Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Perempuan dan Sebuah Mimpi Buruknya

Menua lalu mati tak ada bedanya dengan membuka mata pertama kali. Aneh, asing. Waktu itu saya menangis, merengek-rengek, bukan sedih karena yang saya lihat kali pertama di dunia seorang makhluk jelek, melainkan saya syak hati. Apalagi ketika dia menyunggingkan senyum tidak ikhlas kepada saya, makhluk bergigi keropos itu bukanlah pemandangan lazim dan menyenangkan. Terus terang saya bingung dan panik. Ketidaktahuanlah yang membikin saya begitu. Kau mungkin sudah pernah dengar, kan? Orang kalau sudah kelewat bingung, cemas, dan panik pasti dia akan menangis. Tadi saya dari mana? Mereka siapa? Mungkinkah saya terjebak di tubuh ini? Pertanyaan itu menggumpal di kepala. Spontan saya menjerit dan bahasa aneh pun meluncur dari mulut saya. Oeeek.

Ilustrasi by Pixabay.com


Ia melepas peci rajut di kepalanya, "Perempuan lagi?" 

"Begitulah," kata wanita itu. Dia jauh lebih masam lagi menatap pria itu. Namun, bola mata saya meleleh melihat mereka. Saya yang tidak mengerti mengharapkan kasih dan iba mereka. Yang saya pikir ialah mengapa mereka tak menyambut hangat keberadaan saya?

"Sesuai janji kita, Nur. Kaubawalah anak itu. Aku tidak menginginkannya." 

"Tidakkah Abang mau menyentuh anak kita ini? Setidaknya sebentar saja. Dia tak mengerti apa-apa," kata wanita itu berusaha menahan lengan si lelaki.

Pria itu menggeleng tolol, kemudian melepaskan dengan kasar pegangan Nur. "Sebaiknya ia tidak perlu tahu."

Itulah percakapan yang saya tangkap dalam mimpi mengerikan yang meneror malam-malam saya . Di usia yang sudah mencapai enam dasawarsa, yang hampir kadaluwarsa, saya masih memimpikan kejadian itu seolah-olah benar-benar akan terjadi dalam hidup saya. Mimpi tak menarik, tak menggembirakan, dan tak pula ada untungnya untuk dikenang. Kadang-kadang kalau terbangun tengah malam dan bermimpi itu lagi, saya segera mengambil sobekan kitab, bekas digerogoti rayap, lalu saya taruh di bawah bantal. Kadang pula saya coba tukar posisi tidur, mengarah ke matahari terbit, menunggingi matahari, menghadap ke arah matahari hidup. Tentu saja, tak perlu ditebak, memang tak berefek apa-apa. Orang bilang itu hanyalah omong kosong! Tapi saya suka omong kosong. 

Omong-omong menua berarti waktunya mencintai perkara omong kosong. Seperti halnya lansia-lansia kebosanan, yang merecoki menantunya yang tak meneruskan adat-istiadat, meratapi anak sulung yang tega menitipkannya ke panti jompo, atau justru memaki-maki cucu-cucunya yang tak memberikannya waktu untuk tidur siang. Semua itu ingin saya lakukan seandainya saya punya anak dan menantu seperti kawan-kawan saya itu. Nyatanya, Manar, suami saya cepat sekali pergi. 

"Suami saya itu gampang bosan, Man. Dia bisa pindah-pindah saluran televisi sebanyak dua puluh tujuh kali dalam semenit saking mudah bosannya. Sebab itulah dia minggat dari rumah, dia pikir tinggal di bawah tanah lebih enak."

"Benar-benar kau ini, Rika. Tak pula kau nampak sedih lagi selepas ditinggal si Manar. Ya, barangkali karena sadar, sebentar lagi kau akan menyusulnya."

"Macam kautahu saja akan ke mana kita mati. Bagaimana kalau ternyata kita cuma mengawang-awang? Menunggu terisap ke gergantua? Jadi jerubu?"

"Ingat-ingat umur." Herman melepas kacamata setebal telapak sandal reumatiknya. Keriput itu tak menyamarkan wajah kanak-kanaknya dahulu. "Kita ini sudah uzur."

"Jujur, Man. Aku takut rupanya kita berulang-ulang saja, persis dengan mimpiku."

"Mimpi yang mana? Aku lupa."

"Padahal sudah berbusa kuceritakan padamu, Man."

"Oh, mimpi lahir? Yang kau kira orang itu calon bapakmu, kan?"

"Yang mana lagi."

"Ajaib nian!"

"Apanya?"

"Di dunia ini perempuan yang punya satu mimpi saja cuma kau."

"Jadi kau ingat?"

"Aku ingat .Tapi aku lupa detailnya."

"Ckckck, orang tua, orang tua. Kadang aku benci sendiri menyebut kata tua. Kenapa orang tua selalu dekat dengan pikun? Untung kawanmu ini tua tapi tidak pikun." 

Saya terkekeh hebat.

"Baiklah. Mari kuceritakan kembali mimpiku itu," kata saya mengulang omong kosong seperti hari-hari sebelumnya. Mendongeng tentang mimpi kelahiran saya kepada Herman, kawan separuh badan saya itu. Biasanya saya selalu menyebutnya begitu. Lantaran tak ada yang amat karib dengan saya, kecuali pria berjenggot cahaya dengan tongkat kayu itu. Akan tetapi, semuanya tinggal cerita belaka. Betapa pengalaman itu sudah lama tidak terjadi, begitu lama, sampai-sampai saya tidak yakin tulang dada Herman yang ringkih masih berjejer dan utuh dalam lapisan tanah semula. Barangkali diisap oleh tanah sampai ke dasar tak berujung bersama paru-paru yang telah menghitam itu. Ingin sekali rasanya saya menyusul dia pabila mimpi kelahiran itu meneror lagi malam-malam saya. Ingin pula saya tanyakan kepadanya, apakah mati sama seperti tidur nyenyak? Atau jasad kita saja yang hancur, sementara jiwa kita mengambang di udara, kehilangan kesadaran, kepekaan, lalu melenyap di kegelapan malam. Jika benar, oh, betapa padatnya udara kita, Man! Saya ingin lenyap bersama Anda.

"Begini, Nek. Saya tidak bermaksud menggurui. Menurut saya, mati itu artinya kehidupan kita selesai. Putuslah segala urusan di dunia ini. Waktunya kita mempertanggungjawabkan dosa dan menimbang pahala kita," ujar Ibas, cucu Herman yang rutin mendatangi saya. Padahal masih muda dan enerjik, tapi ia nampak paham sekali urusan orang-orang tua. Saya yang (sudah begitu tua) diam saja sembari mata saya menjilati langit-langit kamar dengan nyali yang kecut. 

"Oh, sesederhana itu rupanya, Nak Ibas. Harusnya sebagai wanita berumur, saya jauh lebih mengerti," balas saya sinis dan sengaja menghindari menyebut kata tua.  Pun dalam hati terus-terusan merutuk: kau terlalu mendikte nenek yang hampir mati ini, wahai anak muda. 

"Nenek takut meninggalkan dunia ini?" tanya Ibas. 

Saya pura-pura tidur.

Pembicaraan ini terjadi spontan. Entah angin apa yang membawa kerinduan saya kepada percakapan rahasia nan ganjil antara saya dan Herman. Lagi pula ucapan Ibas bukan perihal baru bagi saya. Namun, sebetulnya jawaban itu tak memuaskan hasrat saya. Saya takut kematian tidak memutus rantai kehidupan, malahan sekadar siklus. Saya benci perasaan hampa, ketidaktahuan, ketidaksadaran. Semua membikin saya cemas. 

Saya berpaling ke jendela. Dahulu saya pernah tinggal di seberang sana. Dua puluh tahun saya menghabiskan waktu bersama Herman, menerakan kekonyolan ide-ide liar saya tentang kematian. Barangkali benar perkataan perawat itu, bahwa sebenarnya saya terlalu takut, takut mati, takut tak bersisa lagi di kehidupan ini. Dari jendela kamar lantai 7 itu, saya dan Herman pernah mengibai pasien-pasien yang tirainya sedang terbuka kala itu. Kini, saya tidak tahu. Adakah pasangan di seberang kamar itu tengah mengasihani saya juga?


Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar