Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Detik dan Detak

Posting Komentar

Sesudah mengenakan kebaya putih sepanjang pinggulmu, kau tersenyum puas. Kamu tidak pernah menyangka, setelah sekian lamanya tangis, duka, dan pedih yang menghimpit tubuhmu, tetapi pesonamu tetap terpancar dari refleksi cermin itu. Betapa pun, masa gadismu yang pilu harus segera dilepaskan. Cukuplah semua kalimat-kalimat pedih yang membuatmu lelah dan menderita, dan sekarang telah tiba waktunya kamu menikmati kegembiraan demi menyongsong hari esok yang lebih baik.

Ilustrasi by Pixabay

Kamu kembali tersenyum saat melihat lekuk tubuh semampaimu padu padan dengan busana megah itu. Bibirmu kian mengembang karena terbenam dalam kenyamanan sejenak.  Selama ini engkau baru tiga kali memakai pakaian semacam itu: Saat menghadiri kelulusan sekolah, yudisium, dan pernikahan seorang sahabat. Ah, kau jadi sakit hati bila mengingat siapa saja orang yang pernah mendampingimu dulu. Kini, mereka yang pernah mendampingimu itu justru sudah mengawani anak-anak mereka mengambil rapor ke sekolah.

"Bagaimana, Mbak? Pas?" tanyamu pada wanita yang bosan menungguimu sejak tadi. Namun, ia tidak mau rugi kehilangan pelanggan hanya gara-gara menampilkan kulit aslinya. Ia memasang wajah sumringah, seolah-olah ikhlas memuji penampilanmu, padahal ia hanya merasa bangga atas karyanya sendiri.

Hari ini, kamu telah memutuskan cuti dari pabrik. Lagi pula, jatah cuti belum pernah kamu gunakan selama bertahun-tahun mengabdi di sana. Atasanmu bisa memaklumi itu sebab hari yang engkau tunggu-tunggu hampir tiba di depan mata. Empat hari atau tiga ratus empat puluh lima ribu enam ratus detik lagi yang kamu nanti-nantikan segera terlaksana. Detik-detik itu bergulir terasa lebih lambat dari biasanya. Membuatmu mampu merasai jantung berdetak-detak tidak karuan, tetapi kau tidak bisa mempercepat atau melambatkan detik agar seirama dengan detakmu. Yang bisa kamu lakukan hanyalah bersabar. Sepanjang mengemudi motor butut sendirian, kamu terus saja mengkhayalkan kemolekanmu dalam balutan kebaya cantik yang sekarang kau simpan baik-baik di dalam tas.

Dia hari ini tidak mengantarmu pulang. Pekerjaanlah yang menghalangi kalian berdua bertemu walau sebentar. Kau memang bisa mengambil cuti bahkan berhenti, tetapi lelakimu tidak. Ia pemuja pekerjaan dan penghamba kesuksesannya. Kemarin malam, saat kamu mengajaknya pergi, ia dengan entengnya membalas pesanmu bahwa hari besar itu sekadar seremonial tak bermanfaat. Namun, kamu tidak mengambil pusing terhadap kata-katanya yang seakan-akan mengentengkan hari sakralmu itu. Bagimu bahu yang kokoh, dada yang hangat, dan kasih sayang tak kekallah yang terpenting kau dapatkan darinya. Biar saja ia bila tak suka pesta, kau pun juga sama, tetapi kau dituntut harus mengadakannya, demi menghapus kutukan 'perawan tua' yang kerap orang sematkan padamu di desa.

Setibanya di rumah, ayahmu sedang duduk di kursi plastik, dia menatapmu penuh harap seperti raja yang kehilangan kuasa. Kamu membalas tatapan itu dengan senyum getir. Entah, mungkin kau merasai jika lelaki renta itu tengah memahami kegelisahan di hati putri semata wayangnya. Maka kamu duduk sebentar di kursi kosong tepat di sebelah kursinya. Dari pria keriput itu, kamu dapat mencium aroma atsiri yang disuling sebersih-bersihnya. Bau menyengat yang selalu mengingatkanmu jika maut siap sedia mematahkan ranting nyawa lelaki itu. Kamu takut membayangkan kain kafannya sudah dijahit dan kini tersusun di rak menunggu dibeli, sementara tukang gali kubur menanti doanya dikabulkan oleh Tuhan.

"Undangan sudah disebar, pelaminan sudah, katering sudah, kebaya sudah, pengisi musik sudah, sepertinya aku tak melewatkan apa pun lagi, Yah," ceritamu riang. Kamu mencoba membunuh keheningan.

"Kenapa Ari tidak mengantarmu tadi?" tanya ayahmu mengalihkan pembicaraan. Pertanyaan pendek itu sesungguhnya mematahkan kesenangan palsumu, lalu membangkitkan kembali keragu-raguan yang kamu telah kuburkan dalam-dalam.

"Maklum, dia sibuk, Yah. Ayah tahu sendiri, sebagai kepala produksi di pabrik, Mas Ari susah meluangkan waktu." Kamu mengarang alasan, berusaha membela priamu.

"Begitukah? Apakah pekerjaannya lebih berarti dibandingkan putriku?" sahut lelaki itu tak terima. Di usianya yang menginjak tujuh puluh tahun, bicaranya tegas tak sedikit pun tersendat-sendat, persis seperti saat ia masih memimpin pasukannya sewaktu menjaga perbatasan di ujung pulau Kalimantan.

"Ayah tenang saja. Nanti aku bicara lagi dengan Mas Ari," ucapmu menghibur lelaki itu. Kamu kemudian pamit masuk ke dalam kamar. Bersembunyi dari khawatir yang kian membuncah pikiran.

Esoknya, selepas mengerjakan shalat subuh, kamu langsung mengirim pesan pada kekasihmu supaya ia mau datang ke rumah dan berbincang-bincang bersama ayah, tetapi lagi-lagi ia menolak. Ada masalah di lapangan, bawahannya tidak becus, target tidak tembus, penjualan ambruk, dan segala alasan itu ia kirimkan, tapi sia-sia saja, itu semua tak ada manfaat bagimu.

Kini detik melebihi detakmu sendiri. Perasaanmu mulai tidak nyaman. Kamu khawatir bila komitmen yang pernah bibir lelaki itu katakan tak lebih daripada kebohongan. Tak ada yang dapat kamu lakukan kecuali bersabar. Kamu mengadu ke Sang Penguasa Alam Semesta di kala matahari belum naik sepenggal. Bersujud dan bercerita kepadaNya, kepada bundamu yang lama tiada. Namun, secuil ketenangan pun tetap tidak dapat kau temukan.

Terkenang olehmu peliknya masa muda yang pernah dijalani sebelumnya. Dua kali lamaran pernah kamu terima, dua kali pula acara pernikahan itu gagal. Pria alim yang pertama kali melamarmu terserang angin duduk lima jam sebelum ijab kabul dilaksanakan. Pria rupawan kedua raib entah kemana seminggu usai lamaran digelar. Tapi kamu tidak jera dan merasa kalah. Kamu berpegang pada nasihat bundamu jikalau jodoh bukanlah sepenuhnya hak manusia.

Sayangnya, nasihat itu kini tidak lagi berguna. Detakmu kian melambat, sedangkan detik melaju cepat. Ingin sekali kamu mendatangi rumah priamu dan meminta kepastian dari ibu bapaknya, tetapi kakimu berat sebab sedari awal keluarganya tidak pernah memberimu kesempatan untuk jadi bagian dari mereka. Entah kenapa kamu berani mengambil risiko segila itu, merencanakan pernikahan tanpa restu dari calon keluarga. Sedihnya, ayahmu tidak tahu menahu soal ini, dia memercayai ucapan orang asing yang lelakimu sewa untuk melamarmu ke rumah.

Besok seharusnya pernikahan dan resepsi akan berlangsung khidmat. Sedari tadi kamu tidak beranjak dari kasur, sementara di luar pintu kamarmu sanak-saudara berkumpul, mereka repot menyiapkan apa saja, dari perihal tetek bengek sampai yang paling krusial. Mereka sibuk masak-masak sembari menceritakan perkara jodohmu akhirnya tiba juga.

Kamu mengunci diri, menyiapkan kekuatan dan keberanian untuk menghadap ayahmu di ruang tengah. Semalam tadi, kamu tak henti-hentinya menangis, dan berdoa besok hari terakhirmu di dunia. Namun, kau tetap terbangun untuk menyelesaikan kesalahan yang engkau buat sendiri. Detak semakin melemah. Detik kian cepat.

"Ayah, Mas Ari ternyata punya istri," katamu sambil menangis.

Ruang yang semula berisik kini menjadi hening membisu. Selepas kamu menyampaikan berita buruk itu, kamu jatuh tersungkur di pangkuan beliau. Saat itulah, detik pun berhenti bersama detak.

Sore kelabu. Tenda dan pelaminan yang semula dipasang kembali dibongkar, janur kuning dilepas dari bambu melengkung, diganti bendera kuning yang dipasang di pagar rumah. Wanita-wanita paruh baya pun menandangi rumahmu, para suami mengisi kaleng di samping jenazah tertutup kain batik, dan kamu tertunduk lesu di depannya. Kamu menyesali detakmu yang masih ada.


Ditulis dalam rangka #30HMNAD_2020.




Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar