Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Suara yang Dibungkam



Aku tidak mengenalnya secara dekat, kecuali kami bertemu di area pabrik. Ia berangkat lebih awal daripada kami semua, begitu pun ide-idenya, selalu tak bisa dipastikan. Apa pun kata yang dia utarakan, membuat bulu kudukku kerap tak karuan. O, pedih masa lalu bila aku mengenang seorang insan yang peduli nasib kaumnya melebihi dirinya sendiri. Namun, hari ini, kami bersama-sama harus mengantarnya ke pembaringan terakhir.

"Beristirahatlah dengan damai pahlawan kami, meskipun sudah lama kita tidak bersua," bisikku seraya menaruh kembang di atas pusaranya.

***

Pagi di bulan Mei 1993, orang-orang yang gemar meringkuk dalam kemul bolong-bolong baru saja bangkit dari dipan-dipannya. Ayam berkokok mengancam akan mematok rezeki sang tuan, tapi urung setelah tahu gaji seribu tujuh ratusan sebulan tidak akan cukup apa-apa.

Aku mengumpulkan segenap tenaga. Melakukan kegiatan rutin yang dahulu kuanggap menjemukan: duduk melamun, mandi, makan pagi, lalu bersiap-siap berangkat. Tidak akan kusia-siakan minggu ini untuk meratapi masa muda, karena terkurung dalam sel kapitalis. Mereka sanggup memeras tubuh kami sampai ke tulang-tulang, lalu sisa-sisa ampasnya dibuang, setelah mereka sadar bahwa tidak ada lagi kekuatan kami yang bisa dimanfaatkan. Sudah seharusnya kami bebas dari sel-sel tidak berperikemanusiaan itu.

"Besok malam kita bertemu di Tanggulangin, datanglah sendiri dengan pakaian bebas," pesan sejawatku kemarin, sebelum aku meninggalkan pabrik.

Pastilah wanita itu, aku membatin. Padahal ia belum genap tiga tahun menjadi buruh di sini, tetapi pemahamannya di atas rata-rata. Benar kata pepatah lama, orang cerdas tidak butuh waktu puluhan tahun untuk memahami penderitaan sesamanya. Kalau-kalau nasib gadis itu bagus, dia pasti sudah kuliah laiknya muda-mudi dalam Catatan Si Boy. Namun, kudengar dia hanya putri petani yang mengundi nasib ke kota, pindah dari pabrik ke pabrik, dan menghentikan petualangannya di sini. Terkurung bersama orang-orang yang lemah di hadapan atasan-atasannya.

"Mas," panggil perempuan itu suatu pagi. Aku datang lebih awal berkat dapat tumpangan motor bebek astrea Mang Rosyid, tetanggaku.

"Oh, Dik Mar pagi sekali sudah di sini," sahutku. Dia berjalan dari dekat pos jaga sembari menenteng tas bahu, menyusulku. Bibirnya sedikit pucat, tapi raut mukanya berseri-seri. Ketegasan memancar dari dua bola matanya yang coklat.

"Aish, Mas. Mau saya pagi atau kesiangan, gaji kita sama saja, kan. Saya pun datang pagi sengaja mencari waktu untuk berpikir," jawabnya santai. Namun, terdengar keseriusan di balik kalimat-kalimat itu.

"Sudah lama aku lupa cara berpikir," balasku polos. "Bangsa ini tidak peduli pada orang-orang seperti kita."

"Kitalah yang menentukan nasib kita sendiri, Mas. Sepuluh tahun atau dua puluh tahun lagi itu hasil keputusan-keputusan kita. Kalau kita bungkam, maka tak ada perubahan apa-apa di masa mendatang." Nada bicara wanita itu agak bergetar saat mengatakannya. Waktu melengkung begitu cepat mengakhiri pertemuan kami berdua, tepat di depan pintu masuk area kerja.

"Ayo semangat nguli hari ini, Mas." Ia menyemangatiku sesaat kami berpindah ke area tugas masing-masing.

Dia mungkin tidak hafal siapa namaku sewaktu kami berbicara kala itu. Namun, keteguhannya dan semangatnya mampu menggerakan sendi-sendi dan otot tubuhku agar bersedia berangkat selepas isya ke pertemuan, demi memperjuangkan nasib kami ke depan.

Beruntung juga Mang Rosyid berbaik hati, ia mau meminjamkan motor barunya untuk kubawa sebentar. Berkendaralah aku seorang diri, ditemani lampu jalan dan pohon-pohon trembesi menyambut harapan seorang perempuan teguh pendirian.

Dalam balutan kaus bergaris, dan celana jins, ia duduk di antara laki-laki yang sudah lama kukenal. Sesekali ia berbisik pada pria di sebelahnya yang tengah memimpin diskusi. Tak banyak yang datang dibandingkan bulan sebelumnya, karena pertemuan kami adalah gerakan akar rumput yang amat berbahaya bila diketahui tentara yang sengaja mencuri dengar.

"Besok kasih tahu semua rekan-rekan kita, jangan ada yang bekerja. Tuntutan-tuntutan itu harus dikabulkan dulu, baru kita gerak!" Orasi perempuan berambut ikal itu menggetarkan tubuhku.

Esoknya, kami menepati janji malam senin. Sejak pagi kami tidak melakukan apa-apa selain berteriak-teriak meminta keadilan. Berkali-kali menuntut, berkali-kali pula kami diteriaki sebagai antek-antek komunis. Segala fitnah dikatakan agar kami gentar menagih hak-hak yang lama didiamkan oleh serikat buruh palsu.

Pemimpin kami akhirnya ditangkap, dibawa ke markas tempat para suruhan pemerintah menutup mulut orang-orang yang mencoba mengkritik rezim. Dalam kondisi terus ditekan, aku hampir menyerah dan berpasrah atas nasib buruk yang kini menimpa. Namun, perempuan bersuara lantang itu kembali membangkitkan kekuatan kami supaya tidak berhenti menuntut keadilan. Hingga berhari-hari lamanya, sesudah perundingan yang begitu alot, permintaan kami pun disetujui.

Akhirnya bangkitlah harapan perempuan itu, harapanku, dan harapan mereka yang telah lama dikuburkan dalam-dalam. Aku pulang dengan segala kebahagiaan, kujabat tangannya sebelum pamit,  berterima kasih telah mau memperjuangan kesejahteraan kami semua. Dia hanya tersenyum kecil melihat tingkahku yang keterlaluan senangnya, sementara aku menyimpan dalam-dalam sorot mata indah itu di sukma kalbuku, biar kucatat dia dalam memori penting, sosok berharga yang wajib selalu dikenang.

Sesudah hari itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Pagi-pagi selepas libur waisak, aku sengaja datang paling awal ke pabrik. Sayangnya, aku tidak menemukannya lagi duduk di dekat pos jaga. Aneh, biasanya dia datang paling awal dan duduk dahulu di sana.

Kutanya orang-orang, tidak ada yang tahu ke mana dia pergi,  kecuali mereka mengira ia pulang ke Nganjuk. Barangkali memang benar. Siapa lagi yang patut ditemui olehnya sampai merelakan bolos kerja? Tapi hati kecilku berkata lain, dia sangat disiplin, mana mungkin mau meninggalkan pekerjaan demi urusan tidak genting.

Sampai suatu hari, datanglah kabar memilukan ke telingaku. Yang membuat hatiku jadi remuk seketika. Perjuangannya berakhir begitu tragis dan memilukan. Ia bahkan belum merasakan hasil kerja kerasnya sendiri. Jangankan medali, namanya belum tentu dikenali oleh semua buruh di sini.

Alangkah biadab orang-orang yang menyiksa perempuan tidak berdosa itu. Sepanjang malam aku menangisi kepergiannya. Bertanya-tanyalah aku dalam doa-doa: Tuhan, siapa yang telah membunuh mahlukmu sekejam itu? Kenapa tidak engkau bukakan rahasia-rahasia ini?

Namun, doa-doaku seolah beterbangan ke angkasa luas. Jatuh ke televisi, surat kabar, radio, persidangan, tapi tidak sampai ke telinga-Nya. Sang penjahat tidak pernah merasakan dihukum di dunia.

Terkutuklah seumur hidup penjahat keji dan kroni-kroninya, menderitalah mereka di mana pun sekarang berada, aku menutup doaku. Sebelum kuakhiri buku kesaksian ini, semoga suatu hari buku catatanku ini ditemukan oleh seseorang.  Semoga kelak mereka tergerak hati memperjuangkan keadilan perempuan malang itu.

****

Catatan:

Didedikasikan untuk pejuang buruh yang tak pernah mendapatkan keadilan. Semoga engkau mendapatkan tempat paling layak di sisi-Nya.

 

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar