihat Eka Kurniawan tengah mendorong para penulis muda untuk tak selalu berjalan di area mainstream dan takut mencoba sesuatu yang baru. Dia sering kali membebaskan panduan lazim yang banyak kita ikuti. Mungkin berangkat dari pengalamannya dahulu, yang pernah mendapatkan ulasan negatif dari kritikus sastra. Dalam cuitannya di Twitter, ia sempat mengulang kembali saat Maman S. Mahayana yang pernah mengolok-oloknya dengan istilah ‘pelukis pemula yang berhasrat menjadi maestro’ kala ia pertama kali menerbitkan Cantik Itu Luka. 

“Sebagai sebuah karya kreatif, apa pun yang dilakukan kreator semuanya boleh-boleh saja. Sah! .... Tetapi, jangan pula lupa. Inovasi dengan tujuan sekadar berbeda, juga tidaklah elok. Malah, cenderung berbahaya!” (Dikutip dari Air Bah dalam Novel Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan oleh Maman S. Mahayana)

Ulasan dari kritikus sastra tersebut memang pedas terhadap Eka. Namun, tak langsung menyurutkan langkahnya untuk terus melahirkan karya lain. Terbukti, beberapa tahun kemudian ia masih sibuk menerbitkan beberapa buku, antara lain, Lelaki Harimau; O; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Dengan demikian, Eka sudah sukses membuktikan dirinya di kancah kesusastraan tanah air maupun global. 

Masalahnya, bisakah kita membuktikan eksistensi diri kita seperti Eka Kurniawan dengan gaya dan cara menulis yang eksentrik dan khas? 

Bisa iya atau tidak. Eka cuma salah satu contoh penulis yang mempunyai idealisme dan melejit dengan cepat. Nama-nama penulis yang saya sebutkan sebelumnya (atau yang tidak saya sebutkan), meskipun mereka dikenal secara luas dan menjadi tonggak sastra, sebagian mereka malah punya kehidupan yang nahas dan miris. Karya mereka baru dihargai setelah meninggal dunia, yang kebanyakan semasa hidup karya itu justru diabaikan dan dipandang sebelah mata. Ya, ada harga mahal yang harus dibayar untuk menjadi ‘berbeda’.

Jangan salah paham, saya bukan sedang demotivasi kawan-kawan penulis pemula sekalian, justru saya ingin menerangkan sisi lain dari gagasan yang sedang Eka Kurniawan bicarakan. Kita bisa lihat keseluruhan artikel tentang aturan menulis itu, ia tidak mengatakan bahwa orisinilitas hadir dari ketiadaan. Dia memperjelas, sekiranya, membaca karya pendahulu itu mutlak dibutuhkan. Kata ‘tersesat’ dan ‘tak ada aturan’ barangkali hanyalah bumbu micin yang ditambahkan si pembuat artikel untuk menggaet pembaca agar mau menyerap saripati isi artikel itu. Bukankah dalam berdagang menyenangkan khalayak dianggap perlu? 

Maksud saya, Eka Kurniawan tidak serta-merta menyuruhmu menulis asal-asalan, sekehendak hati, dan dengan percaya diri memaksa orang lain menelan bulat-bulat hasil keserampangan itu. Saya ngeri membayangkan lahirnya interpretasi nakal yang ditangkap dari seseorang yang rajin membaca judul, tapi malas membaca isi. Percayalah, biarpun kuda itu telah kita lepaskan tali kekangnya. Akan tetapi, ia tetap harus memiliki tujuan. Apalagi jika kuda-kuda itu ingin dipertemukan dengan segerombolan makhluk bernama pembaca maka tak mungkin juga kita membiarkannya dalam keadaan kotor dan menyiksa mereka. Meskipun saya sepakat dengan pendapat salah seorang mentor saya, Endah Sulwesi. Ia selalu mengingatkan saya bahwa setiap karya pasti memiliki pembacanya. 

Ketahuilah, Eka Kurniawan tidak sedang membicarakan ‘kebebasan’ terhadap kaidah penting dalam menulis seperti tanda baca, dll—Jangan lupa, di samping profesinya sebagai penulis, ia juga seorang editor, bahkan mendirikan penerbitan indie yang khusus menerjemahkan novel karya sastrawan asing. Selain itu, jangan sampai salah tafsir, Eka Kurniawan tidak sedang mencela penulis kebanyakan—seperti saya atau Anda—yang asyik mempelajari panduan-panduan baku dalam menulis atau belajar menulis karya populer, melainkan ia memberikan kita jalan alternatif, apakah memilih mengikuti aturan-aturan yang ada, atau ‘tersesat’ dahulu lalu berinovasi kemudian. Lagi pula, A.S Laksana dalam buku panduan menulis berjudul Creative Writing-nya punya saran yang mirip-mirip Eka Kurniawan, yaitu banyak-banyak membaca karya pendahulu. Menurutnya, penulis yang tidak suka membaca akan segera mengalami kemandekan bahkan saat ia masih menghasilkan karya. 

Jadi, kembali ke pertanyaan saya di awal, bisakah kita menulis tanpa aturan? Jawabannya tergantung. Jika menulis untuk kesenangan pribadi dan dibaca oleh ruang lingkup terbatas, ya sah-sah saja. Lain cerita kalau naskah itu mau dilempar ke penerbit mayor, itu menyiksa diri sendiri namanya.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya