Laporkan Penyalahgunaan

Tags

Recent Posts

Recent Comments

Nature

Facebook

Popular Posts

Drama Gerbong Kereta

Posting Komentar

I

Aku mengamati besi tua di hadapanku, setua diriku, kata istriku yang selalu menuntut ini itu. Berkat dia, kini, kami punya anak gadis yang tidak tahu berterima kasih. Dia yang membuatku sebal sepanjang hari.

Tiket ini kubeli dengan kerja susah payah, bahkan tak sedikit pun dihargai. Janganlah kau tuduh aku macam-macam. Aku rela keringatan, dua hari dua malam juga puasa mengudut. Ah, andai kata duit itu kupakai membeli sarung kelamin, lalu aku singgah ke warung dekat kebun sawit, menyewa wanita bahenol yang wajahnya diamplas dengan bedak tiga inci, aku pasti tidak berada di sini. Tidak mungkin aku merana macam monyet goblok. 

"Istriku bilang aku tua, tapi nyatanya aku pria bebas berjiwa muda. Sebab apa? Itu karena aku menikmati hidupku, icip-icip daun-daun muda." Terkenang nasihat yang pernah kusampaikan pada Bejo, kernet andalanku. Dia mesti banyak berguru pada kisah-kisah petualanganku.

Ilustrasi by Pixabay.


II

Aku tidak bisa tenang semenjak si Ompong Botak itu duduk di depanku. Tuhan kenapa engkau semakin jenaka sekarang? Biasanya aku dikunjungi orang yang masih muda, masih kuat, masih bahagia, kenapa yang datang malah manusia keriput yang cengar-cengir tidak jelas ini?

Si tua bangka itu menghalangi pemandangan sore yang lindap. Aku ingin melepas karat, aku ingin mengenang tawa-tawa manja kala beberapa penumpang perempuan bergurau di hadapan suaminya, aku ingin mengenang mana kala gadis-gadis tidur di bahu lelakinya, bermimpi jadi sang putri, hidup bahagia sentosa, tanpa diselingkuhi. Aku mencatat kenangan-kenangan manis mereka, termasuk kisah Tuan Belanda, si pengkhianat! Cuih, barang rongsok sepertiku masih lebih untung daripada pengkhianat yang gonta-ganti pasangan.

Ah, lupakan! baiknya mengaso barang sebentar.


III

Dasar suami tidak tahu malu! Dipikirnya dengan membeli secarik kertas itu bisa membuat putri semata wayang kami senang? Aku harap dia tak pulang lagi. Terserah mau ke mana, biar dia pergi ke Hongkong sekalian, masa bodoh. Dia pikir aku tidak tahu kelakuannya di jalan selama ini? Bukannya mondar-mandir ke masjid, bertobat, jadi panutan anak-anak, eh malah tua-tua keladi, genit. Lihatlah, tiket itu saking tidak ikhlas, sekarang dimanfaatkannya sendiri.

Celaka! Apa dia hendak janjian dengan wanita semok di sana? Sudah kuduga, itu pasti akal-akalannya datang ke museum supaya bisa bertemu wanita-wanita bodoh itu. Kalau tidak bodoh, kenapa pula dia mau menemui si ompong gila?

IV

Abah sama sekali tidak mengerti. Maksud saya meminta tiket itu, supaya Abah mau pulang ke rumah, duduk di meja makan, mengobrol dengan Umi. Lagi pula, umurnya sudah setengah abad, harusnya bukan waktunya lagi kelayapan memakai alibi lembur kerja. Iya, betul, saya memang butuh tiket itu. Tapi dua hari yang lalu, pacar saya sudah berjanji membelikannya. Jadi sekarang saya lebih baik bersama dia, daripada jalan-jalan sendirian.

***


I

Jongkok satu jam di sini rasanya tidak berguna. Dari jam setengah tiga tadi aku merenung, belum kelihatan seorang pun mampir ke sebelah sini. Sungguh malang kau benda kuno, dekil, dan jelek. Coba tengok, di antara koleksi antik dan lusuh pun kau masih paling kalah bersaing. Yang pasti nasibku tidak mungkin macam kau. Hahaha, aku masih laku di kalangan cewek-cewek belia.

Kurang ajar, dari mana suara berderit-derit itu? besi jelek ini pasti sedang meledekku.


II 

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Biar aku muak menatap kakek sinting di depan sini, tetapi di dalam tubuhku ada pemandangan lain yang sungguh menyegarkan mata. Amboi! Dia remaja yang anggun, walaupun  pacarnya tidak bagus-bagus amat. Setidaknya aku bersyukur masih melihat insan muda sedang berkasih-kasihan, terkenang olehku dahulu pernah mengangkut gadis pemetik kebun kopi, yang diam-diam menaruh hati pada Tuan Belanda bajingan.


III 

Hampir saja aku berteriak kaget gara-gara petugas jaga di sini menepuk bahuku dari belakang. Pengintaianku nyaris ketahuan oleh botak tidak tahu diri itu. Aku tidak bisa membayangkan seumpama dia melihatku mengintip dari balik dinding ini. Lelaki itu tentu makin jumawa, seakan-akan diperebutkan, padahal aku hanya ingin tahu saja secantik apa orang yang ditemuinya.


IV 

Saya sering merasa dicintai setiap kali bersama lelaki ini. Di rumah, hidup saya tidak bahagia. Umi tak henti-hentinya mengomel, Abah pulang cuma seminggu tiga kali, dan pada siapa lagi kalau bukan kepada orang ini saya berbagi keluh-kesah. Saya biarkan dia ingin melakukan apa saja ke tubuh saya walaupun kami mesti diam-diam di dalam gerbong ini, bersembunyi-sembunyi. Pacar saya tidak berani menyewa hotel. Ia takut digrebek Pol PP. Di gudang bekas juga dia tetap tak berani, takut ketahuan warga melintas, katanya. Alhasil, tempat inilah yang kami pilih. Menikmati madu tanpa harus mencuri dari lebah.

***


I

Meskipun aku ini sudah tua, tapi kedua kupingku belum pekak apalagi tuli. Kurasa ada yang janggal di dalam gerbong tua ini. Telingaku menangkap bunyi derat, desah, dan astaga! Tidak salah lagi, benda ini tampak bergerak-gerak kecil. Hahaha, aku benar-benar masih muda buat menonton sirkus manusia.


II

Terpujilah kau, Dewa Amor. Panahnya melesat ke dada sepasang manusia yang dimabuk  asmara. Mereka sedang bercinta di dalam tubuhku yang pengap ini. Sanggup pula mereka mengendus debu-debu lima dasawarsa. Terulang kembali kenangan gadis pemetik kopi sebelum ia terjebak dunia pergundikan.

Lah, lah, lah, kenapa botak ompong ini mau mendekat, ganggu orang saja!


III 

Oh, rupanya suamiku janjian di dalam kotak besi itu. Lihat, dia bahkan berani  melewati garis pembatas. Ckckck, ternyata perempuan bodoh yang dia nantikan bersembunyi di dalam sana. Siap-siap saja aku akan melabrak mereka. Bakal kujambak rambut lelaki setan itu!


IV 

Dia mulai merengkuh tubuh saya yang diam, saya pun menikmati sentuhan-sentuhannya. Tiada henti-hentinya saya memuji surga yang diciptakan Tuhan. Baru hari ini saya tersadar, jika surga bukan di telapak kaki Umi, seperti orang-orang katakan, surga sebenarnya tersembunyi di tubuh laki-laki ini.


****

"Kurang ajar kau, Bejo! Katamu mau mengantar istrimu, makanya kau izin hari ini. Ternyata kau sedang merusak putriku!" Si Botak naik darah. Wajahnya memerah bak tomat masak. Tinju kurus yang ia genggam dengan cepat melesat ke batang hidung pria setengah telanjang itu.

Dritttttt, tubuhku bergoyang-goyang dinaiki tiga orang sekaligus. Tak lama datang lagi satu orang. Dia mengenakan kacamata gelap, dan topi hitam,  kemudian ia buru-buru memanjat tubuhku.

"Astagfirullahal-azim! Ya Allah Sumi, Sumii ... Umi tidak menyangka kamu di sini!"

"Abah, Umi." Gadis itu kemalu-maluan karena tertangkap basah. Ia lekas memasang bajunya.

 "Maafkan Sumii....Ampun, " kata si Gadis menangis-nangis sembari sujud di kaki orang tuanya.

"Saripah? Kok kamu di sini?" tanya lelaki botak heran.

Dritttt, riitttt... Sekarang ada empat orang di atas tubuhku. Tumpuanku sudah tidak kuat lagi menahan mereka. Keempatnya  masih sibuk bermain drama keluarga.

"Diam kau Paijo! Ini gara-gara kau tidak bisa mendidik anak!"

Brak, anjlok juga akhirnya keempat kakiku. Mereka terguling-guling di dalam sana. Hening, tak ada suara lagi. Ah, terulang kembali drama enam puluh tahun sebelumnya.


Ditulis dalam rangka #NAD_30HariMenulis2020 di hari ke-17. 

Eki Saputra
Eki Saputra (EI), pemilik hobi menulis ini lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Ia aktif dalam menulis opini, puisi, dan cerpen di berbagai media. Artikelnya pernah diterbitkan di koran Tribun Sumsel dan laman Kompasiana dan Hipwee.

Related Posts

Posting Komentar