Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Suplir Biru

Menangis juga percuma, semua berlalu begitu cepat, terenggut tanpa sempat aku mengucapkan maaf. Bahkan aku belum bisa memikirkan bagaimana hidupku setelah ini. Tanpa ayah, aku hanya sunyi yang tersesat dan sendirian. Di tempat yang tidak kukenali, di tempat semua orang bersikap datar.



Ibu mengirimku ke sini, setelah ia memilih memulai hidup yang baru dan melepaskan masa lalu yang baginya menjemukan. Aku tahu, ia malas mengurus anak yang sunyi.Alasan itu memang tidak pernah ia sampaikan terang-terangan kepadaku. Akan tetapi, mataku bisa membaca gerakan bibirnya yang naik-turun mengeluh, aku bisa menebak isi hati manusia tanpa perlu mendengarnya.

Di tanah asing, hidupku terasing pula. Ayah tidak lebih baik kondisinya dibandingkan ibu. Dia adalah pria kosong yang tenggelam dalam kesendirian. Hari-hari lelaki itu hanya menghabiskan diri menepi dari kehidupan. Di waktu malam, ia duduk di tepi danau mengamati gemintang dan rembulan, sementara saat pagi kembali, ia mengunci diri di dalam petakan kaca yang tak boleh sama sekali kudekati.

Kami hanya berdekatan di jam-jam makan atau sarapan. Kadang kala waktu senja ia akan duduk bercerita di balai-balai bambu di depan rumah, cerita yang tidak kupahami maksudnya karena bibir lelaki itu belum mampu kubaca dengan saksama. Hanya ada dua kata yang bisa kutebak dari bibirnya: pergi dan kembali. Mungkin ia mengatakan jangan pergi, atau pergi jangan kembali. Aku tak yakin mana yang benar. Yang aku tahu, sorot matanya memancarkan penderitaan dan menyimpan begitu banyak kesedihan. 

Namun, kesunyian di tanah ini setidaknya masih lebih baik. Saban hari angin bertiup lemah dan sabar menggoyangkan pepohonan. Hujan sesekali mampir memandikan daratan, dan awan mendung tidak beranjak dari langit, hingga terik matahari jarang membelai kulitku. Ketenangan di sini, menghempaskan hasrat buru-buru, cemas, dan rasa takut akan masa depan. Sunyi yang sungguh damai, tapi tidak memberikan nyawa.

Belum sampai tiga hari aku menginap di rumahnya, Ayah pamit pulang. Ketenangan di sini rupanya belum cukup bagi pria itu untuk tinggal sebentar menemani putrinya yang sunyi. Sebelum pergi, ia sempat mengelus rambut panjangku, meremas jari-jemariku yang kurus, dan menjelang tarikan napasnya yang singkat, sempat diberikannya sebuah kertas berisi tulisan yang memuat wasiat: Pergilah ke rumah kaca, Anakku. Engkau rawatlah satu tanaman di sana.

Sepucuk surat terakhir itu basah tertimpa air mataku yang merembes turun. Ketenangan di sini menahan diriku untuk menangis berlebih-lebihan. Atau memang kesunyian mengunci bibirku dari ratapan-ratapan yang seharusnya manusia ungkapkan setiap kali menghadapi perpisahan.

Ritual pemakaman itu berlalu begitu saja. Tersisa aku yang terperangkap dalam sunyi dan kekosongan, layaknya kanvas yang tidak disentuh pelukisnya. Andai duniaku dibatasi kaca-kaca seperti tempat Ayah merawat tanaman-tanaman ini, niscaya aku benturkan kepalaku ke dinding-dindingnya, supaya aku bisa lolos dari hening yang memerangkap dalam kedukaan.

Keping-keping pecahan pot tanah berserakan, tiga empat tangkai kuncup bunga krisan kuning layu tergeletak, bercampur baur dengan humus. Aku mengumpulkan sisa pot yang belum berisi bibit. Hampir setiap pot telah diisi biji bunga krisan, sebagian euporbhia, kaktus berbentuk bola, dan pakis berambut emas. Maka lima pot kosong kusebarkan spora dari satu tanaman yang memikat mataku, suplir biru. Sebab selama aku hidup, baru sekali aku melihat ada suplir berwarna biru.

Pada awalnya wasiat itu membosankan. Aku berhari-hari menantikan sesuatu menyembul dari dalam tanah, tapi tak kunjung tiba. Meskipun demikian, aku berusaha merawatnya dengan tabah. Sesekali aku melamun di hadapannya, memikirkan langkah selanjutnya usai wasiat selesai kujalankan.

Suplir-suplir itu lahir di bawah mendung yang tak kunjung pergi. Jika engkau di sini, mungkin timbul tanda tanya, kenapa ada dunia yang statis, dunia yang tidak memaksamu beranjak melakukan hal-hal penting. Dunia yang diam dan kamu dimanjakan panorama.

Bawalah tanaman itu ke sebuah gubuk di seberang danau jika engkau mendapatkan tanda-tanda.

Tanda seperti apakah yang ayah maksud? Aku kurang tahu. Lima pot yang kutanam, hanya satu yang benar-benar tumbuh. Daunnya membulat, cerah, warnanya biru muda serupa kupu-kupu hinggap bertumpuk-tumpuk. Tanaman itu menjadi satu-satunya saudaraku di tanah ini. Sebelum terlelap, tak lupa kuajak ia tinggal di kamarku, sebagai penenang dari mimpi buruk yang kerap mengganggu tidurku. Ibu rutin mengunjungiku dalam mimpi. Namun, dia tidak mengatakan apa pun, selain memandangi mukaku tersedu-sedu.

Sebenarnya aku ingin kembali ke rumah, aku ingin menemui ibuku dan mengemis agar diterima jadi parasit di keluarganya. Sayangnya, aku takut menemuinya lagi, aku takut menghadapi ayah tiriku. Dia tidak bisa menerima anak yang membebani keluarga bahagianya. Aku adalah seonggok masa lalu istrinya yang sering kali membuat pria itu murka.

Pertanda itu ternyata benar-benar hadir. Sulit diyakini, suplir biru itu bersinar di kegelapan. Sontak aku berlari mengangkutnya menuju gubuk di seberang danau yang ayah maksud. Gubuk itu amat misterius, jika kau melihatnya dari jauh maka yang terlihat hanya rumah papan dan pohon-pohon meranggas di sekitarnya. Sebelum ada wasiat, tidak sekalipun terlintas niat untuk mendekat ke sana, karena tempat itu mengingatkanku pada satu lukisan di dinding rumahku yang lama.

Danau ini tidaklah luas, tapi cukup dalam untuk dijajaki kaki. Kudayung sampan perlahan-lahan menembus kabut. Bagaikan membawa lampion, aku menjadi terang benderang di tengah-tengah danau.

Setiba di depan pintu gubuk itu, muncul perasaanku ragu-ragu. Bagaimanapun, aku takut masuk ke dalamnya. Bagaimana jika di dalamnya ada orang jahat yang sedang menungguku? Kubuang pikiran macam-macam itu sesudah teringat kembali dengan wasiat ayah.

Selangkah lagi aku mendekati pintu gubuk itu, seketika dedaunan suplir menjelma jadi peri-peri mungil yang cantik. Mereka berebutan menciumi pipiku, ke sana kemari beterbangan menari-nari di udara. Aku mencubit lenganku. Mungkinkah ini mimpi? Salah seorang peri manis menyentuh pucuk hidungku. Dia sepertinya mencoba meyakinkan, sekiranya aku tidak sedang bermimpi. Kemudian salah satu mahluk bersayap seukuran jari jempol itu bersusah payah mengangkut sebuah kunci. Ia meletakkan benda itu di atas kepalaku.

Aku ragu-ragu menuruti permintaannya, tetapi kuberanikan diri membuka pintu gubuk. Tiba-tiba cahaya terang menyelimuti sekelilingku. Aku terisap ke dalam bangunan tua itu.

Cahaya putih bergulir jadi samar-samar lekuk wajah. Perempuan yang tidak kukenal kini duduk di sebelahku, dia menggenggam erat tanganku. Awalnya, keadaan sunyi senyap tidak berubah sama sekali. Namun, tatkala aku menggerakkan jari, perempuan itu memanggil-manggil seseorang.

Tidak lama kemudian, seorang lelaki berjas putih datang menghampiri. Bersamaan seekor kupu-kupu biru terbang melesat meninggalkan tubuhku. Aku ingin menggapai-gapainya, tapi tidak terjangkau. Saat itulah aku menangis meraung-raung, hingga telingaku menangkap resonansi pertama. Suara tangisan ganjil yang pertama kali keluar dari mulutku sendiri.

"Bagaimana, Dok?"

"Selamat, Bu. Bayi Anda dalam keadaan sehat."

---------

 Ditulis dalam rangka #NAD_30HariMenulis2020

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar