Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Setengah Kehidupan



Saya belum sedetik pun melupakan peristiwa hari itu. 

Ariana sedang menyusui Daniel kecil saat saya pamit pergi ke kantor. Selepas menikmati sarapan nasi goreng dan segelas teh buatan Mama—beliau mertua baik yang begitu perhatian pada saya sehingga melarang asisten membuatkan sarapan, saya segera menuju garasi, mengambil motor matik tua kesayangan saya. Sebagaimana pegawai swasta bergaji rendah, tak pernah saya ingin melewatkan pagi dengan berangkat tergesa-gesa ke kantor. 

Di depan pintu ruang depan, saya menemukan koran yang masih menggulung, menggeletak saja di lantai. Ah, sudah lima hari kertas-kertas itu tak menarik perhatian. Buat apa Papa berlangganan jika tak dibaca. Namun, saya tak mau merusak ketenangan Papa. Dia tengah asyik bersenandung kecil seraya sibuk mengarahkan selang di tangan kanannya, menghujani tanaman yang helai-helai daunnya kelihatan lemah. Padahal, kemarin bunga itu masih segar dan beberapa kuncup merahnya siap merekah. 

Sebagai pensiunan polisi, tak banyak yang bisa laki-laki itu lakukan sehari-hari. Hanya tiga kali seminggu ia mengecek toko-toko bahan bangunan miliknya (sebab usaha itu dititipkannya kepada adiknya mama), atau mendampingi Mama ke acara-acara keluarganya. Dan, jelas tak ada firasat apa pun pagi itu, kami merasa baik-baik saja. Rutinitas saya memang berjalan menjemukan, tetapi tak pula menyedihkan. Betapa pun saya bangga menjadi seorang ayah muda yang mandiri, yang tidak bergantung sepenuhnya kepada kemapanan mertua.

Pukul sebelas, saat sedang duduk-duduk menunggu atasan saya kembali ke ruangan, saya meraih koran tergeletak di meja. Lagi-lagi kematian misterius menjadi tajuk utama. Manakala saya akan meraihnya, seketika pria berwajah kotak yang mengenakan kemeja biru tak serasi dengan dasi bermotif warna-warni itu tiba-tiba masuk ke ruangan. Suara serak dan jelek itu lantas memuji pekerjaan saya dan berjanji akan mengusulkan kenaikan gaji bulan depan. Sebelum saya membalas ucapannya, ponsel saya berdering. Suara Ariana terdengar bergetar. Saya yakin dia tengah menangis. Saya panik. Tanpa mengatakan alasan sepatah kata pun, saya berlari meninggalkan ruangan itu. Masa bodoh bila nanti dipecat. Kecemasan perihal Ariana menyergap saya.

Dua puluh menit kemudian saya sudah berdiri di rumah, tempat itu serupa kuburan. Papa terduduk di lantai, menyandarkan kepalanya ke dinding. Mama terisak-isak dipelukan Ariana. Satu-satunya yang menjelaskan semuanya adalah air mata mereka. Saya tidak menemukan Daniel. Meskipun saya tidak tahu apa-apa, tapi entah kenapa pikiran saya ikut gundah, tubuh saya limbung. Linglung. Tidak mungkin sebab itu, batin saya membantah.

“Apa yang terjadi di sini?” tanya saya tegang. Pikiran saya menebak-nebak, gelisah. Lama saya berdiri menantikan Ariana membuka mulutnya, tapi ia bungkam.

“Katakan! Ada apa?” Saya mengulangi pertanyaan tadi dengan nada tinggi. Kesabaran saya melenyap. Dada saya berdebar-debar. Makin deras air mata Ariana dan Mama terlihat, saya makin gelisah. Sedangkan Papa seolah-olah mengabaikan pertanyaan saya, ia bangkit dan berjalan menuju kamar.

Dengan tangan sedikit gemetar, Ariana menunjuk koran yang berada di atas meja. Kemudian ia terbata-bata menceritakan semua yang baru saja dialaminya. Sejam yang lalu telepon rumah berdering, seorang polisi mengabarkan berita buruk mengenai keadaan adik ipar. Ariana terus bercerita dengan air menggenang di pelupuk matanya yang besar, menular ke pelupuk mata saya yang berupaya medengarkannya dengan tegar.

“Esa, aku yakin mayat yang polisi temukan itu Esa. Ciri-cirinya, pakaiannya, dan semua tanda-tanda mengarah kepadanya. Ah, kalau saja hari itu kita tak mengizinkannya merantau," kata Ariana penuh penyesalan. 

Saya bungkam. Diam, tak sanggup mengatakan apa pun lagi di hadapannya. Bagaimanapun kematian Esa pukulan telak dan keras baginya, bagi keluarga kami.

Saya teringat, setahun sebelumnya, hari tepat ketika Ariana melahirkan Daniel, Esa sempat beradu mulut dengan Papa di rumah sakit. Pemuda keras kepala itu ngotot ingin menimba ilmu di kampus terbaik di Pulau Jawa. 

“Di sini tak ada jurusan itu yang berakreditasi A, Kak,” kata Esa, meyakinkan saya. 

Pada awalnya, Papa tak menyetujui keinginan anaknya itu. Sebab Papa belum sembuh dari kehilangan putra sulungnya, Gabriel, yang dahulu menjadi korban kerusuhan 98 semasa keluarga Ariana masih tinggal di Pulau Jawa. Itulah alasan Papa memboyong Mama ke Gorontalo. 

Papa adalah seorang laki-laki tegas, keras, dan teguh pendirian. Demikian buah tak jauh dari pohonnya, Esa pun mewarisi sifat keras kepala itu. Tapi jika ada dua bongkah batu yang sama-sama keras, tentu akan ada yang rapuh dan berlubang juga bila dijatuhi tetesan air berkali-kali, bukan? Derai tangis Mama dan Ariana, serta bujuk rayu saya berhasil memaksa Papa berdamai dengan traumanya, sehingga bebaslah adik ipar seperti daun meninggalkan ranting kayu. Ia pergi meninggalkan rumah dengan restu keluarga dan tak sedikit kebencian bersisa. Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat. Esa mendapatkan impiannya dan sesekali menghubungi kami di rumah. Mama dan Papa tak pula gundah gulana sebab teralihkan keberadaan cucu mereka, Daniel. Kebahagiaan kembali dan hidup kami tentram seperti sediakala. Tidak ada firasat, apalagi gejala-gejala suatu hari akan kedatangan berita pilu.

Kini, enam tahun sejak adik ipar saya ditemukan mengambang di danau kampus, kami seperti tak pernah bangun lagi dari mimpi buruk. Dia membawa setengah kehidupan dari rumah ini. Setengah yang berisi tawa, haru, dan cinta. Pemuda itu pergi sekehendak hati tanpa menyiratkan perpisahan, ia tega merampas setengah kehidupan, menyisakan tangis, amarah, dan rasa bersalah yang tak pernah bisa berhenti menyiksa. Polisi tak pernah bisa membuktikan bahwa Esa bunuh diri (sebab bukti batu-batu di dalam ranselnya dan surat palsu itu menunjukkan sebaliknya) dan jika benar ia dibunuh, tapi oleh siapa? Atas dasar apa? Esa yang kami kenal adalah anak periang, ramah, dan tak pernah sekali pun ia mendapatkan masalah selama di sekolah.

“Adikmu harus mendapatkan keadilan. Berjanjilah Nak, kau harus menangkap pembunuh adikmu,” ujar Papa di hadapan pusara adik ipar. Saya mengangguk. 

Sekarang, Papa sudah lama pulang. Janji itu tak pernah usai. Di antara kami semua, Mamalah yang paling terpukul dan menderita. Setelah kematian anak dan suaminya, lidah perempuan itu seakan terputus. Tak pernah lagi ia mengeluarkan kata-kata: menceritakan masa mudanya, mendongengkan cucunya, atau mengkritik masakan asisten rumah tangga kami yang kadang-kadang keasinan. Hanya tiga hari setelah perginya Papa, Mama segera memulangkan asisten udik itu ke kampung halamannya. Bukan karena tidak sabar, melainkan Mama ingin dapur sepenuhnya menjadi miliknya. Sepanjang hari dia tak akan beranjak dari dapur, entah memasak, atau sekadar merenung di meja makan. Kadang-kadang matanya terlihat berbinar-binar di sana. Seolah-olah Papa dan Esa ikut menemaninya. Daniel yang kini sudah bukan bayi lagi sering menanyai saya perihal keadaan neneknya itu, tapi saya tak bisa menjawab. Semua ini karena janji yang belum saya tepati. Atau barangkali memang setengah kehidupan kami lenyap dibawa Esa pergi.


*ditulis tahun lalu untuk mengenang kasus Aks*yna yang belum terpecahkan.

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar

Berlangganan tulisan saya