Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Kartu Terakhir

"Dia bukan anak kandungku, aku memungutnya dari jalanan," kataku sebelum orang-orang membuka mulut pada suatu waktu. Saraf sensorik di tubuhku segera dengan cepat menangkap prasangka tersembunyi di tempurung kepala mereka. Mereka haus akan jawaban, jadi kuberikan seteguk di awal sebagai permulaan, berharap pada tegukan kedua, ketiga, sampai terakhir, mereka mengikuti alur jawaban yang sudah kubuat sebelumnya.

Ilustrasi by Pixabay

Pengalaman pernah mengajarkan padaku tentang satu hal bahwa tidak ada pertanyaan yang tidak berlanjut. Seperti domino yang dibariskan tegak berjejer, kemudian satu terjatuh menimpa satu yang lainnya. Tetapi dari sekian kartu-kartu yang rubuh beraturan, selalu ada penghabisan, itulah kartu terakhir, kartu yang tak boleh dibaca siapa pun.

Kubiarkan putriku sepenuhnya menjadi insan yang benar-benar baru terlahir ke dunia. Yang suci sebagaimana bayi-bayi baru saja Tuhan berikan ruh ke dalam badan. Dia tak boleh terluka apalagi merasai pahit dan getir kehidupan. Berbahagia menjadi individu tanpa beban.

Sejak Mutiara masih bergelayut di tubuhku, sampai akhirnya ia lancar menyanyikan lagu Balonku, dirinya tidak memiliki kepercayaan tentang siapa ibunya. Kurasa itulah cara terbaikku demi menghentikan segala upaya orang-orang membuatnya terperosok ke jurang mematikan.

Suatu hari, saat dia telah mengenal dunia lebih baik daripada ibunya yang nista maka tidak akan sehari pun kuizinkan dia berada di sini. Segera kukirimkan ia ke tempat orang-orang tak mengenal asal-usulnya lagi. Dia layak menikmati kehidupan mandiri tanpa menanggung konsekuensi perbuatan orang lain, dia layak bahagia meskipun hidup hanyalah repetisi penderitaan belaka.

"Aku tidak tahu siapa orang tuamu, yang pasti bukan aku. Kau boleh memanggilku apa pun, asal jangan katakan bahwa kau putri kandungku."  Aku mengatakannya bersungguh-sungguh. Pada awalnya, sama seperti anak balita yang lain, ia tentu menangis dan mencoba menolak kenyataan. Tapi aku mengulangi kalimat yang sama, dari pagi ke sore, dari sore ke malam, mengucapkannya seperti mantera yang menyihir pikirannya. Berhari-hari aku memaksanya percaya hingga akhirnya ia hafal dan tak lagi menangisi kenyataan pahit itu.

Jahat? Iya, aku memang jahat. Biarkanlah penilaian manusia begitu.  Jika dengan menjadi jahat bisa membuat putriku terbebas dari ibunya maka akan terus kulakukan. Sebab dia tak boleh mengikuti jejak ibunya, biarlah aku saja menjelma jadi siluman kupu-kupu saat malam tiba, dan berubah jadi manusia kala fajar kembali.

Hari ini aku memutuskan pulang kerja lebih awal dari biasanya, pukul empat, sebelum azan subuh berkumandang, sebelum tatapan jijik dan sinis kutemukan di jalan-jalan. Mungkin bagi mereka aku ini sampah, bahkan di kota terkutuk yang bau limbah, bangkai, dan selokan mengalir di sepanjang sungai-sungai perumahan kumuh, tetap saja orang sepertiku dianggap onggokan sampah. Lalu kenapa? Peduli apa mereka dengan perutku dan putriku yang butuh makan.

Kusingkap kain gorden penutup kamarnya lalu kutemukan gadis itu belum terlelap. Di kursi plastik merah muda ia masih duduk melamun memikirkan sesuatu.

"Ada apa? Kenapa kau belum tidur?" tanyaku datar. Kuatur nada bicaraku supaya terdengar tak khawatir, padahal aku mencemaskannya, anak kecil mana begadang sampai jam 4 pagi?

Ia menggeleng cepat. Ada gerimis di bola matanya yang bulat. Aku mencoba tidak bereaksi apa-apa walaupun aku tidak mampu menyembunyikan rasa takut di dalam diriku.

"Katakan saja," kataku seadanya. Ia menatapku lama sekali, aku bisa bisa membaca bahwa ia sedang memendam sesuatu.  

"Ibu," katanya terisak, lalu tersendat. Aku melihat ada kegelisahan di matanya. Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi ia urung mengutarakannya padaku. Telunjuk mungilnya menunjuk ke kertas dibalut plastik yang tergeletak di atas meja. Ujungnya basah, terkena kulacino dari gelas belimbing yang baru berkurang setengah.

Ayahku, Pahlawanku.

Sebuah tulisan tertera di bagian muka undangan itu. Tangan dan kakiku mendadak kehilangan suhu. Serta-merta aku terduduk  hingga terdengar bunyi berderak-derak dari dipan kayu. Aku tidak sanggup lagi menutupi kesedihan mendalam di dadaku. Itulah kartu domino terakhir, masalah dari segala masalah paling menyiksa selama ini. Tidak cukupkah hari ibu mewakilkan penderitaan selama sembilan bulan sepuluh hari yang kujalani sendirian? Aku membenci kertas itu. Terkutuklah pencetus perayaan hari ayah. Apa dia tidak tahu banyak anak di dunia ini yang tidak berbapak? Tidak mengertikah dia lebih banyak laki-laki keji dan jalang daripada perempuan macam aku?

Mutiara berjalan ke arahku. Ia mendekat pelan-pelan, kemudian hendak menyentuh tanganku. Namun, ia tidak berani. Hening, ia bisu memandangiku yang menangis pertama kali di hadapannya.

Seharusnya tidak begitu yang terjadi. Seharusnya kurengkuh, kusambut, dan kukatakan mantra-mantra positif dunia pada Mutiara. Seharusnya kulantunkan bait-bait asa bahwa di hari esok akan selalu baik-baik saja. Sayangnya, aku telah bersumpah tidak mau memberinya dekapan nyaman sejak dia berumur lima tahun. Itu bakal menyiksanya suatu hari saat kami memutuskan berpisah. 

Kugenggam jari-jemarinya yang halus. Dia mungkin bisa merasakan telapak tanganku yang dingin. Hawa daba dari napas kami pun lantas menyatu, terkondensasi bercampur baur membentuk kesepakatan sehari.

"Jangan takut aku akan tetap datang. Kau tenang saja." 

***

Aku melangkah ragu-ragu, masuk ke dalam ruang kelas yang ditata sedemikian rupa. Kursi dibuat menghadap ke bagian sisi depan yang dihias menyerupai panggung. Riuh bisik-bisik kecil kala aku duduk mengisi kursi kosong di sebelah putriku. Anak-anak lugu di sebelah bapaknya barangkali bertanya-tanya keheranan: Kenapa ada ibu sahabatnya yang datang? Ke mana ayahnya?

"Bu, mari isi sebelah sini." Mutiara menunjuk ke arah kursi di sebelah kanannya. Aku yang gugup segera mengikuti instruksi dari putriku. Namun, detik ketika aku menempelkan punggung ke kursi kayu. Mataku langsung tertuju pada seorang pria paruh baya di kursi paling depan, ia tertawa bahagia bersama seorang perempuan kecil di sampingnya.

Kartu-kartu yang lama kusembuyikan terbuka pelan-pelan. Dialah rahasia yang tak pernah kusampaikan, tak seorang pun bahkan mengetahui rahasia setan yang bertahun-tahun lamanya aku simpan sendirian. Samar-samar bayangan masa lalu muncul. Teringat aku kisah paling menakutkan lima tahun silam. Tengah malam itu tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Dia memanggil-manggil namaku dengan sapaan manis.

Aku seorang gadis lugu yang dinistakan oleh iblis tak berperasaan. Sesak dadaku mengingat hari ketika Bapak tega memukuli dan mengusirku dari rumah, sementara Ibu tidak mengatakan sepatah kata pun untuk membelaku. Iblis itu cuma diam mematung, seolah-olah dia tak bersalah, seolah-olah dia bukanlah penyebab utamanya. Demi Tuhan, aku jijik membayangkan kartu terakhir ini diketahui siapa pun.

"Fitri?" Suara lelaki iblis itu memanggilku tatkala aku dan Mutiara menghambur keluar dari pintu gerbang. Aku menulikan telinga, memboyong putriku sejauh-jauhnya dari pandangannya. Tidak ada hari ayah buat Mutiara, dia lahir tanpa orang tua.

"Fit! Fitri! Bapak mencarimu! Dia ingin minta maaf padamu!" Orang itu terus berteriak-teriak memanggilku, menyebut nama yang sudah lama kulupakan.


Ditulis dalam rangka #NAD_30HariMenulis2020.


Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar