Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Dua Pertiga Kehangatan

"Andai aku menjadi kamu." Lea terbangun di tengah malam. Ia berbicara kepada salah seorang dalam potret pernikahan berbingkai kayu terukir.

Pukul sebelas malam, laki-laki di dalam gambar itu belum juga menyusul. Ia mencoba tidak mencemaskannya sama sekali. Bukankah itu sudah biasa? Ia membatin.

dok pribadi


Lea menyingkap selimut. Membiarkan sebagian tubuhnya terbuka begitu saja. Buat apa pakai selimut? Pikirnya. Lagi pula kehangatan sedang dibawa lelaki itu pergi. Barangkali, saat ini masih mengantarkan dua pertiga kehangatan yang lain kepada keluarganya.

Dua pertiga kehangatan itu seharusnya hanya boleh diberikan padanya. Satu pinta yang terenggut. Padahal Lea tak pernah meminta muluk-muluk, juga tak menginginkan yang lain-lain. Termasuk semua gaji, bonus, dan tunjangan laki-laki itu punya, karena ia bisa, memberikan sepuluh kali lipat dari semua aset yang pria itu miliki.

Lea sebenarnya tetap tidak puas atas jatah sepertiga kehangatan yang Ale berikan. Itu sedikit, dan tidak sebanding atas semua pengorbanannya. Ah, pengorbanan? Baginya, dalam kisah cinta ini pengorbanan itu ada pada perempuan, bukan laki-laki. Segala konsekuensi lebih berat didapatkannya, ketimbang Ale.

Pengorbanan berat sebelah, ibarat jungkat-jungkit di sisi kanan ia duduk sendirian, sementara di sisi lain ada tiga orang: Ale, istri, dan anaknya. Kadang Lea sering berkhayal, bagaimana seandainya suatu hari mereka diam-diam bersatu kembali, lalu menertawakan ia yang sendirian berada di bawah sini? Bagaimana bila Ale tak mau mengisi sisi kosong di ranjangnya lagi? Atau bagaimana jika Ale mengambil kembali sepertiga kehangatan tersisa?

Namun, Lea menepis suara kecurigaan yang terus berbisik di telinganya. Mustahil itu akan terjadi. Karena dia yakin, Ale mencintainya dibandingkan siapapun.  Keyakinan inilah yang membuat dirinya selalu optimis menjalani hubungan, walaupun mesti dibenci orang di sekitarnya.

Lea meraih potret di sampingnya, lagi. Kali ini ia tak lagi fokus pada orang yang berada di sebelah Ale. Dia hanya membayangkan jika sebentar lagi pria itu akan jadi miliknya saja, tanpa ada gangguan dan hambatan dari masa lalunya, kemudian membangun rumah tangga harmonis, jauh dari anak dan bekas istrinya.

Tapi, Ale belum meneleponnya dari kemarin. Sesuatu yang jarang terjadi dan aneh. Biasanya, meskipun ia di rumah bersama istri membosankannya itu, ia akan tetap mengabari, memberi kecupan sebelum malam datang menjelang.

"Lea, ini cuma sebentar. Aku tidak ingin membuat istriku mengamuk. Kamu tahu sendiri kan seperti apa? Aku takut dia menyakitimu, " ucap Ale lirih. Sorot mata laki-laki itu tidak menunjukkan kebohongan, mungkin ada, tapi dia berikan untuk istrinya, bukan aku, batin Lea. Ia mengenang saat-saat jatah dua pertiga kehangatannya pertama kali direnggut.

Bagi seorang Lea, cinta adalah kewajaran. Manusialah yang membuatnya jadi rumit dan dibatasi. Ia tidak serta merta membuka pintu, jika tak ada yang mengetuknya berkali-kali.

Perkenalan ia dan Ale tidaklah sebentar. Sejak kuliah,  ia kerap menggantungkan hubungannya sebagai pertemanan intim belaka. Bukan Ale saja, ada beberapa laki-laki lain yang ia jadikan sahabat mesra, hingga cap Pemberi Harapan Palsu (PHP) sering kali dilabelkan padanya.

Tujuh tahun kemudian, tak disangka mereka dipertemukan lagi di kantor yang sama. Ale kini berubah di mata Lea. Dia memiliki kharisma dan senyuman menawan yang membuat pendirian Lea jadi runtuh seketika. Ditambah lagi, Ale memberi perhatian yang sama, seperti saat mereka dekat di kampus dahulu.

Mereka mula-mula menggunakan topeng sebagai atasan dan bawahan. Janjian tiap-tiap makan siang, ke bioskop, 'dinner', kadang sampai bermalam di hotel sekali waktu. Namun, bagi Lea itu belum cukup membuatnya puas dan diakui. Apa bedanya ia dengan perempuan jalang kalau sekadar menemani satu hari?

Dan untuk memperkuat pondasi ikatan, Lea menuntut agar Ale membawanya ke vila di puncak milik ayah Lea. Perkara yang mudah, ia hanya perlu meyakinkan ayahnya jika mereka datang untuk memeriksa bangunan itu, sebelum benar-benar dijual kepada klien nantinya.

Yang sebenarnya sulit ialah Ale. Dia sampai berbohong kepada sang istri bahwa pergi untuk menemui klien di luar kota, dan itu tidak bisa tanpa kehadiran Lea, atasannya.

Sang istri tentu tidak menerima begitu saja, dia mencium perselingkuhan itu jauh-jauh hari. Tetapi, Ale pintar menyembunyikan semuanya, dia memanfaatkan sisi agamis sang istri untuk menyetir keinginannya. Dan, perempuan itu jelas tak bisa menolak, memangnya ia bisa apa, tanpa uang dari Ale?

"Istrimu tidak bertanya lagi?" tanya Lea.

Ale mengangguk. Itu agak melegakan bagi Lea, karena artinya ia tidak akan membalas ratusan 'chat' lagi atau bicara lemah lembut hanya buat meyakinkan, jika di antara mereka berdua tak ada hubungan apa-apa.

"Aku semalam bilang kalau aku cuma rekan kerjamu. Untungnya istrimu tidak marah-marah, dia juga tak bertanya hubungan antaraku dengan direktur." Lea menyandarkan kepalanya ke pemilik bahu kokoh yang sedang fokus menyetir itu.

"Urusan istriku jangan kamu pikirkan, biar aku saja mengaturnya. Fokuslah dengan liburan kita." Ia meraih ponselnya, menyodorkan pada Lea. "Lihat ini, dia minta maaf padaku. Selesai, kan? Sekarang kamu menoleh ke belakang dan periksa ada apa di jok sana." Senyum Ale merekah mengatakan itu. Padahal tanpa diberi tahu, Lea sejak tadi memang terfokus pada kado merah kecil di belakangnya.

"Ah, sebuah cincin? Kamu serius, Le?"

"Tertulis A dan L di sana." Ale memperbaiki  kacamatanya. Tidak ingin terlihat gugup mengatakan itu.

Spontan wanita itu memberikan tanda manis di pipi prianya, sembari berbisik, "Terima kasih, Aleku."

Senja yang tenang menemani mereka di jalanan lenggang, berdua saja, ditepuki angin dan diintip pepohonan kanan-kiri, seolah luas dunia dan semestanya cuma menyambut kedatangan mereka.  Semakin jauh perjalanan, hawa dingin tidak terlalu terasa lagi.  Sebab, dua pertiga kehangatan resmi jadi milik Lea.

....Who knows how long I've loved you. You know I love you still. Will I wait a lonely lifetime? If you want me to I will...

Gelora asmaraloka terbang melayang-layang ditemani lagu favorit Lea yang ia setel berulang-ulang di perjalanan. Dia tidak pernah menyangka jika dua pertiga itu kelak akan ditarik lagi darinya, setelah kebohongan terbongkar dan mereka terpaksa berskenario 'bubaran'. Langkah terbaik demi menenangkan istri Ale yang kerap mengamuk.

***

Malam makin larut dalam keheningan, ia ingin mengatupkan jendela kamar sediakala. Tapi terhenti, terlena memandang gumpalan hitam di langit. Tidak ada rembulan dililit lingkaran putih, juga gemintang.

Hampir ia terhanyut menatap ayunan daun-daun kihujan yang melipat di tiup angin. Sebelum akhirnya dia tersadar bahwa ponselnya berdering, sebuah pesan dari seseorang masuk.

Mendapati isi pesan itu ia tersenyum merekah. Kini kehangatan selamanya miliknya. Berterima kasihlah ia pada firasat mendung.


Catatan:

 1. Dinner: makan malam

 2. Chat: obrolan

 3. Lirik lagu yang disetel Lea berjudul "I Will" dipopulerkan oleh The Beatles.


Cerita pendek ini pernah diikutsertakan dalam kompetisi menulis di 30HM NAD 2020. 

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya