Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Rahasia Adiwidia

Semua yang mati belum tentu pergi.

Apa kamu tahu soal rahasia ini? Ssssst, jangan keras-keras. Nanti ada yang mendengarnya, usahakan membacanya sekali lewat. Aku diam-diam menyelinap di kepala seseorang, membongkar rahasia terlarang, yang bahkan para ilmuwan belum tahu kebenarannya.

Ilustrasi by pixabay

Para ilmuwan selalu berdebat, tentang pergi kemana jiwa manusia yang mati. Usai raganya terurai jadi karbon, nitrogen, dan hidrogen, lalu benarkah jiwa manusia ikut menguap? Atau musnah seiring leburnya otak di makan cacing-cacing rakus?

Kau akan bertanya-tanya sendiri, tetapi mau seribu tahun pun kamu hidup di bumi, kamu tidak akan mendapatkan jawabannya, karena Adiwidia selalu menjaga rahasia ini hati-hati. Oya, sebut saja namanya begitu, dia sangat hafal panggilan manusia kepadanya.

Sekali lagi kuingatkan, jangan baca ini dalam hati, karena dia benar-benar mengintip pikiranmu. Tulisan ini akan jadi sia-sia saja, apabila dia sadar seseorang membaca rahasianya. Maka supaya itu tidak terjadi, maukah kau mengikuti tiga aturanku?

Pertama, jangan pernah memaknai kisah  yang akan kaubaca, teruskan saja sampai ke bawah. Kedua, jangan bertanya alasannya, semakin kau bertanya-tanya berarti kau akan banyak berpikir. Ketiga, jangan terkejut jika suaraku sekarang sedang meresap ke dalam pikiranmu, itu karena aku ingin tahu dengan siapa aku berbicara.

Baiklah, sekarang akan kulanjutkan lagi kisah rahasia tadi. Sebagian dari manusia, tidak mati lalu selesai begitu saja, ada jiwa yang sengaja dibebaskan oleh Adiwidia. Bukan dibebaskan dalam artian benar-benar lepas dari kendali, melainkan diberi kesempatan menjadi wujud baru, bentuk baru, tetapi dengan kesadaran yang sama.

Sebuah karunia ganjil yang tidak pernah manusia pikirkan sebelumnya. Energi ditransformasikan dalam bentuk apa saja, tergantung keinginan Adiwidia. Percayalah, kau bisa dijelmakan sebagai ular sawah lalu mati berdarah-darah setelah dirajam petani, kau bisa terbangun sebagai jempol kaki orang dungu yang sering terantuk ke kaki meja,  atau kau bisa menjadi sekuntum bunga kamboja kuning, seperti wujudku dahulu, sebelum akhirnya aku menyamar menjadi wewangian, merasuk ke udara, ke dalam angin, dan selama sepuluh tahun akhirnya aku tiba di kepala seorang penulis.

***

Suatu pagi, sepasang ketilang bersenandung menikmati mandi embun. Daun meneteskan air bening tepat di atas ujung helai putihku,  membuat aku terjaga, dan visusku mampu melihat seluas dan sejauh-jauhnya, kakiku tertancap di atas tanah kuburan yang lembab. Di sampingku, ada nisan kayu,  bertanda sesuatu, entah isinya apa.

Kesadaran tidak muncul begitu saja. Aku buta soal kehidupan sebelumnya, tidak pula mengerti sejak kapan aku berada di wujud kamboja. Sama seperti manusia lupa  bagaimana saat pertama kali mereka dilahirkan.

Dara bermantel kuning dan bawahan putih cerah muncul dari balik kabut, seolah-olah dia matahari sedang menyamar jadi manusia. Wajahnya kuyu, namun teduh.

Dia gadis dengan lilin di matanya. Terang, tetapi mencair pelan-pelan. Siapa yang melihat nyala itu, pasti ingin segera memadamkannya lantaran khawatir.

Di tangan kanannya, buku bergambar kembang ia bawa, dan itu sungguh tak masuk akal: bukankah itu aku?

"Selamat pagi, yah. Selamat mekar kembali di Juni yang damai," katanya. Ia memegangi papan kayu di sampingku, seakan-akan sedang bersalaman.

"Lihat, aku membawa buku yang ayah tulis sebelum pergi." Dia tersenyum kecil, hingga cekung di pipi kirinya timbul.  "Namaku Mei, ayah belum lupa aku, kan?"

Angin berhembus menggoyangkan dedaunan di penjuru kuburan. Lepas pula setangkai di tubuhku. Nyala lilin berayun-ayun di matanya. Aku ragu-ragu.

"Biar kuceritakan kembali padamu. Kisah Putih Kuning yang menyedihkan".

***

Dahulu kala, di tempat yang teramat jauh untuk diingat. Hiduplah seorang gadis jelita bernama Putih Kuning. Dia piatu, sebab ibundanya wafat saat ia dilahirkan ke dunia. Ia dirawat oleh seorang ayah yang buta juga miskin.

Bertahun-tahun kemudian, anak yang dirawatnya penuh tanggung jawab,  tumbuh menjadi wanodya nan anggun. Sayang, sang ayah tidak mampu menangkap kilau sabitah menawan hati itu. Ia hanya bisa merasakan jika Putih Kuning, pastilah meneruskan paras ibunya.

Putih Kuning menyayangi ayahnya yang buta dengan tabah. Sebagaimana wanita-wanita menyayangi ayah kandung mereka sendiri. Lebih-lebih lelaki itu sedikit demi sedikit kehilangan kemampuan gerak, dengar, dan wicara. Maka makin beratlah beban bagi sang gadis.

Dalam masa perawatan itu, hatinya digumul setan yang mendorong perasaan putus asa, sampai kapan ia harus merawat ayahnya? Senandika antara kebaikan hati dan duka atas nasib, membuatnya kehilangan semangat. Putih Kuning tidak lagi bahagia.

Lalu, di tengah kesedihan hatinya. Jenggala  membuat seorang pangeran gagah kesasar. Ia menunggangi kuda putih bersurai. Datang dari negeri yang jauh, ditakdirkan memperbaiki nasib perawan malang.

"Maafkan aku, tanpa ayah, aku tidak bisa pergi kemana-mana." Ia menolak tawaran jejaka rupawan itu.

"Sayangnya aku hanya membawa satu kuda. Dan mustahil membawa ayahmu ke istana."

"Kalau begitu, pulanglah. Biarlah aku menemani ayahku," sahut Putih kecewa.

"Kutunggu sampai kamu bisa ikut." Pangeran meyakinkan.

Putih tak menjawab.

***

"Ayah sebentar lagi sore. Aku belum menceritakan akhir hidup Putih Kuning." Mei membuka kembali lembaran buku.

 Lilin di matanya membakar tangkaiku,  membuat satu daun rontok lagi.

"Baiklah, akan kulanjutkan ceritanya. Esoknya ayah Putih Kuning meninggal, pangeran pun membawanya ke istana. Mereka akan menikah.  Tapi..."

Pada hari pernikahannya, si putih menemukan racun di dalam kotak yang pangeran sembunyikan. Semula, ia tidak curiga, sampai suatu hari sang suami mengakui sendiri perbuatan kejinya akibat dihantui rasa bersalah."

Lilin di bola mata Mei kian memendek. Kini aku takut jika lilin itu benar-benar habis.

"Sebentar lagi gelap, sebaiknya kuselesaikan cerita ini.

Suatu hari Putih bermimpi bertemu Adiwidia. Ia menyarankan menanam biji tanaman yang ia letakkan di bawah bantal. Satu biji itu harus ditanam tepat di atas makam ayahnya.

Esoknya, Putih minggat ke pemakaman di bijana. Menanam benih yang ia curi. Kemudian menangisi kepergian ayahnya, meratapi dosa karena menikahi seorang pembunuh, sia-sia, ayahnya tak juga kembali.

Setiap hari ia datang, menunggu biji tadi menghasilkan sesuatu. Hingga suatu ketika,  ia melihat tunas, dan tunas itu membesar lalu tumbuh menjadi tanaman dengan sekuntum bunga cantik,  helainya putih dan kuning merekah.

Usai bunga itu mekar, ia bersimpuh di depan pusara, meminta maaf pada ayahnya. Tamat."

Mei menyentuh mahkotaku. Kilasan-kilasan masa lalu berputar-putar. Teringatlah aku kejadian sesungguhnya, teringat juga kenangan pahit sebelum aku di sini.

"Ayah, aku minta maaf, tolong maafkan anakmu."

Lilin di mata Mei merembes jatuh, tak bersisa, habis. Dia jatuh tersungkur di bawahku. Bersamaan lima helaiku jatuh di rambutnya.  Malam pun buru-buru menelan kami berdua.


Catatan:

(1). Adiwidia: Pengetahuan paling tinggi

(2). Wanodya: Gadis remaja

(3). Visus: Ketajaman penglihatan


Cerita pendek ini pernah diikutsertakan dalam lomba menulis 30 HM NAD 2020. 

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya