Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Menghargai Air, Melawan Ancaman Krisis Air Bersih

Suatu hari kau baru saja terbangun dari tidur. Kau bergegas ke kamar mandi dan segera menyalakan keran air. Niatmu ingin mencuci wajah dan menggosok gigi sebentar, tetapi air tidak memancar keluar. Hanya setetes-dua tetes air yang jatuh. Setelah memutar keran berkali-kali, menggoyang-goyangkannya, dan sepertinya tak ada tanda-tanda berarti, kau mencoba memeriksa pipa ledeng, barangkali tersumbat. Namun, saat berjalan keluar rumah, alangkah terkejutnya kau. Ternyata antrean orang-orang mengambil air dari mobil tangki mengular di jalan raya. 

Ilustrasi menghargai air (sumber: PIXABAY.COM/Tama66


Fenomena di atas sekilas seperti adegan dalam fiksi. Di negara yang menguasai setengah cadangan air tawar dunia dan mempunyai iklim tropis sering kali dipersepsikan mustahil mengalami kekurangan air bersih. Seolah-olah momok menakutkan itu terjadi di Benua Afrika saja. Padahal, kenyataannya tidak demikian, beberapa wilayah di Indonesia masih terdapat masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih. Di  Kupang Tengah, NTT, misalnya. Untuk mendapatkan akses air bersih warga mesti naik-turun bukit terlebih dahulu. Lain halnya dengan Kabupaten Asmat dan Mappi, masyarakat di sana terpaksa mandi menggunakan air rawa. 

Dalam hasil kajian Bank Dunia berjudul Public Expenditure Review Spending for Better Result, Indonesia masih dianggap tertinggal jauh dalam hal akses air minum yang aman dan sanitasi yang lebih tinggi dibandingkan Filipina, Vietnam, dan Thailand (Kompas.com, 15/06/20). Sementara itu, menurut data di situs BPS (2019) populasi penduduk yang memiliki akses air bersih dan sanitasi layak di Indonesia masih ada yang berada di bawah rata-rata, antara lain, Sumatera Barat (63,98%), NTT (64,55%), dan Papua (38,27%). 

Potret kesenjangan akses air bersih ini adalah masalah yang benar-benar mengkhawatirkan. Memang betul, saat ini,  di beberapa wilayah Indonesia musim penghujan telah menjamin ketersediaan air yang begitu melimpah. Akan tetapi, di samping kelebihan itu, diikuti pula bencana banjir yang juga menambah persoalan baru. 

Sungai keruh (Dok. Pribadi)


Malangnya, sebelum adanya bencana banjir, sungai-sungai di Indonesia memang sudah banyak tercemar. Berdasarkan data Indeks Kualitas Air (IKA) oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2019),  hanya 6 provinsi di Indonesia yang mendapat predikat baik, sisanya di bawah 60%. DKI Jakarta dan 7 provinsi lainnya mendapatkan predikat kurang baik. Sementara Yogyakarta satu-satunya provinsi yang mendapat predikat sangat kurang baik. 

Keadaan ini sudah seharusnya menjadi alarm bagi kita semua agar belajar menghargai air. Pemerintah mewujudkannya dengan menyediakan akses air bersih dan sanitasi secara menyeluruh, membuat pengelolaan air  berkelanjutan, memperketat AMDAL, dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan lingkungan. 

Sementara kita, sebagai masyarakat,  menghargai air melalui 3 cara. Pertama, selalu menggunakan air dengan bijak dan cermat. Gunakan air seperlunya dan sesuai dengan kebutuhan. Meskipun di masa pandemi, kegiatan cuci tangan dan mandi menjadi aktivitas yang rutin dan lebih sering dari biasanya, tapi bukan berarti kita boleh sekehendak hati menggunakan air. Kedua, jangan pernah membuang sampah dan limbah rumah tangga di sungai maupun danau. Sampah popok misalnya, bisa menjadi penyebab air sungai dan danau terkontaminasi bakteri E. Coli, sedangkan sampah plastik dapat menghalangi resapan air di tanah. Ketiga, menanam pohon di sepanjang aliran sungai. Keberadaan pohon  di sungai dapat mencegah terjadinya banjir dan mengendalikan siklus hujan.

#HariAirDuniaXXIX2021

#MengelolaAirUntukNegeri

#SigapMembangunNegeri

Sumber:

1.https://www.bps.go.id/indikator/indikator/view_data/0000/data/1267/sdgs_6/1 

2.http://www.menlhk.go.id//site/download_file?file=1609312579.pdf

3.https://money.kompas.com/read/2020/06/25/141751226/bank-dunia-penyediaan-air-minum-dan-sanitasi-ri-tertinggal

4.https://regional.inews.id/berita/tni-ad-bangun-21-pompa-hidran-untuk-penuhi-kebutuhan-air-bersih-warga-kupang-tengah

5.https://news.detik.com/berita/d-3704987/sejumlah-daerah-di-papua-kesulitan-air-bersih-warga-mandi-di-rawa

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya