Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Kartu Terakhir

Dia bukan anak kandungku, aku memungutnya dari jalanan. Kataku sebelum orang-orang membuka mulut pada suatu waktu. Saraf sensorik di tubuhku segera dengan cepat menangkap prasangka tersembunyi di tempurung kepala mereka. Mereka haus akan jawaban, jadi kuberikan seteguk di awal sebagai permulaan, berharap pada tegukan kedua, ketiga, sampai terakhir, mereka mengikuti alur jawaban yang sudah kubuat sebelumnya.



Pengalaman pernah mengajarkan padaku tentang satu hal, bahwa tidak ada pertanyaan yang tidak berlanjut. Seperti domino yang dibariskan tegak berjejer, kemudian satu terjatuh menimpa satu yang lainnya. Tetapi dari sekian kartu-kartu yang rubuh beraturan, selalu ada penghabisan, itulah kartu terakhir, kartu yang tak boleh dibaca siapa pun.

Kubiarkan putriku sepenuhnya menjadi insan yang benar-benar baru terlahir ke dunia. Yang suci sebagaimana bayi-bayi baru saja Tuhan berikan ruh ke dalam badan. Dia tak boleh terluka apalagi merasai pahit dan getir kehidupan. Berbahagia menjadi individu tanpa beban.

Sejak Mutiara masih bergelayut di tubuhku, sampai akhirnya ia lancar menyanyikan lagu Balonku, dirinya tidak memiliki kepercayaan tentang siapa ibunya. Kurasa itulah cara terbaik, menghentikan segala upaya orang-orang membuatnya terperosok  ke jurang mematikan.

Suatu hari, saat dia telah mengenal dunia lebih baik daripada ibunya yang nista, maka tidak sehari pun kuizinkan dia berada di sini. Segera kukirimkan ia ke tempat orang-orang tak mengenal asal-usulnya lagi. Dia layak menikmati kehidupan mandiri tanpa menanggung konsekuensi perbuatan orang lain, dia layak bahagia, meskipun hidup hanyalah repetisi penderitaan belaka.

"Aku tidak tahu siapa orang tuamu, yang pasti bukan aku. Kau boleh memanggilku apapun, asal jangan katakan bahwa kau putri kandungku."  Aku mengatakannya bersungguh-sungguh. Pada awalnya, sama seperti anak balita yang lain, ia tentu menangis dan mencoba menolak kenyataan. Tapi aku mengulangi kalimat yang sama, dari pagi ke sore, dari sore ke malam, berhari-hari sampai ia hafal dan tak lagi menangisinya.

Jahat? Iya, aku jahat. Biarkan penilaian manusia demikian.  Jika menjadi jahat bisa membuat putriku terbebas dari ibunya, maka akan kulakukan. Sebab dia tak boleh mengikuti jejak ibunya, biarlah aku saja yang menjelma jadi siluman kupu-kupu saat malam tiba, dan berubah jadi manusia kala fajar kembali.

Hari ini aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya, pukul empat, sebelum azan subuh berkumandang, sebelum tatapan jijik dan sinis kutemukan di jalan-jalan. Mungkin bagi mereka aku ini sampah, bahkan di kota terkutuk yang bau limbah, bangkai, dan selokan mengalir di sepanjang sungai-sungai perumahan kumuh, tetap saja orang sepertiku dianggap onggokan sampah. Lalu kenapa? Peduli apa mereka dengan perut putriku yang butuh makan.

Kusingkap kain gorden penutup dan menekan tombol sakelar di dinding kamarnya. Rupanya ia belum tidur, duduk melamun di kursi plastik merah muda bergambar dedaunan.

"Ada apa? Kenapa kau belum tidur?" tanyaku datar. Kuatur nada bicaraku supaya terdengar tidak khawatir. Padahal aku mencemaskannya, anak kecil mana begadang sampai jam 4 pagi?

Ia menggeleng. Ada gerimis di bola matanya yang bulat. Aku mencoba tidak bereaksi, tapi aku tak mampu menyembunyikan rasa takut di dalam diriku.

"Katakan saja," kataku. Ia tampak memendam sesuatu.  Hanya tertunduk, membisu.

"Ibu...." katanya terisak. Aku melihat ada kegelisahan di matanya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi urung. Telunjuk mungilnya menunjuk ke kertas dibalut plastik,  yang tergeletak di atas meja. Ujungnya basah, terkena kulacino dari gelas belimbing yang baru berkurang setengah.

Ayahku, Pahlawanku.

Sebuah tulisan tertera di bagian muka undangan. Tangan dan kakiku mendadak kehilangan suhu. Serta merta aku terduduk di dipan kayu hingga menimbulkan bunyi berderak-derak. Tidak sanggup lagi menutupi segala kesedihan mendalam yang tersimpan di dalam dada.

Itulah kartu domino terakhir,  masalah dari segala masalah paling menyiksa selama ini. Tidak cukupkah hari ibu mewakili penderitaan selama sembilan bulan sepuluh hari kujalani sendirian?

Terkutuklah pencetus hari perayaan itu, apa dia tidak tahu banyak orang di dunia ini yang tidak memiliki sosok bapak? Tidak mengertikah dia lebih banyak laki-laki masuk neraka di dunia ini selain perempuan macam aku?

Mutiara berdiri mendekat, ia ingin menyentuh tanganku, namun tidak berani. Diam saja, hening, lamat-lamat ia memandangiku yang menangis pertama kali di hadapannya.

Seharusnya kurengkuh, kusambut, dan kukatakan mantra-mantra positif dunia pada Mutiara. Seharusnya kulantunkan bait-bait asa bahwa di hari esok akan selalu baik-baik saja. Sayangnya, aku telah bersumpah tidak mau memberinya dekapan nyaman, itu akan menyiksa suatu saat kelak nanti kami berpisah.

Kugenggam jari-jemarinya yang halus, dia mungkin bisa merasakan telapak tanganku yang dingin. Hawa daba dari napas kami pun lantas menyatu, kemudian terkondensasi bercampur baur membentuk kesepakatan sehari.

"Jangan takut aku akan tetap datang. Kau tenang saja." 

***

Aku melangkah ragu-ragu, masuk ke dalam ruang kelas yang ditata sedemikian rupa. Kursi dibuat menghadap ke bagian sisi depan yang dihias menyerupai panggung. Riuh bisik-bisik kecil kala aku duduk mengisi kursi kosong di sebelah putriku. Anak-anak lugu di sebelah bapaknya barangkali bertanya-tanya, kenapa ada ibu sahabatnya yang datang? Di mana ayahnya?

"Bu, isi sebelah sini." Mutiara menunjuk ke arah kursi di sebelah kanannya. Aku terlalu gugup dan segera mengikuti instruksi dari putriku. Namun, detik ketika aku menempelkan punggung ke kursi kayu. Mataku langsung tertuju pada seorang pria paruh baya di kursi paling depan, ia tertawa bahagia bersama seorang perempuan kecil di sampingnya.

Kartu-kartu yang lama kusembuyikan terbuka pelan-pelan. Dialah rahasia yang tak pernah kusampaikan, tak seorang pun bahkan mengetahui rahasia setan yang bertahun-tahun lamanya kusimpan sendirian.

Samar-samar bayangan masa lalu muncul. Teringat aku kisah paling menakutkan lima tahun silam. Tengah malam, pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Yang memanggil-manggil namaku dengan sapaan manis.

Aku seorang gadis lugu yang dinistakan oleh iblis tak berperasaan. Sesak dada mengingat hari di mana bapak tega memukuli dan mengusirku dari rumah, sedangkan ibu tidak mengatakan sepatah kata pun berusaha membela. Iblis itu cuma diam mematung, seolah-olah dia tak bersalah, seolah dia bukan penyebab utamanya. Demi Tuhan, aku jijik mengatakan kartu terakhir ini pada siapapun.

"Fitri?" Suara iblis itu memanggilku sesaat aku dan Mutiara menghambur keluar dari pintu gerbang. Aku menulikan telinga. Memboyong putriku sejauh-jauhnya dari pandangan sang iblis. Tidak ada hari ayah buat Mutiara, dia lahir tanpa orang tua.

"FIT! FITRI! BAPAK MENCARIMU! DIA INGIN MINTA MAAF DENGANMU!" Orang itu terus berteriak menyebut nama yang sudah lama kulupakan.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya