Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Catatan Ringan (2): Tentang Kebencian di Media Sosial

"Fenomena ini cukup mengerikan sih. Bayangkan jika Anda (penulis) tak sengaja melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh seseorang, lalu orang itu membangun argumen tentang Anda, kemudian menyebarkan kebencian kepada orang-orang yang tidak mengenal Anda sama sekali. Reaksi itu lantas berlangsung secara berantai, terus-menerus, sampai-sampai orang yang tak tahu-menahu langsung menyimpulkan Anda seburuk itu."

Diposting pertama kali di akun Facebook pada tanggal 27/09/2020.

***

Akhir-akhir ini, semenjak nama Tere Liye naik tagar teratas di Twitter, dan saya sempat ikut-ikutan menanggapi thread tersebut, seketika semua algoritma medsos saya membahas tentang Tere Liye. Mau tidak mau, saya terpapar semua informasi yang berkaitan dengan namanya. Di antara semua medsos itu, yang paling menarik adalah munculnya jawaban-jawaban quorawan mengenai Tere Liye. Saya yang telanjur penasaran, lagi-lagi terbawa arus. Saya membaca banyak perspektif mereka tentang beliau dan saya mendapatkan beberapa poin-poin yang menarik. 

Pertama, sebelum saya berbicara lebih jauh, saya mengakui bahwa saya bukan pembaca setianya beliau. Katakanlah dari semua bukunya, saya cuma membaca tiga buku saja. Hanya dua yang saya selesaikan, yang satu lagi saya tidak sanggup menamatkannya bahkan untuk satu bab. Alasannya tidak perlu dijabarkan di sini.

Kedua, saya tidak mendukung semua pendapatnya di medsos (karena saya pengikut beliau sejak zaman SMA, jadi saya tahu banyak yang beliau tulis selama kurun waktu satu dekade terakhir). Yang ingin saya sampaikan di sini sebenarnya bukan menyangkut TL, tapi sesuatu yang bisa saya atau kita semua petik dari peristiwa yang menimpa beliau.

Ketidaksukaan bermula dari postingannya di medsos. 

Kemarin, seorang pengguna twitter yang mengaku seorang bookish menyebarkan cuplikan gambar yang berisi postingan TL tentang pembajakan. Postingan yang sebenarnya bukan kali pertama dibagikan oleh penulis. Mungkin selama dua tahun terakhir saya sudah beberapa kali menemukan pesan beliau tentang bahaya pembajakan. Ada yang ditulis halus, menyindir, dan sampai level pedas. Tapi kemarin, pengguna twitter tersebut--entah karena jengah atau baru sekali membaca tulisan tsb--langsung menyoroti bahasa kasar yang digunakan TL. Menurutnya, pemakaian kata 'goblok' dianggap terlalu kasar untuk mengingatkan pembacanya yang rata-rata remaja SMA. Utas panjang tersebut kemudian ditutup dengan kalimat miris: "kalau tidak mau dibajak, sebaiknya jualan kopi saja."

Cuitan tersebut segera mengundang pro dan kontra di twitter. Yang pro mungkin sebagian penggemar TL, sisanya lagi membela tindakan TL karena keberaniannya melawan pembajakan. Sementara yang kontra dengan TL juga tidak kalah banyaknya. Sebagian punya argumen yang menarik dan unik dari perspektif mereka. Ya, menurut saya, memang tidak sepenuhnya salah mengkritisi seseorang terkait penggunaan bahasa. Di negara yang budaya sopan-santunnya begitu kental, acap kali menggunakan kata-kata kasar dianggap tabu. Ketidaksetujuan itu normal. Tapi tidak normal lagi bila opini ini diarahkan untuk 'menjatuhkan' seseorang, menebar kebohongan, dan menyebarkan kebencian yang sedemikian parahnya.

Tuduhan seperti apakah yang tengah saya bicarakan? Begini, baik di twitter atau quora saya mendapati beberapa pengguna yang menuduh TL telah melakukan plagiat, penggunaan ghost writer, cari perhatian, dan masih banyak lagi. Dan semakin saya tersedot ke dalam pembicaraan mereka, saya semakin takut. Iya, setakut itu. Mereka tiba-tiba berargumen sedemikian rupa, seolah-olah itu nyata terjadi, padahal pendapat mereka itu tanpa dilandasi bukti, melainkan asumsi belaka. Lantas dengan beraninya menyebarkan isu-isu miring terkait penulis. Mirisnya, beberapa orang mengaku belum pernah membaca tulisan TL.

Rupanya mereka berpendapat begitu karena menemukan kutipan tulisan TL yang keras serta terkait pandangan politiknya semasa pemilu. Saya tidak menampik, punya sentimen negatif itu wajar. Beberapa tahun yang lalu, gara-gara pemilihan presiden sempat banyak huru-hara di medsos. Saya sendiri insyaf sebelum pemilu berlangsung, jadi saya tidak menanamkan kebencian kepada siapapun. Sayangnya, beberapa orang belum bisa move on dari kejadian kemarin. Walaupun demikian, sentimen itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menilai karya orang lain dengan cap buruk tanpa membacanya sama sekali. Sungguh tidak bijak jika kita menilai buruk dan baiknya karya seseorang tanpa membaca karyanya, semata-mata karena berlawanan pandangan politik, ini tidak adil. Mungkin bolehlah tidak menyukai etika beliau di media sosial yang terkesan menyindir, blak-blakan, dan sangat frontal, tapi membangun opini sendiri terhadap karyanya dan mempengaruhi orang lain agar tidak menyukai karya tsb, wah keterlaluan sekali. 

Saya tidak bisa menuliskan semua opini-opini liar netizen yang tidak sengaja saya temukan di medsos. Satu pelajaran (iya, walaupun saya bukan guru) yang saya dapatkan adalah kebencian begitu cepat menyebar di internet sekarang ini. 

TL sebetulnya bukan penulis pertama yang mendapatkan banyak kritik pedas dan hujatan dari warganet. Sebelumnya, saya pernah membaca jawaban pertanyaan di Quora tentang penulis yang paling dibenci. Nama *i*i--penulis novel yang cukup terkenal di fb dan saya kenal juga di komunitas menulis---mendadak tenar di Quora karena dihakimi oleh beberapa penjawab yang berlindung dibalik anonimitas. 

Fenomena ini cukup mengerikan sih. Bayangkan jika Anda (penulis) tak sengaja melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh seseorang, lalu orang itu membangun argumen tentang Anda, kemudian menyebarkan kebencian kepada orang-orang yang tidak mengenal Anda sama sekali. Reaksi itu lantas berlangsung secara berantai, terus-menerus, sampai-sampai orang yang tak tahu-menahu langsung menyimpulkan Anda seburuk itu. Apakah Anda mampu menerima semua kebencian itu? Apa Anda akan kuat seandainya membaca hujatan-hujatan yang amat kasar? 

Saya sendiri tidak sanggup. Sebab itulah saya sering membatasi tulisan saya yang bersifat pribadi, saya juga memperkenankan orang lain memblokir/mensenyapkan saya bila merasa tidak sepaham dan tidak bisa menoleransi argumen saya. Bukan karena saya merasa angkuh, dll, semata-mata karena saya menghargai kesehatan mental orang lain. Saya tahu, ada banyak orang yang berpikiran terbuka dan membiasakan perbedaan pendapat, tapi jangan lupa, banyak juga orang yang tak mampu menoleransi perbedaan. Berhati-hatilah.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya