Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Faust, Si Monyet di Kepalaku

Hampir saja aku melemparkan pengecas ke cermin lemari saking kagetnya dengan pemandangan yang berada di hadapanku. Seharusnya aku tidak begitu terkejut lagi, bukankah mengenai hal ini sudah diwanti-wanti oleh si pendengar setiaku itu? Namun, siapa yang bisa menghalangi perasaan kaget ini? Bahkan cemas dan ketakutan yang sudah lama bercokol di kepalaku sulit untuk aku bendung. Segera aku raih buku catatanku, maka dengan coret-coretan sekenanya dan genggaman erat, aku menggoreskan tinta pena biru yang hampir habis. Aku perlu menuliskan penglihatan ganjil ini, seperti kata sang pendengarku tempo hari bahwa di situasi terburuk, cobalah untuk tidak khawatir. 



09/09/2019

Monyet itu di kepalaku. Dia di atas kepalaku!

Aku? O, jangan kalian mencoba mengejekku begitu. Aku benar-benar tidak tahu sejak kapan dia bergelayutan di kepalaku. Ekornya bergerak-gerak mengenai mulutku, dan kau tidak lihat saja, bagaimana ia menjilati dahiku, menggigit hidungku. Kurang ajar! Monyet itu membuatku seakan-akan tidak berdaya. Baiklah, kuakui tak ada cara yang bisa aku lakukan untuk mengusir dia dari kepalaku. Sejujurnya, aku ingin sekali menangkapnya, tapi dia sangat lincah dan liar, dia bukan jenis monyet rhesus biasa. Kalau biasa, tentu sudah aku jadikan dia bahan eksperimen konyol, misalnya mengganti isi otaknya dengan otak manusia hanya untuk mengejek teori Darwin [1]—OMG! Kok, kau malah mirip manusia-manusia kebanyakan yang hanya berempati kepada satu binatang lalu kejam kepada binatang yang lain. Tunggu! Memangnya monyet sialan itu binatang? Oke, aku setuju dia punya fisik macam kera yang biasa aku lihat di buku-buku atau di televisi, weh, tidak! Dia jelek, sekilas jika kau melihatnya lebih dekat, monyet ini mengingatkanmu dengan rupa kerbau. Astaga! Kau rasis sekali kepada binatang lain. Dengar kawan, jika ada suara-suara lain yang menyelinap dalam tulisanku itu bukan aku. Monyet sialan itu pelan-pelan mulai mengendalikan pikiranku. Dia ingin aku memikirkan banyak hal. Dia ingin mengacaukan fokusku. Dasar! Kaupikir dengan mengadu begitu mereka semua akan percaya? Kaupikir mereka akan dengan mudah menemukanku dalam tulisanmu yang bikin menguap itu? Dengar ya bego, berhentilah menulis daripada kau menyedihkan seperti ini. Aku lebih valid daripada orang-orang yang ada di sekitarmu. Mereka palsu. Akulah yang nyata. Akulah yang paling bisa kaupercaya.

“Saya sudah tidak tahan, Pak! Saya ingin monyet ini pergi dari kepala saya.”

“Tenangkanlah dahulu diri Anda."

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya. Kursi kayu yang tengah kududuki terdengar bergeser beberapa kali. Kakiku tak henti-hentinya bergerak kecil, seperti ingin membawa aku keluar dari tempat ini. Namun, jemariku dengan keras mencengkeram tangan kursi. Tidak ada alasan buatku menyerah dari keadaan ini. 

“Sekarang jika Anda sudah rileks, pelan-pelan ceritakan kepada saya. Apa yang sebenarnya tengah menimpa Anda?”

Dia ingin mendengarmu saja, dia mana peduli urusanmu itu. Sama seperti pendengarmu yang sudah-sudah. Sekarang tinggalkanlah ruangan ini, mari kita bicarakan baik-baik.

“Anu, Pak. Saya ....”

“Ya, Anda kenapa, Pak? Kalau saya tak salah dengar, tadi Anda ingin membahas tentang monyet di kepala? Apa Anda melihat sesuatu yang ganjil atau mungkin semacam mimpi buruk?”

“A-anu, Pak. Bukan mimpi lagi, tapi saya sekarang sudah melihatnya sendiri dengan mata telanjang. Ini dia, Pak. Ada seekor monyet di atas kepala saya.” Aku menunjuk ke atas kepalaku. 

Cih! Dasar bodoh! Apa yang kau harapkan dari pria itu? lihat wajahnya mirip guru SMP yang pernah memukul kepalamu dulu? Coba perhatikan rahangnya yang lebar, matanya yang besar, komplit, dia pasti punya sifat yang sama dengan guru SMP itu. Dia akan memanfaatkanmu. Hati-hatilah!

Pria yang kusebut si pendengar itu bengong sebentar. Ekspresinya yang semula datar dan hambar mendadak berubah menjadi berseri-seri, seolah-olah dia benar-benar bisa melihat primata yang ada di atas kepalaku. 

Kautahu? Dia berpura-pura memercayaimu, tapi tunggulah, tak lama lagi dia akan menyarankanmu ke psikiater karena menurutnya kau sudah tidak waras. 

“Saya mengerti keadaan Anda, Pak. Anda pasti telah melalui hari-hari yang berat sendirian. Anda berjuang sendirian melawan rasa takut, cemas, dan ragu-ragu yang selalu menghantui hidup Anda.”

“Kata siapa?” balasku ketus. Aku tak mengerti kenapa jawaban tiba-tiba begitu. Monyet itu nyata. Kenapa jadi membahas perasaanku sih? Jangan-jangan benar kata monyet tadi, orang ini berbohong, dia berpura-pura melihat sesuatu supaya menyenangkanku.

“Bapak bisa lihat monyetnya, kan? Dia jelek, kan? Apa menurut Bapak saya ini aneh?”

“Kapan pertama kalinya Anda melihat monyet itu?” tanya lelaki itu ramah. Ia tak terlihat tersinggung dengan tanggapan saya sebelumnya.

“Jawab dulu pertanyaan saya, Pak! Saya sudah sopan, lho bertanya sama Bapak.”

“Hmmm, saya rasa kemampuan Anda itu tidak dimiliki semua orang.”

Dia bohong. Dia ingin menyebutmu gila, tapi dia menahannya. 

“Begitu ya?“

“Baiklah, silakan giliran Anda menceritakan penemuan monyet itu.”

“Kejadiannya kemarin, Pak. Saat itu saya sedang bermain medsos. Saya tidak sengaja menemukan postingan orang yang pernah menyakiti saya. Dia membuat postingan yang membuat saya marah, sangat-sangat marah, sampai-sampai saya ingin mengambil pisau dan menusuk matanya. 

"Ia menulis begini, ‘Saya pernah menjadi orang baik dan kini saya akan terus berbuat baik.’ Lalu orang-orang bodoh berkomentar di postingannya, mereka memuji-muji dia. Konyol, nggak? Dia itu orang jahat yang pernah saya kenal. Demi Tuhan dan segala ciptaannya! Saya adalah korbannya, dan sekarang dia begitu percaya diri berkata bahwa dia orang baik? Oh, tidak mungkin saya bisa diam.”

“Jadi, apa yang Anda lakukan setelah itu?”

“Saya berkomentar juga di postingannya. Saya tulis: ya, Anda memang orang baik-baik.”

“Komentar Anda rupanya sindiran halus? Lalu apa yang membuat Anda terus merasa marah?”

“Masalahnya, dia tidak membalas komentar saya, Pak. Ada 30 orang yang menulis komentar, hanya komentar saya yang tidak dia balas. Egois banget, kan? Langsung saya edit komentar saya dengan kalimat sadis, ‘Hei Bedu! Bapak lo udah modar belum? Harusnya dia malu punya anak setan kayak lo. Hahahhaah, munafik!’ Tidak lama kemudian muncul balasan-balasan komentar dari orang-orang. Saya rasa itu kawan-kawannya Bedu. Mereka tiba-tiba membalas komentar saya dengan kalimat lebih kasar. Mereka bilang saya macam-macam, bahkan ada yang mengancam akan mendatangi rumah saya. Pada saat itulah, monyet sialan ini menggeragau di rambut saya. Awalnya, saya kira ada kucing yang tengah meloncat di kepala saya, tapi kucing tidak melengking dan sekasar itu kepada tuannya. Dan bisa Bapak tebak apa yang terjadi selanjutnya? Saya berjalan ke arah cermin dan melihat makhluk jelek ini sudah bertumpu di atas kepala saya.”

Aku menceritakan semua masalahku kepada lelaki itu. Masa laluku yang tidak beruntung. Dia mendengarkanku dengan seksama. Kadang-kadang aku curiga, kalau-kalau pria itu berusaha menahan kantuk sewaktu mendengarkan ceritaku, tapi yang kulihat dia tidak menggerakan bibirnya sama sekali demi memberikan perhatiannya kepada kisahku. Beberapa kali dia mengangguk-angguk kecil seperti riak-riak di antara sungai yang mengalir tenang. Aku semakin bebas berkeluh-kesah, tanpa rasa malu lagi, membuka aib di hadapan orang asing. 

“Baiklah, saya mulai mengerti awal mula masalah Anda. Jika saya boleh bertanya, apa yang monyet ini lakukan kepada Anda selama beberapa hari, sebelum Anda memutuskan menemui saya hari ini?”

Jangan beritahu dia. Dia tidak akan membantumu.

“Saya akui, kalau Bapak bukan psikolog pertama yang saya datangi. Sebelumnya ada Pak Ridwan, lalu Mbak Nia, dan yang terakhir Bu Desi. Hanya Bu Desi yang tahu tentang monyet ini, tapi dia meninggal dua hari yang lalu karena Covid-19. Dua psikolog lainnya saya datangi ketika si monyet belum sama sekali muncul di hidup saya. 

“Yang monyet ini lakukan kepada saya, antara lain membisiki saya kalimat macam-macam, meracau, dan mengatakan hal yang tidak-tidak. Biasanya dia mengkritik, merendahkan, atau membuat saya terjebak di lingkaran setan yang saya bangun sendiri. Dia selalu menyuruh saya melakukan ini-itu yang sebetulnya amat saya benci. Dia memaksa saya melihat masa lalu yang begitu buruk. Sering kali dia membicarakan tentang tindakan jelek orang-orang terhadap saya, bahkan dia memberikan saya bayangan kasar bagaimana tingkah orang setiap kali melihat saya sedang melakukan kesalahan.”

“Lalu?”

“Di sisi lain, dia juga memberikan saya gambaran masa depan yang indah, bahagia, dan damai.”

***

Aku meninggalkan ruangan itu tanpa pamit. Lagi-lagi benar kata monyet jelek ini kalau si pendengar nomor empat pasti akan menyarankanku pergi ke psikiater. Katanya sakitku sudah parah, akut, berat, dan carilah semua padanan yang tepat untuk melukiskan keadaanku yang menurutnya sudah melewati ambang batas kewajaran manusia normal. Secara tidak langsung dia mengamini bahwa aku tidak sehat, bahwa aku sakit, sehingga yang bisa kulakukan hanya menenggak obat-obat pahit demi menghilangkan wujud monyet di kepalaku. Akan tetapi, bukan itu yang aku butuhkan. Monyet itu tidak akan pernah raib sekalipun aku mati. 

Faust, aku memberi namanya begitu. Kini, dia tak senakal saat kami pertama kali bertemu dahulu. Faust sama seperti kita, dia bisa kelelahan kalau seharian cerewet mengomentari urusanku, lalu ia akan merengkuh kepalaku dan tidur nyenyak manakala aku bermeditasi sejenak. 

Aku sadar Faust sebenarnya tak ingin menyakitiku. Mungkin benar, akulah yang terlalu menyebalkan dan kerap ingin melenyapkannya. Barangkali dia terlalu mencemaskan keadaanku, atau mungkin ia takut sekiranya aku terluka seperti sebelumnya. Faust yang kukenal itu memang tidak pernah berubah, tetapi aku mulai terbiasa mendengarkan semua kalimat-kalimat pahitnya. Yang ia katakan sebagian hanyalah replika dari kenyataan. Faust mengarang kisah berdasarkan pengalamanku di masa lalu. Dia melakukan itu semata-mata melindungiku. Namun, aku sadar bahwa semakin dewasa kita, perlindungan sudah tak begitu diperlukan. Aku harus terbiasa dengan penolakan, kemarahan, kebencian, dan ketidaksukaan orang-orang. Tembok tebal yang Faust bangun untukku justru akan menyulitkanku untuk hidup dengan tenang. Meskipun demikian, aku tetap menghargai usahanya. Kini, kami berteman. Faust, mau tidak mau mesti mengikuti keinginanku. Seperti mantraku kepadanya, mantra yang membuat ia akhirnya takluk kepadaku, "Di dunia ini tak ada yang sempurna, tak ada yang tak bercela, maka maafkanlah. "


Catatan:

[1]. liputan69[dot]com/global/read/3939577/ingin-bantah-teori-darwin-peneliti-masukkan-otak-manusia-ke-dalam-monyet

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya